GARA-GARA BANG IPUL
Hari itu Marissa galau berat. Remaja yang kini beranjak dua puluh tahunan itu menjadi bahan gunjingan ibu-ibu sekomplek. Nama Marissa tiba-tiba mencuat, seiring Bang Ipul tak lagi berada di salah satu stasiun TV nasional. Loh? Hubungan apa gerangan antara Marissa dan Bang Ipul? Inilah yang membuat sel-sel kecil dalam otak kelabuku bertanya-tanya.
Untuk mencari tahu kebenaran kabar yang tidak jelas di mana titik apinya, sementara asap sudah mulai merebak. Akhirnya saya putuskan untuk mengorek, mengais dan menelusuri kejadian yang sebenarnya.
Setelah mondar-mandir kayak bajaj bangkotan beberapa kali di komplek akhirnya berita demi berita terkuak sedikit demi sedikit.
Siang itu sama seperti hari yang biasanya. Komplek lenggang sekaligus lengang. Ibu-ibu yang biasanya istirahat kali ini waspada satu (baca: waspada tingkat tinggi). Seumpama pihak kepolisian siaga dalam menghadapi teroris. Maka mereka mengendap-ngendap di ujung jendela. Sasaran kali ini payung berwarna merah di depan jalan yang sedang dipegang makhluk termanis seantero komplek.
Jangan tanya siapa pemilik payung itu. Sudah pasti si Neng Marissa. Rambut panjang 'di-smooting', berkibar dipermainkan angin sepoi. Setiap mata yang melihat pasti iri melihat keindahannya. Hitam legam. Panjang terurai manja di bahunya yang gemulai. Pecah berderai dipermainkan udara panas siang itu.
Wajah halus, kuning langsat, menyiratkan keremajaan. Kening tertata rapi di atas sepasang mata terang dan bening. Bulu mata itu, jika dilihat oleh Syahrini pasti ia akan berkata, "Cetar membahana, membadai, halilintar gonjang-ganjing siang bolong".
Sebuah hidung mancung mencuat di antara kedua pipinya yang merona merah, entah bedak pewarna atau karena sinar panas yang menembus payung genitnya.
Tidak ketinggalan pemanis yang akan membuat seorang lelaki akan terus menatap. Bibir merah. Tebal. Seakan kuncup bunga mawar baru merekah oleh embun pagi.
Semua mata memandang jijik. Sekaligus iri. Jijik jika suami dan anak lelaki mereka akan terpanah dan lupa daratan olehnya. Dan juga resah, wajah mereka tak ada yang bisa seperti Marissa. Manis, cantik, genit, manja, imut, sekaligus memuakkan. Memuakkan? Itu pandangan mereka. Jadi kita cari tahu kelanjutannya kata memuakkan itu.
Setelah letih berjalan bak peragawati di jalanan komplek Marissa akhirnya tiba pula di sebuah tempat. Tempat dan orang, sepertinya Jaka Sembung, untung kali ini tidak bawa golok. Tidak 'nyambung', masalahnya itu tempat cukur. Seorang Marissa ke tempat cukur? Nah, makin bertanya-tanya, kan? Ada apa gerangan gadis semanis dia ke sana?
Payung merah yang telah lama kepanasan dilipat seketika. Wajahnya yang ayu ditengokkan ke dalam. Seorang pelanggan dan tukang cukur sekejap terpesona.
"Hallo, Marissa!"
Tukang cukur menyapa dengan senyum di bibir. Dan hampir gemas melihat celana pendek Marissa yang entah kenapa membuat ia muak. Namun, ia hanya bisa mengumbar senyum. Sementara orang yang sedang ia cukur hampir meledak tawanya.
"Pak Nas, Marissa mau cukur!"
"Lah, itu rambut bukan mau dipanjangin? Sayang sudah dirawat hingga licin begitu, pasti mahal perawatannya di salon."
"Malas. Orang semakin cantik kok, jadi bahan gosip sekomplek!"
"Aku tuh, bukan gay, gayanya aja begini," sambung Marissa, kali ini curhat abis, sementara yang mendengar semakin menebar senyum.
"Oh, gara-gara yang diberitakan itu ya? Artis yang lagi hangat itu ya? Pantas semua ibu-ibu pada ribut, hahaha...."
Pak Nas tertawa terbahak sendiri, merasa geli memikirkan gaya hidup para seleb yang aneh-aneh dan jadi bahan gunjingan para ibu rumah tangga yang doyan bergosip.
"Bukan gay? Emang punya pacar cewe, apa?" Lelaki yang sementara dikerjakan kepalanya oleh Pak Nas, mulai berkomentar.
"Mmmm, belum sih!"
"Pacar cowo?
"...," Marissa masih mikir
"Tapi kalo ada cewe yang nembak, kamu pasti mau kan?" Si penanya mengejar dengan lincah.
"Yah, maulah, asal dia lebih cantik dari Marissa!"
"Hahaha, ada-ada aja, mana ada cewe mau rebutan alat 'make-up' atau rok sama cowoknya?"
Marissa langsung lemas, menyusut di kursi. Melipat paha kanannya ala artis tercantik seindonesia dalam rangka perwakilan Miss Universe.
"Tapi sumpah Marissa mau jadi laki-laki!"
Jari tengah dan telunjuk diacungkan ke depan wajah. Namun tetap kalem dan manja. Mereka yang melihat semakin geli. Ini anak mau insyaf atau sudah stress, pikir si pelanggan.
"Kamu ini seperti cerita teman saya, pingin insyaf tapi juga enggak!"
Cerita si Pelanggan :
Anak: "Emak, Sari mau insyaf, jadi anak baik-baik aja, Sari sadar hidup penuh dosa pasti matinya masuk neraka."
Emak: "Alhamdulillah, jadi kamu tidak akan keluar malam lagi? Dugem sama kawanan kamu itu? Ngak nyuri b*ha emak lagi? Malingin korset emak, atau berantakin bedak-bedak emak?"
Sari: "Iya Mak, Sari mau jadi anak yang soleha, rajin ngaji, salat, dan berbakti kepada orang tua, makanya besok Sari mau make jilbab, Mak!"
Emak: "Astagfirullah Allaazim! Saripuddin, kamu itu kan anak laki-laki, dasar anak se...!"
Seketika emak pingsan dengan sukses dan Saripuddin lari tunggang langgang takut dikutuk oleh emaknya.
****
Mereka yang mendengar cerita tertawa terbahak, sementara Marissa hanya memonyongkan bibir merahnya.
"Marissa juga mau insyaf, tidak mau lagi berpakaian dan bergaya kayak cewek. Pak Nas tolong rambutnya dipotong cepak, biar mereka tahu Marissa itu laki-laki!"
"Terus, nama kamu tetap Marissa?" Timpal Pak Nas
"Yah, ngaklah, itukan nama artis saja. Nama aku yang sebenarnya kan Mariyanto!?"
"Trus setelah di-make over, dipanggil Yanto atau Anto?" tanya Pak Nas antusias.
"Panggil Merry atau Mary Jane aja, Pak Nas!" kata si Marissa eh, Mary Jane tegas penuh semangat empat lima.
"...$6@?!#:-)...."
Semua mata saling melotot. Merasa jijik sekaligus muak. Dan akhirnya mereka muntah berjamaah.#Tmt.
Ibnu Nafisah
Kendari, 03 Maret 2016
Komentar
Posting Komentar