Akhirnya sampai juga di depan rumah orang tua, tempat segala rasa berawal. Tempat segala jiwa bermukim yang merupakan rahim terakhir di kehidupanku. Malam itu dengan kemeja serta sarung seadanya sedari masjid dibawa juga diri ini menggunakan motor butut milik mereka. Meski sudah bekerja dan berkeluarga namun tetap untuk sebuah kendaraan yang bernama motor belum mampu pula dimiliki secara pribadi.
Lampu kendaraan itu bersinar gemas pada jalan gelap beraspal malam itu. Waktu berbuka sudahlah tiba, segelas air sebagai pembatal puasa telah pula menghapus dahaga. Tinggal sejumput nasi saja yang belum masuk memenuhi ruang-ruang usus besar itu.
Tepat di depan rumah yang saya kenal sebagai rumah yang dituju, telah terparkir sebuah sepeda motor matic. Dengan seorang gadis jika memang bisa disebut gadis. Maafkan saya yang tak tahu menahu tentangnya karena kesibukan dan waktu hanya untuk pekerjaan saja.
Beberapa saat kemudian, ...
"Noooo, Parno? Lama baru keliatan?"
Tegur si gadis dengan riang tanpa basa basi, dengan suara lantang seperti dahulu pernah kukenal. Sepeda motor yang hendak berbelok ke arah pagar rumah orang tua seketika terhenti dan menebak suara yang tak asing namun penampakan yang memang sangat asing.
Rambut panjang hasil smooting sepinggang jatuh manja di badan yang agak gemuk. Wajahnya nampak berisi, pipi tembem menempel seperti bakpao yang belum mekar. Kening lurus di atas kedua matanya yang kini agak nampak sipit. Namun secara garis besar tekstur wajah itu sangat akrab dikehidupan pada tahun-tahun berlalu, jaman sekolahan.
"L," terkah saya pada gadis atau entah statusnya sekarang. Saat itu lampu jalan tak ada hanya cahaya remang dari warung depan rumah yang agak bersinar dibelakangnya namun cukup mendeteksi penampakan seorang yang pernah saya kenal di masa lalu.
"Iya, saya. Lama baru ketemu, dari mana saja?"
Dia bertanya dari seberang jalan seakan-akan saya yang baru bepergian dan dia hanya orang yang menetap di lingkungan ini. Dari caranya berkata-kata sedetik kemudian sudah dapat menerka dialah L yang pernah akrab sedari esde hingga berakhirnya pendidikan terakhir dan setelah itu namanya hilang dalam otak dalam radius 100.000 kilometer.
"Bukankah kamu yang telah lama menghilang dan kini tiba-tiba muncul?"
Kutembak ia dengan tegas agar ia menarik kembali pertanyaan yang baru dilontarkan. Kupastikan ia harus mengakui, ia salah mengarahkan pertanyaan itu.
Setelan baju tidur bercelana panjang putih itu nampak membuat wajahnya nampak agak pucat, tapi bukan karena kata-kata saya namun mungkin saja efek dari bedak yang biasa ia kenakan saat keluar rumah, setelah mandi malamnya, sebab rambutnya pun nampak lembab dibeberapa bagian.
"Hehehe," ia tertawa bercampur senyum yang aku pikir hanya dia yang mampu tertawa semacam itu. Tuhan maha besar menciptakan makhluk yang bermacam-macam salah satunya yang jenis ini. Tidak jelek sih (tertawanya) tapi unik. Ketika ia tertawa matanya menyipit dan pipinya semakin tembem. Suaranya seperti nenek-nenek berkolaborasi dengan burung pipit.
"Iya itu kemarin, sudah beberapa bulan saya di sini, tapi saya di rumah saja, job nyanyi lagi sepi. Istirahat dulu," tambahnya seakan segala yang pernah terjadi dalam hidupnya sangat enteng atau mungkin ia mencoba menyepelekan segala yang pernah terjadi dihidupnya terka saya.
"Trus, kenapa kau kini berada di sini," sambil menunjuk sepeda motor matic hitam yang tepat berdiri kaku di depan warung dipinggiran jalan itu.
"Ini mi yang membuat saya pusing. Saya habis menagih utangku hae, di rumahnya mamanya i Y. Tapi saya merasa dibohongi."
Sontak aksen daerah yang lama hilang kini muncul. Apa karena masalah hidupnya kini membuat ia kembali ingat bahasa ibunya.
"Iya?," sahut saya, ini sudah mulai masuk ke pokok masalah rupanya. Wah, sungguh gadis yang luar biasa.
Ia menyeberangi jalanan beraspal mendekati, karena sebuah mobil telah membuat percakapan kami terhenti oleh silau lampu dan besarnya badan mobil yang memenuhi jalan. Setelah mendekat ia memberi tanda agar mematikan sepeda motor butut yang masih menyala dengan posisi mengarah ke arah rumah. Saya tahu maksudnya ia ingin bercakap secara penuh kali ini. Saya ikuti isyarat itu dan turun dari kendaraan.
Kini kami tepat berdiri di antara pagar besi dengan keremangan yang sama dengan hidupnya yang kini tiba-tiba hadir dipikiran. Rasa penasaran dan keingintahuan yang mendorong saya meladeninya kali ini. Karena sebagian sisi hidupnya yang negatif pernah tertangkap dalam otak ini, meski itu hanya sebagai ucapan beberapa teman.
"Saya ke rumah mamanya i Y, saya tanyakan, ibu ada di rumah? Dan menantunya menjawab: 'ada', setelah masuk dia katakan: 'ternyata ibu lagi keluar,' apakah ini bukan suatu kebohongan?"
Saya tahu ia tidak bertanya kali ini, namun mencari dukungan dari dugaannya saat itu dan saya hanya berkata, "terus..?," agar ia melanjutkan.
"Haji macam apa itu, berbohong," lanjutnya kemudian.
"Siapa yang meminjam? Bagaimana ceritanya sampai minjamnya ke kamu?"
Ini mesti menjadi sebuah hutan baru dengan penghuni yang lama hilang di dalamnya dan saya hanya seorang pencari kayu bakar di sana. Memasuki kerimbunan rimbanya tanpa pernah tahu ujung pangkal pepohonan gelapnya.
"Kejadiannya dua bulan yang lalu saat i Y menabrak mobil karena sekarang ia seorang supir taksi dan harus menggantinya sebesar satu juta setengah. Untung saya orangnya tidak punya dendam padanya. Kamukan tahu saya dan dia dulu punya masalah, dan tetap saya pinjamkan uang itu."
"Masalah...," potongku saat itu, karena ini jadi menarik jika dihubungkan dengan sepak terjangnya yang agak liar dahulu kala.
Dengan senyum yang membuat kedua pipinya makin tembem ia hanya berkata cuek, "ah, semua orang sudah tahu kok masalah itu," yang berarti saya diharuskan tahu masalah yang tidak ingin ia bahas karena mungkin sudah lewat, memalukan atau bukan inti pokok pembicaraan kali ini. Dan saat ini harus menduga-duga masalah tersebut, dan jatuhnya adalah hal miring tentang dia di otak saya.
Masalah yang pernah terjadi mungkin jika dapat saya kira dan reka-reka adalah masalah kenakalan remaja. Jika tidak salah ingat mereka sempat konflik karena si L telah dinodai oleh si Y. Tentu saja itu membuat kedua keluarga bermasalah. Dan berakhir dengan penyelesaian kekeluargaan. Menurut aturan adat si Y harus membayar denda sebesar tertentu kepada L dan masalah dianggap beres. Lalu masalah itu terlupakan seiring waktu. Cara
"Katanya ia akan melunasinya bulan depannya. Tapi nyatanya sampai saat ini dia menghilang. Mamanya tidak bisa dihubungi. Coba ini masalah seratus ribu mungkin saya ikhlaskan, tapi nyatanya ini satu juta setengah," si L terus bercerita panjang lebar tentang ketidakadilan yang ia rasakan.
Aku penat dengan masalah itu, sedikit demi sedikit aku pun mulai mencari tahu sisi hidupnya yang lain, tentang keberadaan dirinya yang tak pernah ada kabar berita dan ia mengatakan bahwa beberapa waktu sempat jalan-jalan ke Singapore bersama rombongan pejabat desa tertentu. Selama seminggu bersama orang-orang tersebut entah apa yang diperbuat dan apa saja kejadian di sana tidak sempat ditanyakan. Semua membuat diri saya kembali berpikir yang aneh-aneh melulu.
"Jadi, sekarang kerja apa dirimu?"
"Biasalah, biduan, mengisi acara!"
"Di mana?"
"Di B."
Seketika saja dugaan yang aneh-aneh itu menjadi nyata ketika tempat B disebutkan. Pikiran berpindah ke tempat remang, musik keras teredam sekat ruangan oleh mereka yang karaoke, minuman keras, wanita-wanita vulgar, kehidupan malam yang penuh sesak dan sesat di ruangan ber-AC dan berasap rokok. Selebihnya, saya tak bisa berpikir lagi.
"Sa sudah lapor juga pada temanku yang Intel," kali ini ia menarik masalah itu kembali dipermukaan, "tapi katanya laporanku tidak kuat karena tanpa kuitansi tanda serah terima, meskipun ada saksi, tapi pertimbangannya tetangga dekat, susah jadinya."
"Mmm ..., kenapa tidak minta ganti saja dengan orang tuanya, sapi mereka banyak berkeliaran setiap hari di sini. Makan bunga dan sayur, kami hanya komplain dalam hati."
"Kalo bisa ketemu tidak masalah, tapi dengar suaranya saja suatu mukjizat. Tapi saya sudah tegaskan pada mereka jika lusa ketika saya datang bersama dengan Oom saya mereka juga tidak melunasi, jadi jangan heran kalo springbednya i Y, saya ambil paksa."
Ucapnya sekali ini penuh semangat. Membuat saya menarik napas mendengar katanya yang sungguh-sungguh. Menurut saya gadis ini cukup niat dalam hal ini. Entah karena hidupnya terbiasa dengan hal-hal begini atau memang hidup mengajarkan ia untuk tegas akan haknya.
Kehidupan keras telah membuatnya tangguh untuk terus berjuang. Bukan sesuatu yang baik memang jalan hidupnya namun, ia berusaha untuk tidak menyimpan dendam dan menjaga setiap yang menjadi haknya.
Ia telah menentukan sikap, memilih jalan yang harus diambil. Seperti ketika ia menjalani hidup ini begitulah ia memaknai segalanya bertindak atau situasi berkata lain.
Sementara monster mulai berkecamuk di dalam lambung minta diberi sesuatu jika tidak ia pun akan bertindak dan itu pula adalah suatu pilihan buat saya. Secara cepat dan tepat pertemuan kali ini harus sampai di sini dan ia mengerti.
"Jangan lupa batalnya pake air putih," balasnya saat saya mohon diri secara teratur, mungkin ia pikir saya belum berbuka puasa.
"Baiklah," balas saya sekenanya dan berlalu seketika meninggalkan L dengan masalah dan juga hidupnya. Tanpa perlu menoleh lagi ke belakang.
Ketika membuka pintu rumah nampak Y, berdiri penuh curiga. Kami hanya saling memandang tanpa kata. Saya tahu apa isi kepalanya. Seribu tanya mengangkasa di sana, namun tak jua membuat saya membuka mulut atas pandangannya. Hanya menganggapnya angin yang tak berarti.
Komentar
Posting Komentar