Langsung ke konten utama

KABAR DUKA YANG KEDUA

KABAR DUKA YANG KEDUA

"Bagiku mas Pri sudah meninggal sejak beberapa bulan kemarin!" Suara sumbang Rara terdengar serak juga halus. Dingin.

"..."

"Saat berita duka itu menyeret namamu ..!"

Suaranya seketika hilang. Air matanya masih mengalir. Tapi senyuman itu masih mengambang seperti pertama kali ia menikah.
***

Rumah yang bertingkat tiga dengan halaman seluas lapangan sepakbola itu tiba-tiba membuat dada Rila sesak. Ia tahu kemana jalan pikiran Rara, kakaknya. 

Situasi ini seakan membuatnya bingung. Awalnya ia berharap akan melihat seorang wanita gila di dalam istananya yang megah. Karena kehilangan sang suami tercinta. Tapi kenyataannya terbalik 180 derajat. Kini ia wanita yang satu-satunya dibuat tak bisa berkata-kata.

"Bukankah aku sudah memberikan engkau contoh nyata saat itu?"

Suara Rara terdengar berat namun masih menatapnya melalui cermin di depannya. Memperhatikan tiap gerakan Rila dengan seksama.

"Kau seperti melupakan apa yang terjadi pada Rani." Lanjut Rara. Kali ini sebungkus rokok keluar dari laci di depan cermin itu. Menjentikkan jari pada korek gas dan asap mengepul di bibirnya yang merah. Air matanya masih basah di sana. 

"Sekretaris itu ia pikir aku hanya wanita bodoh yang duduk manis di rumah mewah ini. Ia salah besar." Sekali lagi asap mengepul di cermin yang bercahaya lembut itu.

Secara perlahan ia memutar kursi riasnya menghadap ke arah Rila. 

"Dan kau Rila, kau belum belajar banyak dari Rani. Kupikir saudara tidak memakai bangkai saudaranya sendiri. Ternyata aku salah." 

Wajah pucat Rara tajam menghujam wanita yang terlihat rapuh di depannya itu. Rila tertunduk malu.

Ia ingat sekali bagaimana saat mereka bahu-membahu dengan Rara menyelidiki kasus Rani yang licin itu.

Ketika itu tanda-tanda sudah mulai nampak. Orang yang menyenbunyikan bangkai kadang tak sadar kalau bau bangkai itu menyengat. Begitu juga dengan Priyanto. Beberapa hari tampak berubah. Keanehan terjadi secara tak sengaja. Beberapa kali tiba-tiba rapat mendadak di saat waktu yang janggal. Tentu saja semua itu dimulai dari sekretaris pribadi Priyanto. Awalnya itu dianggap hal biasa. Kesibukan yang tiba-tiba pada bisnis properti seperti hanya bermain-main. Suatu ketika terbang ke daerah hanya sekadar meninjau lokasi baru. Namun kebiasaan yang tak biasa juga berulang.

"Ada lahan persawahan yang ingin aku lihat di Bali. Kamu mau ikut, emm, atau tidak usah saja yah, soalnya ini mendesak."

Kalimat seperti itu selalu terulang. Awalnya menawarkan. Akhirnya mengatakan hal itu harus segera. Jadi tak ada waktu. Satu dua kali itu bisa dimaklumi. Namun jika itu dilakukan berulang permainan akan terbaca. 

Naas. Untuk kesekian kalinya dan entah yang beberapa kalinya mereka telah berbohong.

Malam itu tepat di malam hari. Suasananya nyaman untuk berkumpul seperti biasa di atas atap pinggir kolam. Asap dari pembakaran barbeque mengepul. Beberapa teman hadir di sana termasuk Rani. Obrolan santai terjadi di sana. Hingga tiba-tiba ...

"Mas Pri, kita ada klien nih. Apa mau dicancel atau gimana?"

Suara Rani tiba-tiba terdengar pelan namun cukup terdengar oleh beberapa orang saat itu. Termasuk Rara, sang istri dan Rila adiknya.

"Oh, iya, ada lagi? Emm .., baiknya bagaimana ya? Kita lagi di sini. Emm .., kamu handle dulu nanti kalau ada apa-apa telpon saja."

Priyanto yang saat itu ditembak oleh Rani di depan sang istri menjadi agak kaget. Namun karena sudah biasa, ia pandai juga memainkan perannya dengan baik.

Rara hanya tersenyum. Sesekali berpura-pura membalikkan daging panggang dan mengolesinya dengan saos kecap lada hitam. 

"Daging itu kayaknya sudah matang dari luar, warnanya sudah cokelat," kata Rila sambil menyenggol lengan kakaknya dengan sengaja.

"Tahan dulu. Biarkan beberapa menit. Satu itu biar matang dulu. Kalau yang satu itu pasti akan menyusul." Balas Rara sambil menatap Priyanto melalui asap yang mengepul.

Tepat lima belas menit kemudian gadget Priyanto berbunyi.

"Iya bagaimana? Oh iya saya segera kesana!"

"Sayang aku ada janji bertemu, Rani bilang ia butuh aku di sana. Aku pergi dulu ya!" Sebuah ciuman di pipi Rara dan senyuman di bibir melepas kepergian Priyanto.

"Tunggu lima menit setelah coklat, angkat dagingnya," kata Rara pada adiknya ketika sang suami telah bergegas ke lantai bawah.

Setelah dua puluh menit tak ada gerakan lebih lanjut lagi. Mereka masih duduk menikmati angin malam lengkap dengan bintang di langit. Beberapa sahabat sedang menyantap makanan utama dengan obrolan ringan. Rara dan Rila pun rileks bercanda dengan sahabat dekat mereka.

Malam itu begitu ceria meski minus Priyanto dan Rani. Beberapa lilin teratai yang sejak tadi menyala di kolam nampak telah padam. Begitu juga orang-orang sudah mulai pulang untuk melanjutkan malam panjang mereka masing-masing.

Rara membuka gadget di tangan dan sebuah titik merah menyala  di peta layar. Titik itu tak bergerak hanya berkedip sesekali. Menunjukkan jalan, hotel, kilometer dan jarak tempuh dari titik awal hingga titik merah tersebut.

"Keduanya cuma beberapa blok dari sini, kamu hubungi Tejo. Segera!"

Rila bergegas memanggil Tejo yang ternyata sudah siap di atas kendaraan di dalam garasi.

Hotel yang sedang mereka tujuh hanya berjarak lima ratus meter dari kediaman pengusaha ternama itu. Tanpa banyak halangan Rara sudah berada di depan kamar 105. Entah bagaimana Tejo mampu menyamar sebagai pelayan hotel tersebut. Di malam itulah perselingkuhan itu berakhir. 

Rara masuk ke kamar dengan anggun. Menggesek kartu di tangannya. Mendorong pintu ke dalam dan ...

Nampaklah dua buah daging yang sedang terpanggang di atas ranjang. Ingin sekali Rara menabur saus kecap, minyak zaitun, lada hitam dan sedikit madu dan bubuk cengkeh di atasnya. Namun malam itu ia tak berniat memakan bangkai.

Ia cukup memamerkan senyuman menyeringai dengan menjentikkan abu rokoknya pada karpet kamar. Berjalan beberapa kali di sisi ranjang, bagai peragawati di atas catwalk. Lalu memamerkan bodinya yang seksi pada Priyanto. Bangkai yang tertangkap basah itu hanya bisa menahan napas. Tak mampu berkata-kata lagi.

Kejadian itu cukup cepat. Setelahnya Rara berjalan keluar kamar tanpa berbalik lagi.

Malam itu berakhirlah drama panas antara Tuan dan sekretaris pribadinya. Dengan keanggunan sang nyonya besar tersebut pulang ke rumah dan berbaring di sana hingga malam itu pergi.
***

"Kamu masih ingatkan apa yang terjadi saat itu pada Rani. Aku memecatnya di depan mas Pri."

Suara Rara seakan menyandarkan Rila yang sedari tadi terdiam dihadapannya.

"Dan aku juga telah memecatnya dari dunia ini!" Sambung Rara dengan senyuman puas di bibirnya. Kembali asap mengepul di ruangan.

"..." 

Mata Rila terbuka lebar kali ini. Sebuah teka-teki kematian Rina kini terungkap tanpa perlu ia cari tahu. Ia memang curiga tapi tak ada bukti. Semua nihil.

Sungguh kemarahan tak diperlukan di kasus ini, cukup sedikit racun arsenik pada kopi di sebuah cafe. Keesokan paginya Rani ditemukan telah tewas di apartemennya. Setelah sehari pemecatannya sebagai sekretaris pribadi Priyanto.

Kasus Rani cukup menggemparkan saat itu. Namun kejadiannya pun sungguh unik.

Mungkin saat itu Rani yang merasa marah dan kecewa karena telah dipecat singgah sebentar di cafe dekat apartemennya. Minum kopi yang biasa ia pesan dan pulang tidur untuk selamanya. Tak ada bukti siapa pelaku pembunuhan tersebut. Orang yang dicurigai sebagai bartender kafe gadungan pun hilang tanpa jejak entah kemana. Itu pembunuhan yang sungguh anggun nan elegan.

"Rina? Kakak?" Cuma potongan kata yang keluar dari bibir Rila. Selebihnya otaknya mulai bekerja mencocokan segala keanehan kakaknya selama ini.

"Iyaaa .., apapun itu yang terlintas di otakmu adikku." Potong Rara sambil menggoyang-goyangkan kursi riasnya yang empuk. Sedikit senyuman manis di sana.

"Dan kakak juga sudah tahu selama ini, aku, mas Pri?" Bisik Rila seakan suaranya tak ingin keluar dari tenggorokannya.

"Apa mau dikatakan? Dinding mana yang tak bersuara di dunia ini. Mas Pri adalah lelaki yang aku cintai. Namun kita tak akan dapat apa-apa dari cinta yang telah berubah jadi tinta di kain putih bukan? Olehnya telah kukirim lelaki kaya itu ke tempat yang pantas. Jangan takut. Pemakamannya akan dilaksanakan secara mewah beberapa jam lagi. Aku sudah memesan satu kapling di San Diego Hills untuknya. Rupanya virus itu ampuh juga." Asap bagai kabut ketika Rara menyemburkan ke udara.

Mata Rila semakin melotot tak percaya apa yang baru saja ia dengar. Keringat dingin mulai membasahi lehernya. Ia beberapa langkah mundur ke belakang dan terus mengawasi pergerakan Rara. Seakan-akan takut jika kakaknya melompat menerkamnya saat itu juga.

"Hahaha ..."

"Tak usah setakut itu padaku sayang. Jika aku mau sudah lebih dulu engkau yang pergi ke pemakaman elit itu. Tapi aku tak sekejam itu. Aku menjadi kakak yang baik bagimu. Ingat kita sedarah. Orang tua kitalah yang meminta agar aku menjagamu ketika mereka tak lagi tiada."

"Ayo kemari peluk kakakmu yang sedang berduka ini!"

Kedua tangan Rara mengembang hendak memeluk sang adik. Namun siapa yang bisa berpikir normal saat itu. Rila memilih berlari meninggalkan kakaknya yang menurutnya sudah jadi monster di rumah megah itu.

"Hahaha ...!"

Suara Rara masih saja terdengar ketika kaki Rila sudah menginjak halaman depan. Masuk ke dalam mobil dan menerobos pintu pagar. Nyaris menabrak besi kaku itu. Untung saja Tejo segera membuka gerbang dan mobil silver metalik yang dikemudikan Rila berhasil keluar halaman yang seluas lapangan sepakbola itu.
***

Pemakaman berjalan sesuai waktunya. Orang-orang penting dalam perusahaan datang dan pergi meninggalkan sang janda kaya nan anggun di taman elit itu. 

Siang itu cuaca cerah. Rara memakai jubah hitam. Kaca mata dan berpayung serta kerudung yang juga hitam. Sangat kontras dengan bibirnya yang merah menyala. Ia berjalan sepi sendiri. Namun bibirnya tetap menyunggingkan senyuman yang sama sejak pertama kali ia menikah.
***

Tamat


Kendari, 10 Mei 2020
Auf

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...