Langsung ke konten utama

TENTANG SEBUAH RASA

TENTANG SEBUAH RASA

Dengan bahasa apa kujelaskan agar kau mengerti perasaan ini:

'Gelora yang datang bergelombang bagai ombak memukul ruang tubuhmu.'

***

Pagi itu adalah hari yang cerah. Matahari seperti biasa di musim setelah penghujan. Jatuh lebih cerah di antara pepohonan Pucuk Merah. Burung-burung Kutilang berkejaran memburu serangga pertamanya lebih awal.

Di depan halaman yang berjejer pohon-pohon itu adalah jalanan padat beraspal dengan kaki-kaki mungil. Berseragam putih birunya. Mereka lebih segar dari rerumputan berembun. Atau lebih riang dari nyanyian burung bagi pepohonan.

Dan aku hanya dapat memantau dari balik jendela kaca kamar ini. Dengan masih memegang alat cukur di tangan kanan dan sesekali memandang mereka, juga wajah di sana-cermin persegi yang di baliknya kau mampu menyimpan segala macam barang. Mulai obat sakit kepala, obat luka, busa cukur, alat mandi. Apapun yang kau butuhkan secara cepat.

Sepasang mata tajam dengan bulu-bulu halus tampak tenang, berbalik memandang. Kening hitam tebal di atasnya, hidung agak mencuat keluar serta dagu persegi dengan bibir merah tersenyum. Siapa yang bakal menolak wajah tersenyum demikian indahnya. Tak ada.

Diumurku yang telah matang ini. Cambang dan kumis kadang harus lebih diperhatikan. Jika tidak mereka bakal merayap lebat bagai rumput di halaman yang tak berpenghuni.

Apalagi pekerjaanku memerlukan sentuhan seni yang tidak biasa. Penampilan bak seorang model namun jiwa penyanyang dan ramah. Bukankah itu perpaduan komplit?

Hari ini seperti biasa berangkat ke kantor jam tujuh kurang seperempat. Jangan telat dari itu. Jalanan di pagi hari-kerja cukup membuat suatu masalah tersendiri. Dan kantor perbankan tidak mentolerir alasan apa pun. Apalagi macet.

Seperti hari-hari biasa ketika berangkat kerja selalu saja ada yang ingin 'nebeng'. Maklum status sebagai bujang di akhir umur kepala dua menjadi incaran beberapa wanita. Tak terkecuali Janda Kembang beranak satu di samping rumah. Ini bisa jadi masalah atau bahkan sebuah keberuntungan.

Kedekatan ini tidak bisa kuungkapkan sekali ucap. Statusnya sebagai janda seorang anggota satuan keamanan yang masih nampak bersinar di awal empat puluhan, membuat suara berbisik-bisik--tetangga, siapa lagi? Namun dia seakan tidak peduli. Malah hal itu membuatnya semakin berani mendekatiku. 'Pucuk dicinta ulam tiba', kesempatan itu pun kumanfaatkan sebaik-baiknya.

Ibarat pepatah 'bagai ular dengan legundi', ia sangat terpikat padaku. Hingga tidak mengenal bahaya yang akan mengancamnya suatu saat. Sedangkan aku sebagaimana perumpamaan 'bakar tak berapi', cinta dengan tidak sebenarnya, cinta diam-diam, ah, bagaimana menggambarkan perasaan itu.

Jadi beginilah kejadiannya, seperti biasa kami bertiga berkendara bersama. Sang ibu dengan aura masa belianya yang tersisa, duduk di samping mobil yang kukendarai. Sementara Sisil berpita biru muda dengan kepang duanya duduk bermalas-malasan di jok belakang. Wajah itu persis ibunya. Mata bening-bulat, pipi tembem kekanak-kanakan, bibir merah muda dengan dagunya yang lucu. Mungkin itulah gambaran ibunya di umur-umur sekolah menengah pertamanya. Semuanya kupantau dari kaca spion di atas kepalaku.

"Dof, sudah siap?" tegur si janda, seakan mengingatkan waktu tidak akan pernah menunggu.

"Eh, ya, sudah siap semua? Sisil? Tiada yang terlupa?" sekali lagi berpura-pura bertanya sambil mengedipkan mata di kaca tersebut. Masih sempat kulihat ia mengkerucutkan bibirnya dan menggeleng manja. Ah, itu!

Belum beberapa lama mobil mengikuti arus lalu lintas ia kembali menarik perhatianku dengan suaranya yang lemah lembut. "Dof, kamu entar sibuk 'ngak?" katanya.

Waduh ini gawat bisa berarti sesuatu. Bisa jadi diajak ke mana-mana seperti kemarin-kemarin. Situasinya sungguh tidak menyenangkan. 'Menolak sepiring apel yang baru keluar dari lemari pendingin.'

Begitulah kejadian pada suatu siang yang aneh, dengan sopan kukatakan bahwa, "Kita belum lagi nikah!" dan ia  secara pandai menutupi harga dirinya yang terluka dengan senyum dipaksakan. Sementara pakaian yang terlanjur dilepaskan kembali dipakainya dibelakang pandanganku.

Bukannya aku tak bergairah padanya, sebagai lelaki pasti akan terpesona menatap lekuk tubuh yang bertelanjang di ranjang. Bisa dibilang ia tipikal wanita yang pandai menjaga kecantikan tubuhnya. Namun lagi-lagi ini masalah persepsi, ia terlalu berumur. Bagiku kemudaan adalah gairah. Suatu energi di luar sadar yang kadang menghasilkan rangsangan aneh. Menjalar dari entah menuju ke kedua selangkanganmu?

Dan akhir-akhir ini ia semakin menunjukkan gejala yang tak biasa. Apakah cinta apakah nafsu, karena jarang dibelai? Ini aku tidak berani memutuskan. Jadi kuambil jalan tengah-diam. Berpura-pura konsentrasi pada kendaraan di jalanan.

"Sebentar siang aku ada urusan di pengadilan agama. Kalau bisa Sisil kamu jemput ya?!" kata ibu berbaju ketat dengan rok pas badannya, setelah melihat aku hanya terdiam sesaat.

Mungkin juga ia bisa menebak ketakutanku padanya, mengingat kejadian-kejadian sebelumnya. Tapi aku tidak mau itu terjadi, maka dengan sepenuh hati kuberikan senyum terindah padanya.

"Iya, tidak masalah, iya kan, Sil? Om Dofmu ini yang akan menjemputmu nanti siang," sekali lagi kulihat bibir merahnya tersenyum-senyum, 'ia makin mirip ibunya,' pikirku.

Seperti janjiku siang ini kujemput Sisil, dan seperti siang-siang yang sama kami berkendara berdua saja tapi tanpa ibunya yang duduk di jok depan. Lalu kuminta ia duduk di depan, dengan keceriaan seorang anak yang polos ia di sana tertawa menceritakan kekonyolan teman-teman sekolahnya.

"Om, singgah beli es krim dong!" beberapa saat kemudian seperti biasa ia merengek manis. Siapa yang takkan gemas melihat wajah belia itu?

"Iya boleh, tapi syaratnya seperti kemarin," balasku dengan senyum gemas.

"Ih, Om gatel," ucapnya selalu begitu, sambil tersenyum nakal.

"Awas ya nanti Sisil laporin mama loh," candanya.

"Kalau gitu es krimnya tidak jadi deh!" aku pun mengancamnya secara halus. Dan ia hanya terdiam, entah apa yang ada dipikirannya.

Saat-saat kebersamaan ini adalah yang membuat kubetah bersamanya. Ia terlalu lengket padaku hingga kami tak bisa membedakan antara sayang dan nafsu. Hingga suatu ketika kami sempat tertangkap basah oleh ibunya ketika membantu Sisil mengikatkan tali sepatunya. Namun, dengan berdalih bahwa Sisil juga calon anak angkatku kejadian  itu bisa diabaikan.

Sesampainya di rumahnya, yang juga bersebelahan dengan rumahku. Kuhentikan mobil dengan tergesa-gesa. Gelora atau gairah aneh apa yang kini timbul tanpa diundang. Bergetar secara simultan dari ujung kaki hingga ke ujung kepala ....

'Gelora yang datang bergelombang bagai ombak memukul ruang tubuhmu.'

Bahasa apa yang mesti menyederhanakan kalimat tersebut. Aku pun tak tahu, hanya rasanya begitu mengusik bagai angin sepoi-sepoi yang lalu lalang di ubun-ubun.

Dan kejadian seperti kemarin pun terulang. Awalnya ia menolak secara kekanakan, namun dengan semua cokelat dan es krim tersebut akhirnya ia pasrah. Dan ....

Ah, kau pasti tahu apa yang dilakukan sebuah tangan lelaki jika dihadapkan pada sepiring apel yang baru saja keluar dari lemari pendingin 'kan?

Namun firasatku kali ini tidak enak. Seperti ketakutan dari bawah sadarmu mengatakan sesuatu tapi tidak jelas. Dan itulah kekurangan laki-laki seperti aku ini, tentu ini yang paling berbahaya. Terlampau mabuk gairah. Konak bagai onak yang berdenyut-denyut di kepala. Dan seorang lelaki haruslah memegang pepatah ini, 'hawa pantang kerendahan, nafsu pantang kekurangan,' yang berarti hawa nafsu tidak boleh diremehkan harus dijaga sebaik-baiknya.

Di saat-saat Sisil sibuk mengunyah es krimnya, dan aku sibuk memuaskan rasa itu ....

Sebuah gebrakan keras menghantam pintu ruang tamu. Lalu lelaki berbadan besar bagai bayangan nampak di sana. Dan kau tahu pasti apa yang terjadi selanjutnya. Seseorang yang mengaku ayah Sisil berdiri dengan kemurkaan bagai penjaga neraka. Matanya merah saga mengancam, seakan-akan hukuman mati telah ia jatuhkan kepadaku.

Cerita punya cerita, ini hanyalah skenario si Janda Kembang yang cemburu. Dengan insting keibuannya, ia dapat menebak sifatku yang bejat pada anaknya, tapi tidak padanya.

Dan Tuhan akhirnya berkehendak, vonis telah dijatuhkan dengan penjara badan selama lima belas tahun atau dengan denda sebesar lima milyar rupiah. Ditambah hukuman bonus yang aku tidak ketahui sebelumnya. Hal itu terjadi ketika menjalani hari-hari di ruang penjara. Barulah kiamat sesungguhnya terasa. Itu suatu hal yang benar-benar menyakitkan. Hanya satu kata untuk melukiskan rasa tersebut. 'PERIH'. Dan itu dilakukan oleh para 'gigolo-penjara sialan.'

Lalu dengan bahasa apa kujelaskan agar kau mengerti perasaan ini?

IBNU NAFISAH
Kendari, 18 Maret 2017

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...