#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood
#day4
Time to Go
KAPAN Anda mau memulai ide yang sudah anda rencanakan?
***
Menjadi dewasa di usia masih kanak-kanak memang tidak mudah. Menjadi anak-anak pun ketika dewasa sama repotnya.
Kedewasaan adalah suatu hal yang perlu. Namun, menjadi dewasa saat ini merupakan suatu tantangan. Karena seorang dewasa akan selalu berpikir melebihi otaknya, cenderung mengambil keuntungan lebih yang tidak semestinya.
Siang itu, anak yang masih berdiam diri dalam jiwaku pulang dengan rasa plong di dada.
Masih banyak tempat bermain lain pikirnya. Kehilangan taman bahkan teman bermain bukan suatu hal yang menyakitkan. Karena di mana dan kapan pun anak-anak bisa bermain. Meskipun mereka terkadang bermain dengan teman khayalan. It's Ok. Hidup terus berjalan. Malam dan siang akan terus berganti. Tentu saja kenikmatan masa kecil takkan pernah tergantikan.
"Hari ini Papa telah memulainya, Ma!"
Kataku pada sang istri yang sedang menemaniku makan siang di rumah kami yang sempit tapi nyaman.
"Mmm ..?"
Hanya itu yang terdengar darinya. Tampak benar kebingungan dari wajahnya. Tapi tak jua menghilangkan kemanisan di dalamnya.
"Ingat kejadian pagi tadi?"
Mataku yang tenang mencoba meraba sorot matanya yang kini mengingat kejadian sehari ini.
"Papa terbangun dalam keadaan yang sangat-sangat aneh!"
Ia terdiam saja di seberang meja. Entah mendengarkan atau sekadar menerka-nerka apa inti perbincangan siang ini.
Aku pun melanjutkan cerita itu, tak tahu pasti apa ia mau mendengarkan atau sekadar menghargai sesuatu yang ingin kuutarakan padanya.
Jadilah monolog seperti di bawah ini:
Mimpi itu datang seperti hantu. Menembus ruang tidur kita yang membatu. Dalam pelukanmu yang hangat aku menjadi anak laki-laki berusia lima tahun. Berlarian dalam ruang saja. Tak bisa kemana-mana. Jendela dan pintu hanya sebatas tempat angin mondar-mandir sahaja.
Aku? Aku hanya anak laki-laki yang terkurung dari keramaian.
Tiba-tiba saja seorang anak kecil dan ibunya nampak di sana.
"Mo, jangan keluar-keluar ya nak, di luar banyak setan," ucap mama pada kuping telinga kecil itu.
"Tapi Papa, Ma? Padmo ingin cari Papa!"
"Papa kamu ..."
"Kemana Papa, Ma?"
Beberapa saat suasana diam mencekam. Ia nampak mencari-cari kata yang hilang entah di langit mana.
"Suatu saat nanti kau akan mengerti apa yang terjadi, Mo!"
Hanya itu yang mama katakan. Selanjutnya hantu yang bernama mimpi itu pelan-pelan menjadi udara. Kuhirup, menariknya naik turun di dada. Nyatanya ia tak ingin keluar dari sana. Mimpi itu menjelma jadi anak lima tahun di dalam jiwa.
Tak kulihat lagi Padmo yang dewasa. Seorang pria berkumis tipis dengan badan ceking melengking. Hanya Padmo kecil tertidur pulas di dada mamanya. Tidur meringkuk menunggu sang bapak yang ia rindukan.
Pagi pun datang. Padmo kecil masih bersemayam di dalam tubuhku yang tak lagi kecil. Kini ia mengambil alih sepenuhnya jiwa dan hatiku.
Kejujuran dan kepolosan itu pun mengikutiku layaknya bayangan. Aku tak bisa tidak untuk tidak mengemukakan kejujuran. Meski itu untuk hal yang sepele. Segelas susu manis dan setumpuk roti bakar serta dadar telur misalnya.
"Maafkan Papa, Ma, pagi ini Papa terlalu jujur. Bahkan untuk hal yang sepele seperti ini."
"Maafkan perubahan ini. Pagi ini, sayang."
"Mari kita memulai saat ini juga. Kejujuran itu. Meski itu antara kau dan aku, saja."
Cerita itu pun berakhir di atas meja. Ia terdiam untuk kedua kalinya hari ini. Hari ini pun kita harus memulai apa yang telah kita rencanakan di sini, di hati kita yang paling dalam.
Ibnu Nafisah
Kendari, 28 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar