Langsung ke konten utama

PERBINCANGAN MALAM 2

#Mentari_Tak_Bersinar 2

Kejadian itu sepertinya baru terjadi semalam. Karena perihnya masih meradang hingga kini. Kau akhirnya membuat pilihan buat kita.

Menjadi langit tanpa batas dan aku mentari tak bersinar.

Mencoba berjuang melepaskan diri dari belenggu khayal yang tak kumengerti. Bahkan alasan maya menjadikan diri terdakwa sesalah-salahnya.

Kau meminta kebebasan atas penjara yang dulu engkau sendiri rela masuk tanpa paksaan. Tanpa prasangka. Suka rela. Atas dasar apa, aku tidak pikir saat itu. Cintakah? Atau kenyamanan yang berakhir, 'ini tidak seperti dugaanku', dalam benakmu ujungnya.

Masih saja luka ini menganga. Seperti seorang pengidap penyakit gula. Tak mengijinkan sebuah luka tertutup rapat, bahkan mungkin saja jadi pencetus awal munculnya belatung yang entah dari mana datangnya.

Di malam sepi-kaku. Angin berhembus beku. Kulit yang melekat ini seperti merana diterpa sang bayu. Sebagai mana rumah kosong nan sunyi. Tiada perabot dan juga hening.

Ini sudah hampir dua tahun sejak kejadian malam itu. Malam yang membuat duniaku pontang-panting. Bayangkan dunia tanpa mentari atau langit tanpa cahaya. Sejauh mata memandang hanya gelap gulita. Ada setitik cahaya berkedip di balik awan, tapi tetap saja bernama malam dan malam selalu gelap, redup.

Hingga akhirnya aku muak menjadi mentari. Seperti kayu lelah terbakar, aku pun lama-kelamaan hanya menjadi bara dingin. Ya, sebuah bara hitam legam ketika engkau pegang jarimu pun menjadi hitam kelam.

Aku mulai menisik dan menyulam tambalan kesalahan yang kemarin. Namun tak tahu harus dimulai di mana. Karena sejak awal ini sudah salah. Yah, sebuah kesalahan yang biasa terjadi dalam masyarakat. Orang-orang. Keluarga. Tentu saja aku sendiri.

Tidak. Tidak. Ini bukan kesalahan mereka. Orang tuaku yang menginginkan seorang mantu yang sayang pada mereka juga. Mereka hanya memberi masukan tentang pilihan hidup ke depan buatku.

"Ananda!"

Sapa bunda kala itu, dengan suara serak seperti memohon pada seseorang, bukan untuk kepentingannya pribadi. Tapi, lebih pada kebahagiaan anak kesayangannya. Aku pun bersujud dihadapannya. Seperti berada di dalam rahim. Rasa purba yang tenang sepi tak ingin terpisah dari alam magis itu.

"Iya Bunda," aku balas panggilan lemah itu dengan lebih ingin merasakan apa gerangan bunyi degup jantungnya belaka.

"Bundamu ini sudah terlalu letih dengan kehidupan. Sebentar lagi mungkin hanya tinggal nama. Ananda pun sudah besar. Rumah ini semakin lapang saja."

Dari lirikan yang begitu pilu aku tahu bunda menginginkan sesuatu yang cukup berat bila ditimbang. Namun, adakah rasa yang mesti harus ditimbang jika seorang bunda telah meminta? Kurasa seorang bebal pun tak sudi menimbang-nimbang rasa yang seperti itu. Tapi cukup membuat seorang anak mengerang dan meradang.

"Adakah engkau sudah berpikir untuk menikah?" Bunda bertanya dengan sangat hati-hati, terlihat dari ceruk matanya yang mulai awas oleh usia, kemudian lanjutnya, "seorang yang kau manjakan selain bunda, menceriakan sudut rumah ini dengan tangisan seorang cucu? Sudahkah itu ada?"

Pertanyaan yang bertubi-tubi membuat lidah ini kering. Aku terdiam. Mengamati bibir tuanya yang mulai mengkerut. Rambut sebagian besar juga telah lelah. Lelah menghitamkan diri lalu pasrah pada kehendak alam. Oh, bunda kau begitu rapuh kali ini. Tak sanggup aku memecahkan kerapuhan ini. Apa jadinya jika aku salah berkata-kata di depanmu. Kau hanyalah kaca, sekali tetak tentu pecah. Tidak. Ini terlalu riskan buatku.

"Dengarkan Bunda, kau kini pahlawan di hati Bunda saat ini. Lalu Bunda hanya seorang papa tiada arti dalam usia senja ini. Jauh dulu, saat usia Bunda masih amat belia. Masih ingin bermain bersama teman-teman, kakekmu, telah membuat sebuah keputusan." Suaranya terdengar parau dan jauh seperti berada di pedalaman waktu lampau.

Dengan sangat pelan ia berbisik, "keputusan yang sungguh penting dalam hidup. Menikah. Dipertemukan oleh seorang lelaki yang tak Bunda kenal-mengenal, bahkan melihatnya di sebuah jalan saban hari. Tidak. Tiada yang tahu dia dari planet apa dan bahasa apa yang mereka pakai. Tapi, apalah Bunda ini. Hanya seorang anak dengan beberapa saudara yang mesti diberi makan. Jika Bunda mengikuti isi hati tentu saja ini sebuah penolakan mentah-mentah." Sesekali bunda menarik napas cukup dalam. Mungkin butuh mental yang kuat untuk mengungkapkan ini kembali. Atau ia telah terlempar di masa itu. Masa pedih itu.

"Kakekmu, beliau sungguh kuat pendirian. Laksana karang di lautan lepas. Tak ada ombak yang mampu menggoyahkan kekalnya di dasar pasir. Bunda hanya anak ikan di cekungnya yang dalam."

"Kemana air mengarus ke sanalah ia. Demi menyenangkan karang tua nan lemah itu."

"Seperti Bunda sekarang?" Timpalku pada wanita yang kini mulai beranjak  lebih dari setengah abad itu.

"Iya, seperti apa yang kau lihat sekarang." Sebuah senyuman setengah penuh di sudut pipinya yang kian kendur.

"Kala itu," bunda kembali bercerita, "anak-anak tidak seperti anak-anak sekarang. Orang tuanya adalah segalanya. Kata seorang tua adalah petuah yang pantang buat dilanggar."

"Ampun Bunda, saya tidak berani melanggar," kataku dengan cepat seakan kalimatnya menyinggung jiwa yang hanya terdiam menanggapi pertanyaannya barusan.

"Semoga Ananda, dan begitulah akhirnya," kedua lengannya membuka seakan menyatakan akhir suatu perjalanan panjang, "lamaran, perkawinan, kehidupan berkembang dan kamu lahir di dunia. Sampai saat itu hidup Bunda bagai dandelion yang terbang dan tak tahu apa-apa. Tiba-tiba telah sampai di bukit. Sebentar lagi Bunda akan tertiup angin dan ssssttt..." Sebuah suara diiringi sebuah telunjuk terangkat ke udara bebas menandakan waktu kepergian yang tak akan lama di kemudian hari.

Kuikuti telunjuk itu hingga ke langit-langit, lalu mataku menyapu dinding kamar. Seperti telah diatur dua sinar mata saling berpaut, kemudian lanjutnya, "kau mengertikan kemana dandelion akan pergi. Nah, seperti itulah yang akan terjadi."

Hatiku semakin dingin menggigil mendengar kalimat tanya itu. Aku tak ingin menjawab ke mana dandelion itu pergi. Aku masih ingin mengelus bulir-bulir kasih rentahnya. Setidaknya membalas jasa hidupnya yang selama kecil hingga melahirkan aku, terus menderita. Meski itu hanya kalimat, 'Ananda sayang Bunda'.

Kurapatkan lagi kedua kakinya dan kuberi kecupan pada lutut rentahnya. Dalam duduknya di ranjang yang kadang berderit karena papan dipan itu bergesekan, Bunda membelai rambutku yang kelam. Aku bukan lagi anak kemarin yang ia gendong dan susui. Kini aku seorang pribadi yang tak mudah dikira arah anginnya.

Dalam posisi sedekat itulah kami sering bercakap-cakap dari hati ke hati. Sangat-sangat akrab sekaligus sangat-sangat berjarak. Seperti sebuah pintu dengan jenjang anak tangga yang menjuntai dihadapannya.

Atau seperti nelayan di atas perahu yang kadang tergerus arus dan terkadang terbawa ombak. Sedangkan Bunda adalah samudra luas. Sewaktu-waktu mampu beriak menimbulkan gelombang pasang yang tak terkira dahsyatnya bagi jiwaku.

Samudra itu mampu membaca arah tiang layar nelayan. Sedangkan sang nelayan tak sedikitpun memberanikan diri menceburkan diri kedalamnya meski ikan dan karang nampak jelas di sana. Ia tahu sang nelayan sedang bermain-main dengan anak kailnya. Sedang asyik masyuk bermain hati dengan ranjau jaringnya. Bunda tahu sesuatu tentangku. Tentang pujaan hatiku. Besar kemungkinan ia tidak setuju, dan lebih mungkin lagi calon itu sudah matang di pohon pikirnya saat ini. Dugaanku.

Pembicaraan itu membuat dilema semakin besar di dalam jiwa. Bunda tidak mengatakan sesegera mungkin calon itu, tapi menunggu waktu yang tepat pikirku. Bagaimana nasib cintaku. Akankah aku menjadi seorang pejuang cinta dan seorang durhaka sekaligus.
Atau kembali sadar dan menyerahkan segala cinta yang telah ada sejak lahir kurenggut selama masih dalam rahim. Lalu menumbuhkan di tempat semestinya cinta sejati bermukim. Ya. Cinta bunda seorang kepadaku, dengan wanita yang tentu telah lama ia restui. Tanpa sepengetahuan dan kehendakku.

Kembali malam menerpa dinding. Membuat bulu kuduk semakin merinding. Kutatap langit. Langit hanya gelap. Tanpa rembulan di sana. Bahkan setitik bintang berkedip.

'Jangan sedih', batinku meraung. Namun, nyatanya hatiku menangis seperti di malam dua tahun yang lalu.

'Jangan sedih!'

Kali ini mataku yang berkata pedih.
Perih.

IBNU NAFISAH
Kendari, 20 Agustus 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...