#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood
#day3
Risks
Dalam perjalanan mewujudkan ide Anda, kira-kira resiko seperti apa saja yang mungkin terjadi dan bagaimana Anda menyikapi resiko tersebut?
***
Baru kali ini pikiran terasa ringan. Mengatakan apa yang sebenarnya sungguh penuh tantangan, keberanian, dan tekad yang kuat. Di luar itu semua rasa plong selalu menyertai setelahnya.
Seperti pagi ini, anak berumur lima tahun itu kini bisa berjalan dengan penuh semangat. Dikejarnya ribuan merpati di jalan itu. Diciuminya aneka warna bunga. Diserapnya udara pagi, mentari di hati dengan senyuman menawan.
Pusat perkantoran hanya terletak beberapa kilometer. Sebuah bis siap mengantarnya ke tempat tujuan. Inilah awal pagi yang tak biasa dalam hidupnya, dihirupnya seluas sepuas ia mau.
Jarum pendek dan panjang di dinding kompak menunjuk angka tujuh saat kaki-kaki menginjakkan solnya di lantai kantor.
Gedung perkantoran berlantai lima itu begitu megah. Bersekat penuh ruangan dan meja kursi.
"Inilah tempat bermain orang dewasa," gumamku dalam hati seraya memasuki ruang kerja itu.
Sebuah meja kaca setengah biro menghuni di tengah ruangan. Dua buah kursi saling berhadapan di depan dan belakang meja itu. Dilengkapi dengan komputer dan printer. Lemari besi berdiri beku di sudut bersanding dengan sofa di pinggiran dinding. Tentu saja kantor itu dilengkapi dengan air conditioner serta lemari pendingin di sudut yang berbeda.
Sementara kaca lebar di tembok bagian sana dapat berfungsi sebagai pengusir kejenuhan kala penat itu datang. Pemandangan dari lantai lima ini cukup mempesona. Itulah daya tarik utama kantor ini. Pemandangan gunung yang hijau dengan atap perumahan berwarna merah di kaki lembah. Sungguh lukisan yang indah.
Tak lama kemudian datanglah pria berbadan lebar dengan setelan jas cukup baik. Satu yang membuat ia nampak beda adalah kepalanya yang tak lagi berambut. Daerah itu hanyalah lahan luas yang licin. Juga sebuah dasi merah terang menutupi kemejanya yang buncit.
"Mo, Parmo," begitu biasa ia memanggil aku, bawahannya di kantor itu.
"Iya Pak Direktur, ada hal apa gerangan sampai Bapak bersusah-susah datang ke ruangan saya. Seharusnya saya yang Bapak panggil ke ruangan Bapak!"
Kontan bahasa basa-basi itu menyembur menyambut kedatangannya pak direktur, seperti biasa kedatangannya pasti menyampaikan sesuatu yang pelik mungkin juga mencekik sebagaimana biasanya.
"Kamu sudah baca surat dari Pemprov kota B kemarin?"
Pertanyaan awal yang cukup mencurigakan. Membuat sedikit termenung hal aneh apa lagi yang ia akan rencanakan. Sambil meletakkan pantat besarnya di sofa, mata sipitnya pun menunggu jawaban dari bibirku yang kecil.
"Iya, sudah. Mengenai anggaran pembangunan rumah sakit itu 'kan Pak?"
Lalu kuikuti pula sikapnya. Duduk berhadapan santai di atas sofa ungu itu.
"Benar, kontraktornya sudah menghadap dan mungkin fee dari anggaran rumah sakit itu sudah bisa dicairkan. Ya, paling tidak 50:50."
"Maaf, Pak. Tapi kegiatannya saja baru sebatas pembebasan lahan. Bagaimana mungkin fee sudah dibagi-bagi? Alangkah baiknya pembangunan telah rampung baru masalah fee itu dikeluarkan? Hanya berjaga-jaga adanya penyalahgunaan anggaran Pak!"
"Jadi maksud kamu saya mau menyalahgunakan dana itu? Begitu?"
"Mohon maaf Pak, bukan begitu, hanya mengikuti prosedur yang ada," suara ini tiba-tiba menjadi pelan. Sebuah gejolak sedang terjadi di dalam batinku. Anak lima tahun itu kembali berlompatan dalam benakku.
Hal tersebut telah sering terjadi di kantor ini. Selama tahun-tahun tersebut akulah budak dari keserakahan bapak gendut itu. Aku bawahannya yang setia tidak ingin terjadi lagi. Segala kebusukan harus berhenti saat ini juga. Anak itu sudah mulai bereaksi sekarang. Entah apa yang akan terjadi setelahnya.
"Kalau begitu kita bagi tiga saja, 40:40:20," kali ini tawarannya sungguh berani.
"Saya mengerti sepenuhnya Pak. Tapi, tetap saja itu tidak bisa saya lakukan. Sebagai pimpinan proyek itu, saya punya hak kali ini. Tentu hal itu adalah hal yang tak ingin saya lakukan."
"Jadi kamu tidak mau ikut serta?"
"Ya. Saya ingin berubah kali ini, Pak!"
"Jadi, solusi apa yang bisa kita sepakati saat ini?"
"Saya hanya punya solusi Pak, sebuah jalan..," sebuah kalimat besar mengantung di ujung lidahku dan itu menentukan hal besar dalam hidupku, pekerjaanku, kehidupanku, suatu hal yang sulit kali ini sedang terjadi.
Ia menunggu.
Anak itu semakin melonjak-lonjak di sana di hati dan pikiranku.
"Jalan?"
"Ya, sebuah jalan. Bapak memecat saya sebagai pimpinan proyek atau memutasikan saya dari kantor ini!?"
Sebuah jawaban yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Akhirnya kalimat itu keluar bagai anak sungai menjebol bendungan persawahan saat hujan tiba.
Akhirnya kejujuran yang aku junjung kini menghadapi tantangan yang cukup beresiko. Sebuah kejujuran harus dibeli mahal kali ini. Apa jadinya sebuah kejujuran sebagai pengganti pekerjaan itu. Tapi saat ini begitulah yang telah terjadi. Mempertaruhkan sebuah sikap demi sebuah idealisme. Kejujuran yang beresiko. Apapun hasilnya itulah pencapaian.
Tanpa berkata-kata lagi, ia keluar ruangan dengan wajah merah. Lemak di seputar dagunya bergetar. Bahunya membalik arah. Dari luar pintu tertutup kencang. Seketika tembok bergetar karenanya. Meninggalkan anak kecil dengan wajah polosnya yang menggemaskan seorang diri saja.
Kini rasa plong itu bagaikan udara pegunungan. Bertiup sendu dan pilu.
Akankah ia dimutasi? Atau bahkan dipecat? Kehilangan penghidupannya selama ini? Biarkan waktu yang menjawab semua.
Biarkan anak itu bermain. Ia memang tidak memerlukan pekerjaan. Yang ia butuhkan sebuah permainan. Ya. Permainan yang menantang bahaya aku pikir.
Ibnu Nafisah
Kendari, 27 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar