#Serial_Bujang_Lapuk
AKHIRNYA JOMBLO
Ketika Nafisah putus dari pacarnya, dunia serasa gonjang-ganjing dan langit segenap kelap-kelip. Mereka yang dahulunya mengontrak kini pada punya rumah pribadi. Hah? Apa hubungannya? Hehehe. Ya iyalah masa iya dong. Kala itu, masa pacaran hal yang sangat mengasyikkan sehingga selalu ada perumpamaan, 'dunia bagai milik berdua, yang lain cuma ngontrak.' Jadi ketika Nafisah putus banyak yang 'ngasih' selamat. "Syukurin." Hehehe.
Tapi tidak dengan Neneng. Sang gadis enam puluhan itu selalu mendukung sang Cucung semata wayangnya.
"Hei ... heiiiii ..., Bujang Bango, 'asam di gunung, garam di laut bertemunya di belanga.' Cung, tak perlu sedihlah kau. Kalo jodoh takkan ke mana. Tak usah wajah kau dijelek-jelekin pula," tegur nenek pada cucu satu-satunya itu.
"Dijelek-jelekin gimana, wajah ini memang sudah begini. Ini sudah turunan pastinya," kata Nafisah tambah jengkel sambil ngelirik si nenek.
"Hei ... heiiiii ..., Bujang Bango, maksud kau wajah Neneng juga jelek, begitu? Hati-hati kalo bicara. Jika Nenengmu ini marah, kukutuk kau jadi bujang lapok seumur hidup. Mau kau?"
"Jangan, Neng. Cukup bujang sementara sajalah."
"Nah, kalo begitu dengarkan kata Nenengmu ini baik-baik."
"Ciri-ciri cinta sejati itu jika berjauhan saling ingat. Seperti Neneng dan kakemu itu. Kau ingat saat kita ke pasar bertiga dan Neneng terlupakan?"
"Oh iya, ketika kake dan saya sudah tiba di rumah dan Neneng masih di pasar?"
"Nah itu. Itu namanya cinta sejati, karena kakemu ingat lalu mutar balik lagi menjemput Nenengmu ini."
"Itu bukan cinta sejati kali Neng, tapi pikun sejati, hehehe ...."
"Pikun ya, hehehe ...," akhirnya nenek dan cucu tertawa bersama. Sama-sama gila.
***
Namun kegalauan Nafisah belum juga reda. Usaha Neneng untuk menyenangkan hati sang cucu tercinta hanya sekejap saja. Sebab besok paginya si Nafisah kembali uring-uringan. Maka ditemuinyalah kawan karib sedari esde, si Wiro. Dan tentunya sesama jombloer, pasti saling dukung dalam suka dan duka. Demikian juga kali ini.
"Sob, masih sedih juga?"
Wiro menegur sohib sejomblonya. Yang ditanya hanya menunjukkan wajah jeleknya yang digagah-gagahin.
"Ya, iyalah, sudah tau nanya lagi!"
"Sudah tak usah diambil hati. Masalah cewek itu seperti daun kering," ucap Wiro mulai beretorika, "gugur satu tumbuh seribu."
"Alaaah, air mulut," balas Nafisah, "jika memang begitu kau tentu tidak akan jadi batang lapuk, hehehe"
"Eitss, jangan salah, jomblo itu kutukan tapi 'single' itu pilihan," kata Wiro tak mau kalah, "dan masalah cewek itu soal kecil. Kalo kau memang mau, saya punya," goda Wiro.
"Punya apa? Cewek?"
"Ya, iyalah, masa cowok, emang kita cowok apaan? Ih, rempong deh yeyy ...," kali ini Wiro kontan berubah jadi banci keparat.
"Hahaha, dasar banci kaleng. Memang ada ya stock ceweknya," tanya Nafisah ikut penasaran.
"Ada. Ni cewek, baru putus dari pacarnya. Sama kayak kaulah."
"Wuih, pucuk dicinta ulam pun tiba, boleh tu," wajah Nafisah sumringah.
"Kalo mau, segera hubungi nomor ini," kata Wiro sambil menunjukkan 'handphonenya' pada sobat karibnya.
Seketika Nafisah seperti tersengat listrik saat deretan angka yang sudah dihapal di luar kepala muncul di depan matanya.
"Sialan, setan alas kau Wir, inikan nomor mantan saya!"
"Hahaha ...," suara tawa Wiro menggema seketika.
Dan kedua bujang lapuk itu pun akhirnya berkejaran bak kucing dan tikus. Saling kejar seperti anak kecil yang berumur tua. Hehehe.
Ibnu Nafisah
Kendari, 30 Oktober 2015
Komentar
Posting Komentar