Langsung ke konten utama

TRAGEDI MUJAIR

TRAGEDI MUJAIR

Siang itu mendung mulai merajai kaki langit. Utara tempat tujuan dua orang pengendara sepeda motor telah menghitam. Langit seperti tak bersahabat. Sesekali angin menghantam dahan pepohonan di jalur dua itu.

Tenda yang telah lama berdiri di depan perbatasan masih kokoh. Beberapa petugas masih berjaga di sana.

"Empat orang mati kemarin," kata seorang petugas berseragam coklat pada pemuda yang terus menerus menembakkan senjata berpeluru laser pada pengendara yang lewat.

"34 .., 35 ..," balas pemuda tersebut. Sebuah kendaraan baru saja lewat ketika itu.

"Iya, semakin ke sini, semakin horor. Pembunuh hanya sebesar 400-500 mikro meter," kata pemuda itu seperti seorang ahli menembak sembari terus menembakkan senjata di tangannya.

"Wah, bukankah senjata yang kamu pakai tidak bisa menangkap mereka? Atau bahkan membunuh mereka?" Seseorang yang berpakaian biru langit menimpali secara santai percakapan itu.

Si pemuda tersenyum, "memang tidak, tapi setidaknya kita tahu ia ada ketika ia berada pada suhu 37 ke atas ..," saat itu dua orang berpakaian hitam berhenti tepat di depannya.

"33 .., 34 ..," katanya kemudian.

Kedua orang yang tampang sangar itu nampak mencurigakan. Sekali melihat akan membuat seseorang akan bertanya-tanya tentang apa saja kepada mereka.

"Maaf pak hendak kemana?" Lelaki berseragam cokelat tiba-tiba bertanya. Namun pertanyaan kali ini ditujukan kepada pemuda yang berpakaian hitam-hitam.

"Utara, pak!" Kata pemuda yang memegang setir motor, sambil menunjuk ke arah depan.

"Kami tahu Utara itu di sana. Tapi coba tunjukkan KTPnya!"

Suara petugas itu terdengar serius sedikit memaksa.

Dengan sedikit kesal kedua pemuda itu merogoh dompet mencari KTP yang dimaksud.

"Hariman, Islam, Baruga .., Baharuddin Islam, Wua-wua .., oke! Hati-hati di jalan."

Akhirnya petugas itu menyerahkan kembali KTP itu, "hati-hati, pembunuh tak terlihat mengintai bapak-bapak," sedikit senyuman di sudut bibir lelaki berseragam yang tak biasa.

Setelah melewati pos penjagaan di perbatasan. Dua orang pengendara tanpa pengawasan terikat telah lepas dari pantauan petugas pos. Roda ban motor yang mereka kendarai melaju dengan kecepatan enam puluh kilometer perjam. Tak ada yang mencurigai pelaku tindak kriminal yang mulai bergentayangan akhir-akhir ini. Mereka hanya sibuk mencari pembunuh terkecil di dunia.

Perjalanan menuju ke Utara cukup mulus. Hanya awan gelap saja yang tak sabaran mengirim gerimis dan angin.

***

Hujan telah lama mengguyur daerah Utara kali ini. Rumah panggung berbahan kayu dan bambu berdiri sempurna di sana. Beberapa kolam berisi air tawar bagai cermin yang bergerak kabur di serbu ribuan titik air. Bagai istana air, rumah itu nampak megah dari jalan besar di depannya yang hanya berjarak 300 meter.

Jalan setapak seluas satu meter setengah sebagai jalan utama untuk masuk ke dalam halaman rumah kayu itu. Di sanalah pengendara sepeda motor itu berada kini. Setelah menerobos hujan yang turun bagai salju mereka sampai di tempat yang tak biasa. "Kolam Ikan Mujair" nampak tertulis di depan.

Seorang lelaki berkulit gelap nampak sibuk di depan rumah itu.

"Hujan pak, silahkan masuk!" Ucap lelaki itu ketika sepeda motor yang datang berhenti di depan rumahnya.

Rumah itu baru nampak jelas ketika sudah sampai di dalamnya. Di dalamnya hanya ada balai-balai kayu seukuran dua meter kali tiga meter di sudut ruangan. Beberapa bangku kayu, peralatan masak, sepeda motor dan sebuah tangga kayu menuju ke lantai dua. Lantainya pun masih berupa tanah berlumut.

Desain rumah kolam ini termasuk unik karena khusus di lantai dua digunakan sebagai tempat beristirahat pemiliknya. Kisi-kisi bambu nampak jelas pada bagian atasnya. Sebuah senter besar tergantung di antara kisi-kisinya.  Mungkin berguna saat malam meneropong pencuri gelap berkaki panjang bersayap putih yang kerap datang mengintai.

***

Beberapa hari sebelum kedua pengendara itu tiba di tempat tersebut. Di tempat lain yang hanya berjarak lima kilometer dari kolam ikan itu. Di sebuah rumah berukuran  lima kali enam meter terdengar gaduh.

"Prang .., prang .., prang ..!!!"

Sebuah pemandangan yang sangat tak biasa, tak ada barang pecah belah yang tak pecah. Di lantai pecahan beling berhamburan. Seorang perempuan dengan semangat membanting piring-piring yang tak hanya seberapa jumlahnya itu ke lantai.

Seorang lelaki hanya duduk meminum kopi di meja makan. Bagai menikmati tontonan di sebuah siaran televisi. Atau mungkin sinetron salah satu siaran Televisi Swasta telah berpindah ke rumahnya. Jadi lelaki itu hanya melihatnya tanpa merespon sedikit pun.

Beberapa jam kemudian, lelaki yang kini bosan duduk manis di depan meja sambil menyeruput kopi pahit buatannya sendiri itu akhirnya berdiri dari duduknya. Tak ada suara saat itu. Suara piring pecah telah rendah. Pecahan beling berbunyi garing saat ia melewatinya. Gelas kopinya hanya ampas di dasar gelas. Entah mengapa ia berjalan lebih santai setelah meninggalkan rumah itu.

"Prang ..!"

Sebuah piring kembali terbang di belakang lelaki itu ketika pintu tertutup. Nyaris mengenai lelaki berkulit hitam itu.

***

"Silahkan duduk pak. Sambil menunggu hujan reda," kata lelaki itu bermanis-manis dengan dua orang tamunya siang itu.

"Ikannya apa tak kehujanan mas," sebuah canda dari lelaki yang bernama lengkap Baharuddin. Sambil mencari tempat duduk buat celananya yang telah basah oleh hujan.

"Hehehe, mas ini bisa aja, itu sama saja dengan guyonan 'mengajari ikan berenang', tapi itu mungkin sebuah sindiran halus bukan sekadar guyonan, hehehe ..," balas lelaki pemilik satu hektar kolam ikan itu.

"Wah, lengkap nih, mas, ada tungku dan alat masak segala," lanjut Baharuddin yang masih melihat-lihat dengan seksama keadaan di rumah itu.

"Begitulah, tempat seluas ini harus di jaga dari anak-anak nakal. Mana sempat pulang!"

"Lah, mas ini belum nikah to?" Kejar si Baharuddin, heran mendengar pernyataan dari mas pemilik kolam.

"Yah, sudah nikah to mas!" Wajahnya nampak murung bertolak belakang dengan intonasi suaranya yang agak bergairah.

"Betah tidak di sini mas?" Kali ini Hariman mulai menyadari bahwa tempat ini hanya ramai dengan ikan, tanpa ada seorang pun selain mas yang empunya kolam.

"Yah, mau bagaimana lagi, kerja cuma segini-gini aja. Istri dan anak di rumah, kadang-kadang juga datang sini bawakan makanan," tutur mas itu dengan wajah agak sedih.

Setelahnya ia terdiam agak lama. Seperti memikirkan sesuatu hal yang pelik.

"Wah, kayaknya hujan mulai reda nih mas, ikan berapa yang mau diambil?" Tiba-tiba saja suaranya memecah hening. Sebuah topi rajutan bambu sederhana telah melingkar di kepala mas yang empunya empang. Lagaknya hendak menerobos titik-titik air yang tak seberapa lebat itu.

Kedua pelanggannya saling berpandangan, "emm, yang seribuan aja mas!" Kali ini Baharuddin yang mengartikan tatapan rekannya. Karena ia tahu bahwa ikan di sana dijual dengan ukuran besaran ikan-ikan itu. Harga seribuan berarti sepanjang ibu jari. Harga dua ribuan sepanjang jari tengah. Begitulah seterusnya.

Langkah kaki sang pemilik ikan itu ternyata agak aneh ketika diperhatikan. Kaki kanannya nampak menjinjit seakan ada duri yang bersarang di sana. Namun dengan cekatan tangannya mengambil serok berjaring. Menyiduk ke dalam kolam kecil dan beberapa puluh ekor ikan menggelinjang di sana.

"Seratus ribu saja mas, nanti kalau berhasil bisa ke sini lagi," Hariman mengikutinya saat lelaki itu menuju tempat bibit ikan itu dikolamkan.

Tak butuh waktu yang lama. Bibit ikan yang dicari sudah siap di bungkusan plastik berisi air dan gas tambahan.

Ketika mereka hendak pulang Baharuddin berbalik menunjuk kaki  pemilik kolam. Seakan-akan ia ingin menanyakan kenapa ia berjalan begitu.
Tak ada jawaban. Ketika untuk kedua kalinya kakinya ditunjuk oleh Baharuddin, barulah ia mau menjawab.

"Terkena beling!" Katanya.

Kembali hening.

***

Jalanan siang itu terekam basah oleh mata. Angin menderu kencang. Percikan air membuat kaki kedua pengendara motor basah. Mereka berjalan sangat hati-hati. Ikan yang telah diplastikan terguncang oleh jalanan yang tak rata.

Jalanan licin, kendaraan roda empat yang menerobos aspal basah seakan tak peduli dengan dua pengendara itu. Percikan becek terbang bagai ombak menimpa kedua pengendara itu. Hariman membanting setir ke sisi jalanan. Naas, jalanan di sana berlubang kecelakaan tunggal pun terjadi. Mereka hampir tak sadar beberapa waktu, namun ikan-ikan itu masih menggelepar ketika kantong plastik itu robek terkena batu tajam.

Tanpa sepengetahuan dua orang pengendara itu petugas jaga yang sedang bertugas diperbatasan bertindak cepat. Mobil ambulance yang memang standby di dekat pos penjagaan beserta perawat membawa keduanya ke rumah sakit terdekat.

Segala penanganan darurat pun dilakukan. Termasuk mendeteksi pembunuh yang akhir-akhir ini menjadi biang keladi teror di masyarakat.

Hasil tes kesehatan mendeteksi hasil yang mengejutkan. Seorang pasien bernama Hariman dinyatakan tidak apa-apa dalam kecelakaan tersebut. Hasil tes negatif untuk Rapide test dan diperbolehkan untuk pulang.

Kabar yang tak menggembirakan ternyata membuat Baharuddin harus tetap berada dalam pengawasan pihak kesehatan dan keamanan. Dari hasil pemeriksaan kecelakaan tersebut ternyata tidak membuat tubuh Baharuddin menderita luka yang cukup parah namun terinfeksi virus yang paling berbahaya di dunia saat ini.

Di kamar yang tak seberapa luas akhirnya Baharuddin diisolasi. Betapa terkejutnya Baharuddin ketika beberapa menit kemudian setelah menyadari dirinya adalah satu dari sekian orang yang selama ini dikejar oleh banyak orang. Ia dinyatakan positif infeksi virus.

Hingga di suatu malam yang sepi. Sebuah bayangan mengendap di sisi jendela rumah sakit. Dalam kamera CCTV yang terekam nampak seseorang yang berhasil keluar melewati jendela di kamar isolasi. Keesokan paginya Baharuddin menjadi buron kesehatan nomor satu yang paling dicari. Ia hilang ditelan malam.

***

Sementara di ruangan lain di rumah sakit yang sama. Seorang pasien yang dua pekan kemarin telah lari kembali tertangkap. Seorang wanita yang nampak lesu dan batuk yang kadang menggelegar.

"Kemana saja Anda berada pekan kemarin?" Sebuah pertanyaan yang agak formal terdengar cukup jelas. Seorang yang sejak dua puluh menit yang lalu membuka komunikasi dengan hati-hati.

Pakaian putih lengkap dengan sarung tangan dan helm serta kain pembungkus sepatu masih terpasang dengan erat. Tak terbayangkan keringat yang tiap menitnya membanjiri setiap lipatan kulitnya.

"Mohon kerjasamanya, kami hanya ingin tahu siapa saja orang yang pernah Anda dekati. Ini berguna agar kami mengetahui siapa saja yang telah diduga terinfeksi?" Suara pria berbaju putih lengkap dengan masker seperti seorang astronot itu kembali terdengar.

"Kemana saja anda selama dua pekan ini berada?"

Wajah yang ditanya nampak memberi respon. Sebuah kontak mata antara penanya dan yang ditanya akhirnya beradu beberapa detik.

"Ke Utara!"

Suara pelannya terdengar halus namun sangat jelas ditelinga.

"Ok, tepatnya Utara di bagian mana anda berada. Apakah ada hal yang anda ingat ditempat itu?"

"Kolam Ikan Mujair!"

"Ke mana lagi Anda pergi selain di sana?"

"Hanya di sana!"

"Ok, hasil tes terakhir Anda dinyatakan positif hamil satu pekan. Apakah anda tahu hal itu?"

"...!?"

Kedua mata itu saling berpandangan seolah terpanah. Sebuah air mata kini mengalir di sela pipi wanita itu. Mungkin saja ia tahu penyebab kehamilannya. Namun wajahnya sedih ketika mendengar bahwa ia telah mengandung seorang anak.

***

Kendari, 02 Juni 2020




Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...