PERJUANGAN HEROIK DI TANAH KABAENA
"Aaarrgghhkkk ...!"
Sebuah pekikan tertahan di ujung bibir. Wajah berpeluh keringat menahan sakit. Saat peluru panas bersarang di dada.
Agen Polisi Tingkat Dua Prasetyo Wijoyo Kusumo meradang. Hujan peluru beberapa saat telah berhasil menumbangkan tubuhnya yang tegap. Ia tertembak dan sebuah luka menganga. Meneteskan darah segar.
Dalam usahanya menarik napas, dunianya kini hanya fatamorgana. Dentuman gema masih samar terdengar. Teriakan dan khayalan berganti berkelebat.
"Tiaraaaap ...!"
Masih terngiang teriakan Danru Saing sedetik sebelum tertembak. Namun sudah terlambat. Kali ini tubuh itu kini benar-benar ambruk. Menghantam tanah kering. Darah membanjiri seragam loreng Mobrig KNILnya.
"Mas Pras, hati-hati ya!"
Suara terakhir dari istri tercinta masih berkelebat. Berganti dengan perih, sakit serta jeritan di medan perang yang tak kenal ampun.
Prajurit Bhayangkara itu hanya memandang langit Tiamole, Sikeli, seperti baru mengenal dunia. Matanya nyalang sangar membara.
"Mas, jadi juga berangkatnya?," tanya Sri, istri Prasetyo dengan gamang, kalimat itu kembali terbayang.
Matahari Sikeli memanas. Sengatannya semakin menghangat di badan sang prajurit.
"Sri, Yayiku tersayang," sang suami mendekati kekasih hatinya dengan mesra, "bukankah telah kita bahas masalah ini sebelumnya?"
"Aku pergi hanya menunaikan tugas. Negara membutuhkan aku saat ini."
"Yah, negara membutuhkan nyawaku saat ini!" batin Agen Polisi Tingkat Dua itu berbisik.
Pergolakan yang terjadi siang itu membuat korban berjatuhan dipihak Mobrig. Termasuk prajurit yang masih bertarung dengan maut itu.
"Bukankah kita sudah komitmen? Pernikahan ini akan terus berjalan dengan baik, jika kita, yang berada di dalamnya saling mendukung. Dan sekarang aku butuh kamu. Dukunganmu, Yayi."
Kalimat itu kembali teringat. Kalimat yang membuat jiwanya terkenang pada malam sebelum keberangkatan pada sang istri tercinta. Dipanggilnya Yayi pada Sri yang berarti 'Adinda' sebagai bentuk kasih sayangnya yang dalam. Di setiap napasnya kini, hanya Yayilah yang ada dipikirannya. Sementara luka di dadanya yang kini membuatnya sesak tak lagi berarti.
Ia masih ingat pula malam ketika hendak meminang calon istri. Cuma ada ia, Sri dan rembulan di langit dingin.
"Aku hanyalah orang biasa, bukanlah orang berpunya. Dari keluarga miskin pula. Ditambah lagi aku seorang Mobrig yang setiap saat siap dipindahtugaskan. Apakah Yayi rela menerima aku apa adanya?"
Semua mengulang bagai dunia yang berputar. Seakan sebagai pelengkap derita, kala itu.
"Mas Pras, hati-hati ya!"
Wajah Sri kembali hadir. Dan kalimat itu yang selalu ia ingat. Lambaian tangan sang istri yang makin lama makin mengecil. Dan pandangannya mulai kabur karena kapal KM. Permata yang ia tumpangi semakin menjauh pula.
"Prajurit Pras, Tiaraaaap ...!"
Suara Danru Saing terdengar kembali di tanah Sikeli. Wajahnya yang gagah nan keras menyiratkan semangat juangnya yang tinggi.
Sementara rentetan peluru semakin membahana. Seperti hujan di siang hari. Bersimbah penuh darah menodai seragam loreng mereka yang terluka.
Sedangkan beberapa prajurit masih melakukan lintas ganti di beberapa tempat persembunyian yang berbeda. Dan hanya nampak bayangan yang berkelebat.
Ketika itupula suara mesin senjata santer terdengar. Suara itu berasal dari kelompok gerombolan. Kelompok pemberontak yang ingin menguasai wilayah Sulawesi, khususnya pulau Kabaena, pada tahun 1956. Gerombolan ini semakin beringas, demi melihat korban yang berjatuhan di pihak Mobrig.
Saat itu perkumpulan yang mengatasnamakan jihad ini melancarkan serangannya di sebuah desa di Tiemoli, Sikeli, kini sekarang sudah menjadi Kabaena Timur. Pegunungan Sabampolulu yang berbukit-bukit dan berbatu karst membuat pertempuran semakin menambah rumit. Meskipun ketinggian hanya 1800 meter dari permukaan laut, namun menjadi tantangan tersendiri bagi kedua pihak.
Selama aksi pemberontakkan yang dilakukan oleh pengikut gerombolan ini telah ribuan rumah yang dibakar. Situasi semakin genting saat masyarakat desa tidak ingin bergabung dengan pihak pemberontak. Dan hasil bumi masyarakat menjadi hak milik pemberontak secara paksa.
"Kita harus melawan, gerombolan ini harus dilawan," seruan H. Bisbah seorang pemuka desa.
"Setuju!," segera disepakati oleh masyarakat setempat.
Dengan bantuan masyarakat inilah, Danru Saing dan pasukannya dapat dengan mudah mengetahui keberadaan para pemberontak tersebut.
Di mana Danru Saing adalah utusan dari Kompi Mobrig yang saat itu berkedudukan di Sulselra (Sulawesi Selatan Tenggara) untuk memburu gerombolan ini.
Tepat dua minggu yang lalu pasukan khusus terlatih ini beranggotakan sepuluh orang, termasuk Agen Polisi Tingkat Dua Prasetyo Wijoyo Kusumo sendiri. Berhasil menjelajahi daerah yang menjadi basis para pemberontak. Meski hal itu tidak mudah.
Dalam melakukan penyergapan itu nampak pasukan gerombolan telah menguasai daerah strategis. Dari puncak bukit itulah anak buah gerombolan ini menadah pasukan Mobrig. Ditambah lagi tehnik gerilya yang digunakan semakin memperkecil peluang pasukan bela negara ini.
Namun setelah melakukan penyisiran selama empat belas hari berturut-turut akhirnya, komplotan ini berhasil ditangkap. Sebagian mati tertembak. Dan sebagian melarikan diri.
Dalam pengejaran inilah Danru Saing mengalami kesulitan. Hingga beberapa anak buahnya termasuk Agen Polisi Tingkat Dua Prasetyo Wijoyo Kusumo, yang kini masih menahan panasnya sebutir peluru.
Dalam desahan napas yang semakin memburu. Prajurit Pras, teman seregunya biasa menyapanya, bergerak perlahan. Masih ada secuil kekuatan di sana. Sri-lah kekuatan itu. Sang Yayi tercinta.
"Tunggulah aku, Yayi!," gumamnya
Ketika itulah gerombolan yang sudah terpencar, terdesak itu kini semakin masuk ke dalam hutan. Saat Prajurit Pras mengejar, Agen Polisi Tingkat Dua Tiling atas perintah dari Danru Saing mencoba membantu mengejar kawan seperjuangannya itu. Dibantu oleh Agen Polisi Tingkat Dua Karangan yang bertugas sebagai body sistem.
Dan sebuah teriakan yang tak pernah dilupakan oleh Prajurit Pras berkumandang dari arah belakang.
"Tiaraaaap ...!," teriakan Danru Saing.
Namun naas, sebuah peluru telah melubangi dadanya. Disusul sebuah desis suara yang panjang.
"Aaarrgghhkkk ...!"
"Tunggulah aku, Yayi! Tunggulah aku di tempat abadi ...."
Seketika langit Sikeli buram. Gelap.
Tertinggal sepi menyelimuti. Dilarikan gerombolan ditinggal para pahlawan muda. Hingga situasi terkendali hanya Danru Saing lah yang berhasil hidup. Beliau cuma mendapatkan luka tembak di kakinya. Sedangkan delapan anggotanya gugur dalam tugas termasuk Prajurit Prasetyo dan seorang yang hilang tanpa jejak.
"Tunggulah aku, Yayi ...."
Kalimat itupun hilang di udara bersama tarikan napas terakhir.
***
Ibnu Nafisah
Kendari, 14 Oktober 2015
Komentar
Posting Komentar