Langsung ke konten utama

Maling Imut dan Unyu-Unyu

Mudik lebaran ? Ini tips dari Cak Lontong, usahakan rumah terkunci dan diri anda berada di luar rumah, bawa pakaian seperlunya karena ini judulnya mudik bukan minggat, bawa barang bawaan yang tdk merepotkan di perjalanan, seperti kulkas, kursi, meja, itu tidak penting, jangan menerima air atau makanan dari orang asing selama di perjalanan, bila perlu minta mentahnya saja, dan yang menggunakan pesawat dan kapal laut jangan sekali-sekali turun di tengah jalan dan yang terakhir dan yang paling penting jika anda mudik pastikan anda memiliki kampung halaman. Hahaha, tips yang segar dan lucu.

Namun kelucuan itu akan segera sirna jika anda pulang dari mudik dan mendapatkan rumah dalam keadaan kosong, semua telah di jarah oleh tangan-tangan jahil.

Beberapa bulan ini keadaan di Kota Kendari seakan mengalami kisah misteri yang terus berseri.
Pencurian di beberapa rumah yang berpenghuni maupun yang tidak berpenghuni, yang tertidur ataupun yang meninggalkan rumah untuk kerja.
Jadi ingat kata-kata Bang Napi "Kejahatan terjadi bukan karena niat pelakunya, tapi adanya kesempatan, waspadalah-waspadalah!" Dan itu 100% benar.

Berdasarkan pengalaman dari beberapa kejadian pencurian yang terjadi, selalu menggunakan modus yang sama dan sederhana "Kurang Waspada" dan memberikan peluang dan kesempatan bagi pencuri bertindak semaunya. Misalnya, hanya memakai pengaman pintu yang tidak ber-SNI, hingga sekali congkel rumah bisa dimasuki, faktor lupa: lupa kunci, lupa tutup jendela, lupa waktu hingga rumah dibiarkan sendirian dan menyepi, membiarkan lubang ventilasi udara terbuka hingga nyamuk sebesar gajah mudah masuk dan sebagainya.

Hal ini juga dibenarkan oleh pelaku pencurian yang berhasil diinterogasi oleh pihak kepolisian, pada umumnya pelaku hanya melakukan patroli di rumah-rumah yang dianggap sepi dan ketika ada kesempatan seketika itu juga langsung bertindak, jadi kesannya spontanitas dan nekatitas.

Dan uniknya para pelaku ini masih di bawah umur, usia sekolah menengah pertama hingga sekolah menengah atas yang masih belum pantas menerima hukuman pidana, alhasil sekali tertangkap tangan sekali itu pula lepas, karena perundang-undangan di Indonesia masih melindungi anak-anak usia sekolah dan di bawah asuhan orang tua.

Sebenarnya apa sih yang salah dalam hal ini? Orang tua yang tidak bisa mendidik anak-anak, atau pihak kepolisian yang tak beres dalam melaksanakan tugas kemasyarakatan, perundang-undangan yang tidak bisa mengcover hal tersebut atau si empunya rumah yang tidak becus menjaga rumahnya?
Untuk itu biar Cak Lontong yang akan menjawabnya.

Yang harus digarisbawahi adalah bagaimana cara agar kejadian itu tidak terjadi pada diri kita.

Berdasarkan modus operandi yang digunakan mereka (pelaku ini) hanya bertindak saat patroli yaitu pada malam-malam rawan jam 00-04 dini hari, jadi jika ada anak-anak yang berkeliaran jam tersebut sudah wajib dicurigai.

Selanjutnya pelaku ini selalu bekerja berdasarkan kelompok, maksimal 3 orang, orang pertama sebagai mata lalang yang mengenal TKP dan pengintai selama rekannya bekerja, orang kedua yang membuka atau memasuki rumah dan membuka rumah dari dalam atau bila perlu mencongkel pintu yang tdk ber-SNI, dan orang ketiga mengamankan barang-barang yang dibantu org kedua yang selanjutnya bertugas sebagai mata-mata di dalam rumah.
Jadi meski berpendidikan rendahan mereka telah mampu melaksanakan kegiatan organisasi, pembagian tugas yang efisien.

Barang-barang yang diambil adalah barang yang mudah dibawa dan gampang dijual, namun bisa diluar itu jika waktu dan situasi mendukung. Jadi pada umumnya barang tersebut HP, Laptop, Jam Tangan, Uang, Perhiasan, dsb.
Oleh karena itu usahakan menyimpan perhiasan di dalam berangkas atau uang pada Bank sedangkan HP,Laptop, dan Barang-barang yang berharga lainnya usahakan berada dalam kamar tidur yang terkunci dari dalam. Karena para pelaku akan segan memasuki kamar yang terkunci apalagi ada orang empunya rumah di dalamnya.

Usahakan selalu mencurigai anak-anak yang berkumpul di tempat-tempat tertentu, pada umumnya mereka yang memiliki reputasi buruk dgn kebiasaan seperti:merokok, main ps, ngelem, judi, mabok, balapan liar, ngeseks dan sebagainya yang dijadikan sebagai rutinitas sehari-hari.

Pada umumnya anak-anak ini usia sekolah namun mereka sdh putus sekolah karena masalah kemiskinan keluarga, sehingga mereka berinisiatif bekerja sebagai pengojek, tukang bangunan, atau tidak melakukan apapun sama sekali.

Dan jika suatu saat anak-anak ini tertangkap apa yang mesti dilakukan padanya, mengingat usianya muda dan masih panjang masa depannya. Ini suatu dilema yang unik jika diserahkan ke kepolisian, hanya hitungan jam saja mereka sudah bebas, namun jika dipukuli pelaku semakin bebal, dan penyakit mereka akan kambuh lagi. Jika kita membunuh pelaku berarti kita melakukan dosa, jika dinasehati baik-baik besok bukan hanya HP yang hilang bisa jadi kepala kita yang diinjaknya.

Suatu pemikiran yang gila, yang sempat tertangkap di otak ketika menangkap mereka, ingin membuat kalung dari jari kelingking dan jari manis mereka yang mungil agar bisa dijual sebagai cinderamata yang bernilai seni tinggi. Semoga saja mereka tetap lihai bagai tupai agar selalu menjadi misteri berseri di Kota yang damai ini, agar tak ada tangis tengah malam karena kehilangan jari-jari mungil itu. Hehehe.

Anak-anak adalah tunas muda, jika tunasnya saja sudah membusuk bagaimana jika kelak mereka sebesar pohon beringin, tentunya pohon itu akan ber-HANTU.

Maka Waspadalah-waspadalah...!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...