SEBUAH KABAR DUKA
Akhirnya kabar yang tak mengembirakan datang pagi itu di salah satu kawasan perumahan elit. Sebuah pesan singkat yang telah lama ditunggu oleh pemilik rumah sejak berhari-hari.
"Kami mengucapkan belasungkawa atas kepergian bapak Priyanto. Kami, tim dokter senior telah berusaha semampunya, tapi Allah Subhana wa taala berkehendak lain."
Begitulah setidaknya yang terbaca dalam layar gadget. Saat itu pula Rila berlari di atas karpet lembut buatan Persia, seperti tak ingin terdengar bunyi kakinya. Langkahnya sangat lembut. Bahkan ia tak ingin membalas pesan tersebut. Karena memang pesan itu bukan untuk dibalas apalagi di saat-saat seperti itu.
Kakinya tahu kemana ia akan melangkah. Seseorang yang lain lebih pantas mengetahui hal itu. Bahkan lebih pantas berduka dan menangis meraung-raung sejadi-jadinya. Bila mungkin ia pantas menangis dan meneriakkan kesedihannya pada deru hujan biar tak ada yang pertanyakan rasa sedihnya.
Namun ia tiba-tiba ragu. Kakinya terhenti seketika. Rasa dukanya akan kehilangan kakak iparnya segera sirna. Ia ingat keadaan kakak perempuannya yang sejak seberapa hari tak juga bisa memejamkan mata. Rasa berat mengatakan berita duka ini melebihi isi dari berita duka tersebut.
Meski Rila seorang pecemburu. Segala hal yang menjadi milik kakaknya, apapun itu ia akan menginginkannya. Tapi kali ini ia sangat sadar. Sadar sesadar-sadarnya, rasa yang satu ini susah buatnya untuk tidak cemburu. Yaitu rasa duka. Tak ada duka di hatinya. Ia ingin berduka tapi tak bisa. Hanya wajahnya nampak susah karena iapun merasa kehilangan. Meski tak seperti apa yang dialami kakaknya saat ini.
Ia bingung bagaimana cara menyampaikan rasa duka ini. Mengatakan bahwa, 'kakak iparnya telah pergi dan semua akan baik-baik saja?' Atau berusaha sekuat hati merasa paling berduka dan menangis sejadi-jadinya sambil memeluk tubuh kakanya?
Itu tak akan ia lakukan.
Ia tak pernah bisa berakting sebaik kakaknya. Mereka berdua memang pernah casting beberapa film drama romantis. Yah, mereka pernah bersama-sama terjun ke dunia akting sehingga melambungkan nama Rara Sudrajat, kakak Rila ke dunia entertainment. Hingga akhirnya waktu mempertemukan Rara dan dengan seorang pengusaha muda yang sedang bercahaya di bidang properti. Sedangkan Rila sekali lagi hanya sekadar manajer yang super disiplin buat kakaknya. Akhirnya kakaknya memutuskan untuk menikah dengan Priyanto, juga merupakan hasil kerja keras Rila, ia tahu tambang emas itu di depan matanya.
***
"Aku ingin kamu jadi sekretaris pribadi mas Pri, Ri!"
Kata Rara, ketika itu ia baru saja memberhentikan secara sepihak sekretaris pribadi Priyanto. Sang suami hanya menelan ludah ketika asisten pribadinya itu dihentikan di depan matanya sebagaimana ia tertangkap basah main mata oleh istrinya.
"Tapi kak, bagaimana dengan mas Pri?" Rila sengaja berpura-pura menolak namun dalam hatinya ia selangkah lebih dekat dengan harta kakaknya. Meski bukan perusahaan tapi sudah nampak.
"Kamu tenang saja di sana. Aku sudah membicarakan ini dengan mas Pri. Bukankah ia sekarang butuh kepercayaan dari istrinya?"
Begitulah akhirnya Rila bekerja sebagai sekretaris pribadi yang baru. Sekaligus sebagai mata-mata di kantor Priyanto. Lelaki yang seperti kalah perang saat itu, hanya bisa pasrah. Ia sadar bahwa ia berada di tempat yang salah. Seperti kucing yang kedapatan mencuri ikan di dapur. Ia hanya bisa mengaku salah. Lagi-lagi ia bertingkah seperti kucing basah di bawah meja.
Itu sudah beberapa bulan yang lalu. Kini secara tiba-tiba penghuni rumah itu kembali dihebohkan oleh sakitnya sang tuan rumah yang memiliki rumah mewah berlantai tiga lengkap dengan kolam renang di puncak atapnya.
'Direktur utama sebuah perusahaan properti, yang merupakan orang ketiga terkaya di negara ini kini meninggal ..,' mungkin begitu kira-kira sebuah surat kabar lokal akan memberitakan.
Kehebohan di dalam rumah itu sudah terjadi sejak Priyanto, pemilik perusahaan terbesar itu dinyatakan harus di rawat di Rumah Sakit perusahaan. Para asisten rumah tangga sejak saat itu dengan leluasa saling bertukar gosip tentang majikan terkaya mereka.
"Ti, menurut kamu apa mungkin kita masih bekerja di sini?"
Tejo merasa sudah terdepak dari surga tempatnya hidup sejak lima tahun lalu itu. Tak tahu harus bertanya dengan siapa, akhirnya Surti yang sedang berbisik-bisik serius dengan Sri jadi tempatnya mengadu.
"Masih atau tidak itu terlalu cepat mas Tejo, kabar tuan saja belum jelas bagaimana. Sekarang ini ada yang lebih penting, nih, kabar ini!" Kata Surti sambil menunjuk bibir Sri, yang otomatis menepis jari telunjuk Surti.
"Husttt! Apaan sih Ti, pake nunjuk-nunjuk segala. Eh, sini Mas, kamu juga harus tahu ini," kata Sri bagai pemandu berita mulai buka rapat.
Akhirnya pagi itu mereka bertiga duduk sekenanya di basemen rumah itu.
"Ah, ngaco kamu Sri, itu tidak mungkin terjadi. Tuan itu sudah insyaf!"
Bibir Tejo dibuat cemberut sambil geleng-geleng tak setuju mendengar kabar dari Sri. Sementara Sri dan Surti tak peduli akan sikap Tejo. Mungkin inilah yang dinamakan keberpihakan sesama lelaki.
"Dasar para lelaki selalunya tak mau mengaku. Dengar ya Sri, laki-laki itu begitu sudah berselingkuh pura-pura tidak terjadi apa-apa. Mentang-mentang mereka yang cari uang, memperlakukan wanita seenaknya." Ngomel Surti lalu meminta Sri untuk mencari tempat aman lain buat bergosip. Sedangkan Tejo hanya melongo tak mengerti kesalahannya.
***
Sementara penghuni rumah lainnya masih berprasangka tentang tuannya. Rila masih bingung harus berkata bagaimana. Namun sekarang juga ia harus mengatakannya. Karena cepat atau lambat kakaknya itu pasti akan tahu juga fakta besar ini.
Tangannya meraih gagang pintu dan menekan pelan dan sedikit dorongan. Sedikit cela sudah cukup buatnya melihat sebuah kamar layaknya kamar berbintang lima. Tapi perasaan megah itu sudah lama pudar. Rasa itu tak sama seperti pertama kalinya ia bersama kakaknya datang di sana. Kini yang tersisa hanya kecemasan bagaimana memberitakan meninggalnya sang pemilik rumah kepala sang istri, meski itu adalah kakaknya sendiri.
Nampak di dalam seorang wanita duduk menghadap cermin. Meski cahaya dari pinggiran cermin bersinar lembut ke wajahnya yang pucat. Namun kecantikan hasil perawatan bertahun-tahun masih nampak di sana.
Rambutnya sedikit kusut di puncak kepalanya. Matanya begitu dalam menerawang cermin. Lebih tepatnya ia memandang genangan air mata di pipinya. Sementara tangannya masih memilin rambutnya yang kusut di depan dadanya.
"Masuklah!"
Suara itu begitu halus. Seperti suara serak yang lemah namun masih bisa ditangkap oleh Rila yang berdiri kaku di depan pintu.
"Kak, mas Pri!" Balas Rila ketika berdiri di depan cermin. Tepat dibelakang kakaknya. Mereka seperti saudara kembar. Tapi sayang nasib saja yang membedakan keduanya.
"Mas Pri?"
Suara itu bagai hantu, hampir tak terdengar. Dingin dan sepi.
"Iya, ia .., ia sudah ..." Rila seakan tak sanggup mengatakan kelanjutan kalimat itu. Di cermin nampak kakaknya tersenyum. Senyuman yang lama tak lagi ia lihat sejak diawal-awal perkawinan kakaknya hingga tragedi sekretaris pribadi itu terjadi.
"Kak, mas Pri meninggal!" Akhirnya Rila bisa juga berkata meski terdengar pelan bergetar.
Namun tiba-tiba Rila seakan tak percaya atas perubahan wajah yang begitu cepat. Ini begitu aneh, harusnya kakaknya menangis atau histeris. Tapi kini senyuman itu begitu bebas.
"Bagiku mas Pri sudah meninggal sejak beberapa bulan kemarin!" Suara sumbang Rara terdengar serak juga halus. Dingin.
"..."
"Saat berita duka itu menyeret namamu ..!"
Suaranya seketika hilang. Air matanya masih mengalir. Tapi senyuman itu masih mengambang seperti pertama kali ia menikah.
Kendari, 09 Mei 2020
d4nosaurus
Komentar
Posting Komentar