"Pergi kencing Oom!"
Loh! Anak itu menatap bola mataku dan aku tepat menemukan titik hitam di sana. Ada apa? Pernyataan itu belum sempat terproses dalam otakku.
Hal itu terjadi ketika kedua sandal jepitku baru saja menginjakkan dirinya di depan masjid. Sepeda motor pun baru diparkir di sisi bangunan berkuba itu. Dari halaman suara qamat berkumandang tanpa alat pembesar suara. Gaungnya jernih, semakin membuat kedua kaki ini terseret masuk ke dalam.
Di saat semua jamaah mulai merapatkan barisan saf, dua orang anak begitu saja menanggalkan sepeda BMX tuanya di depan pagar geser. Secara spontan kutatap matanya yang lugu. Tanpa takut dan ragu ia balik menatap. Wah, tatapannya menusuk hingga ke hati. Umur mereka mungkin saja seperlima dari umurku dan ia berucap santai seperti menyapa teman karib ketika hendak keluar dari ruang kelasnya. Lalu dengan sangat tiba-tiba kalimat itu begitu saja terucap.
"Pergi kencing, Oom!"
"...?!"
'Hei itukan pagar bambu? Ngapain?', batinku komentar, belum paham.
Anak pertama berlalu disusul anak kedua dan selanjutnya? Aku hilang ke dalam, terbenam dalam lantai hijau kelam.
Satu saf telah terisi penuh dan satu saf berikutnya masih setengah kosong, disitulah kedua kaki ini berdiri menghadap-Nya.
Belum beberapa lama ibadah itu berlangsung beberapa bocah cilik berlarian melengkapi saf yang masih kosong di sampingku. Aku pun mulai hilang konsentrasi. Dasar anak-anak selalu buat suara yang aneh-aneh.
Setelah salam terakhir, barulah nampak siapa anak itu. Ia anak yang tadi di depan masjid. Sekarang saya baru sadar ternyata ia minta ijin buat buang air kecil. Walah-walah, dasar anak-anak kelakuannya aneh-aneh tapi tetap saja wajar di mata kita. Aku iri melihatnya.
Kini yang jadi masalah mereka sempat wudhu, tidak? Waduh, bodoh amat, namanya juga anak-anak selama belum mengerti itu bukan masalah. Sekali lagi aku iri.
IBNU NAFISAH
Kendari, 19 Agustus 2016
Komentar
Posting Komentar