Langsung ke konten utama

#day5


#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood

#day5

Share it!

Mention / tag 5 orang dan bagikan ide Anda. Tanyakan pendapatnya, dan ajaklah mereka berkontribusi melakukan hal yang sederhana untuk beraksi membangun dunia yang lebih PICT (positive, Inspirative, Creative and Transformative)

***

Meja makan semati tugu. Tiada suara dari dua orang penghuni rumahnya. Mereka  berdua masing-masing berpikir. Apakah sebuah kejujuran dibutuhkan dalam rumah tangga yang telah berjalan lima tahun atau itu hanya sebagai simbolik saja. Diucapkan di bibir. Didengarkan pada lidah. Hanya sekadar menyenangkan sang pendengarnya saja. Sementara hutan yang mereka diami telah terbakar sekam di bagian lembah. Kepulan asap di puncak gunung dianggap sebagai kabut belaka.

Inikah yang dimaksudkan kejujuran itu. Oh, sungguh dua orang dewasa, mereka sekali lagi berpikir di luar batas otak rata-rata. Mencoba berjalan di sungai yang diyakini tenang namun tak jua mengindahkan riak-riak bahaya di sana.

Bukankah mereka harusnya lebih bijaksana dalam bertindak. Tidak gegabah bahkan serampangan seperti anak kecil? Berpikir sebelum bertindak, itu yang seharusnya. Namun, mereka kadang berbuat sebaliknya.

Tiada kejujuran yang berjalan di atas rel hatinya. Mereka hanya ingin memberikan sesuatu yang enak didengar atau dilihat. Tapi betulkah itu yang mereka rasakan? Sungguh ini penyakit dewasa stadium akut. Mungkin inilah kata dokter kepada pihak keluarga di saat-saat seperti ini, "akhirnya kami pasrahkan semua pada Tuhan." Itu berarti tak ada yang dapat bisa diperbuat lagi.

Tapi anak kecil dalam jiwaku itu berontak. Tak akan pernah menyetujui isi otak orang dewasa yang kini berbentuk kotak. Tak berani ambil resiko, tak ingin menginjakkan kaki di daerah antah berantah. Mereka hanya dewasa karena umur bukan karena mental. Suatu perenungan yang pelik yang kadang-kadang datang memekik hingga mencekik.

"Mimpi buruk itu datang lagi," kataku kemudian setelah pergulatan pikiran beberapa saat di otak kami masing-masing, "mimpi yang sama seperti di malam-malam sebelumnya."

"Bapak yang dirindukan itu ternyata hanya fatamorgana belaka," pelan-pelan ia melirik ke wajahku yang masih setengah merenung di depan makanan yang belum juga aku sentuh sedari tadi.

"Ia, telah meninggalkan kami berdua dengan wanita itu ..."

Pandangannya semakin keras menatap mataku yang tak jua mampu membalasnya.

"Wanita yang ia cintai, ia sayangi sepenuh jiwanya, wanita yang mampu membuatnya lupa akan keadaanya saat itu. Wanita pertama dalam hidupnya sebelum bertemu dengan ibuku, ia pergi hanya untuk sebuah kejujuran dalam hatinya. Ya, kejujuran yang beresiko buat kami berdua, ibu dan anak."

"Selama bertahun-tahun harus hidup tanpa seorang bapak, pelindung, pemberi nafkah sekaligus pengayom keluarganya."

"Bisakah kau merasakan sakitnya itu buat kami?"

Kali ini kutatap rasa keingintahuan di wajahnya. Tak ada satu pun kalimat dari bibirnya yang ranum. Hanya gerai-gerai rambutnya sesekali diusapkan di samping telinganya.

"Dan kali ini aku ingin kita saling jujur," kataku, sekilas sinar matanya mendadak menyala.

Sebuah pertanda? apa gerangan yang tampak di wajah itu. Sekilas ia bak porselen tak berair. Kini wajah manis itu seakan meringis dalam diam.

"Terus terang kau pun bukan seseorang yang berada di hatiku," wajah di seberang meja itu seakan berwarna tak jelas, ia tertampar kurasa, "awalnya begitu," buru-buru kutambahkan kalimat lanjutannya.

"Kau datang saat hatiku hancur lebur di dera rasa. Cinta yang tak sampai, kasih yang bertepuk sebelah tangan. Mengertikah kau rasa itu? Rasa itu bagai kulit yang telah disuntikkan obat bius, ia kebas, kebal, sekaligus keram dan akhirnya tak berasa pada kata cinta."

"Cinta yang datang hanya sekadar pembasuh muka dari debu, sekadar jam dinding pelewat waktu, bahkan sebagai garam pada sayur, ia pelengkap belaka."

Air mukanya semakin beriak tak jelas di ujung sana. Ketegarannya telah hilang berganti kerapuhan saja.

"Namun, dengan berlalunya waktu, air yang mengalir selama lima tahun di wajah ini kini berhasil melepaskan debu kemarin. Kau kini menjadi waktu yang kutunggu-tunggu, dalam kebersamaan.  Sayur yang tak ingin kusantap jika garamnya belum kau taburi di dalamnya. Kau menjadi sesuatu yang tak ingin ku lepas, kutinggalkan barang sebentar saja. Ketabahanmu dalam menghadapi diriku sungguh membuatku terpesona. Kau tahu sikapku kala itu, tak peduli padamu, terkadang acuh tak acuh pada tangismu. Pura-pura tidak terjadi apa-apa, dan meninggalkan dirimu dalam luka seorang diri."

"Namun, seiring berjalannya waktu. ketabahanmu membuahkan hasil. Tanpa pernah disadari, kau menjelma jadi udara di rumah ini, air yang menyegarkan, api penuh kehangatan, sekaligus tanah buatku merasa berpijak di bumi tanpa rasa takut dan sesal akan hari esok dan kemarin."

"Tahukah kau, kini dirimu telah menjelma menjadi tulang, daging dan darahku. Aku ingin kau, Ma, akan selalu menjadi kehidupan dalam hidupku. Tak ingin kau berpaling, meski itu satu-satunya yang harus kau lakukan dalam hidupmu."

Tiba-tiba air mata terurai dari sendang yang bening. Menganak sungai dikedua belah pipinya yang bersemu merah. Tak ada suara isak dari sana.

"Marahkah kau Ma? Maafkanlah aku yang kemarin, yang ..," seketika lidahku terhenti, bola matanya menatap tajam langsung ke jantung.

"Akulah yang seharusnya meminta maaf padamu, Pa!"

Udara semakin pengap saja ketika lukisan di depanku bersuara serak penuh emosi.

"Maaf?"

"Maaf atas segala drama ini, ya, kurasa kau pun tahu sebabnya."

"Mengapa aku harus bertahan dalam rasa sakit itu, menahan pedih selama bertahun-tahun hidup dengan orang yang bukan harus memikul tanggung jawab yang semestinya," suaranya lirih beku ditelinga, "kuyakin kau tahu sebabnya."

"..."

"Apakah yang kau maksud tentang anak itu?"

Kuberanikan diri untuk menebak apa yang ingin ditujunya.

"Ya, anak itu. Ia bukan anak yang seperti kau pikiran selama ini!"

"Oh!"

Akhirnya ia mengatakan juga kali ini. Kejujuran darinya yang sejak lama kutunggu. Namun tak kunjung tiba. Tapi saat ini ia mengatakan dengan tegas kenyataan itu. Kurasakan anak kecil dalam jiwanya kini mulai menunjukkan kehadirannya. Di mata sembab itu. Di lidah kelu itu. Di segenap ragawinya, ia dengan sadar, tanpa kelicikan seorang dewasa di sana.

"Kenapa, Pa, apa kau menyesal dengan pengakuan ini?"

"..."

Tak ada jawaban, semua bagai keinginan jahat menjadi sebuah kenyataan. Aku terperangah, terperanjat, sendiri.

"Bukan begitu, tapi ya .., aku .., ternyata benar."

"Aku sudah menduganya sejak malam itu, dari rumor, dari kejanggalan semua ini. Dan .., ya, kini itu semua kau katakan."

"Sesalkah kau pada diriku?"

Sebuah pertanyaan yang tak enak diungkapkan. Penyesalan selalu datang belakangan. Karena tak akan pernah ada sesal di awal, jika itu terjadi maka rencanalah namanya.

"Dengar Ma, hidup yang kita jalani ini adalah yang telah kita pilih sebelumnya sadar atau tidak, suka atau tidak. Meskipun sesal itu ada namun apakah artinya waktu selama lima tahun ini, tidakkah menghapusnya?"

"Anak itu adalah anakku, dan kau adalah istriku, dan kita satu keluarga. Jika ada yang menyangkal itu, berarti ia hanya membohongi kata hatinya. Bukankah kejujuran itu yang kita cari? Kini ia datang dengan polos-polosnya. Tanpa ada topeng di antaranya. Masihkah kita menyangkal suara anak kecil di dalam hati kita? Anak kecil di kalbuku berkata, 'kaulah yang kucari selama ini'. Bukan yang lain."

"Meski, kenyataan selalu datang dengan kesakitan?"

"Ya, meski itu!"

Rasa plong untuk kesekian kalinya kita menerpa bagai angin gunung di dada ketika puncak pendakian telah nampak. Anak-anak kecil itu bergelora di kalbu kami. Melompat-lompat kegirangan akan kejujurannya sendiri. Sedangkan watak dewasa itu hanya pasrah tak berdaya, untuk saat ini, pikirku.

Sandiwara itupun berakhir dalam babak baru. Sebuah bab awal dalam sebuah hubungan antar sesama manusia. Menuntun kami menuju ke tempat yang aku sendiri tidak dapat dipahami. Semua kejujuran di jiwa akan membawa kami pada tempat antah berantah yang tak mudah diterima. Namun begitulah hidup selalu penuh misteri dengan daya magisnya sendiri-sendiri.

***

Terimakasih buat teman-teman yang telah membaca kisah ini. Ini hanya sebagai contoh bagaimana kebahagiaan dicapai hanya dengan membiarkan anak kecil berumur lima tahun itu tumbuh di hati dan jiwa.

Rasakanlah kehadirannya. Biarkan ia membawa pikiran dan kesadaran ke tempat yang semestinya. Tempat fitrah semua umat manusia. Karena hakekatnya kejujuran adalah salah satu sifat Tuhan yang sempat Ia titipkan pada kita di waktu yang lalu.

Kali ini saya menantang kalian menuliskan kejujuran yang pernah kalian lakukan. Meski itu sebuah pengakuan yang tak berarti. Tapi itu merupakan salah satu landasan perubahan untuk mengubah dunia. Setidaknya dunia dalam keluarga kita masing-masing.

Hai mas/mbak tolong komennya di kolom komentar ya hehehehe...

Mas kang, Wiwi, mangle, dato Danu, ochey, Seto, Sri, elisa, Isa,

Ibnu Nafisah
Kendari, 29 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...