Langsung ke konten utama

TERSESAT

TERSESAT
(Mambuu)

   "Maaf pak! Numpang tanya, jalan menuju ke Mesjid Keraton ke mana ya?"

   Tanyaku pada salah seorang bapak yang berumur sekitar lima puluh tahunan. Saat itu ia sedang berdiri di pinggir jalan mengenakan sarung khas Buton, Bia itanu wolio.

   Matanya tajam menatap ujung rambut hingga ujung sepatu yang aku pakai. Senyum manis super mempesona selintas kulayangkan padanya sebagai tanda, 'Aku sudah jinak.'

   Mungkin bingung atau tidak tahu harus berbuat bagaimana, ia tiba-tiba berkata dengan bahasa yang lancar dan nyaris tak kumengerti.

   "*Toro torosu, iyaroa te dala pertigaan belo i wetaikai. Minaka Weitu toro torosu sampai Masigi Wajo. Ipertigaan masigi belo ikai osea dala kai. Aneindau tersesat yingko potibakea Masigina Wolio," ia berucap tanpa menghirup sesuap napas pun.

   Aku terperangah. Tertegun sendiri. Setelah sadar ia telah menghilang dari pandangan.

   Lalu smartphone di kantong yang sedari tadi terselip menjadi sasaran kekagetan. Dengan cekatan kutekan nomor penting di sana.

   "Maaa, Mamaaa, aku tersesat!" Ucapku panik.

   "Mama sudah bilang ' kan, kalo tidak tahu jalan kamu mestinya bertanya. Tersesat kok jalan terus!"

   Suara mama dari ujung telepon terdengar menampar bolak-balik. Dunia seakan tak adil kali ini.

   "Aaarrggkkkk...!"

   "Ya, Tuhan. Inikah yang namanya mambuu ...."

(Hehehe, mohon koreksinya!)
 
Ibnu Nafisah
Kendari, 01 Desember 2015
------------------------
Catatan Kaki :
* Terus saja, di depan ada pertigaan lalu belok kiri. Dari situ maju lagi hingga dapat mesjid wolio. Di pertigaan mesjid belok kiri dan ikuti saja jalan itu. Jika tidak tersesat anda akan sampai di masjid keraton.

Mambuu : Hilang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)