Langsung ke konten utama

#day6


#ARTmazing #days #writingchallenge #wc11 #Backtochildhood

#day6 

This is me.

Setelah apa yang dilakukan 5 hari terakhir ini, siapakah aku yang sekarang? Ambilah foto yang menyimbolkan diri Anda melalui gadget Anda (no googling, please). Pastikan simbol tersebut benar-benar menunjukkan "ini aku".

***

Anak lelaki berumur lima tahun itu masih terkurung dalam jiwaku. Kadang tangisnya terdengar bagai hujan purba. Menempel pada dinding, lantai, atap rumahku, bahkan pada pikiran. Terkadang tawanya terbawa angin. Memeluk tubuh hingga gigil menggigit.

Mencoba keluar menyuarakan kegamangan hati. Teriakan-teriakan pilu di keheningan malam di dunia yang entah di mana. Sesekali kudengar suaranya bernyanyi parau di halaman rumah sepi, seorang diri. Ketika kudekati hanya kudapati diri berdiri sendiri.

Ia adalah misteri sekaligus cerita yang tak mudah dibuktikan. Keberadaannya menghantui otakku. Kedatangannya membuat bawah sadar merinding. Karena dia menjelma nyata dalam mimpi. Berkata-kata dalam khayalan. Suatu ketika ia juga hidup dalam hatiku.

"Siapa gerangan dirimu, yang selalu datang dalam setiap tidurku?"

Tanyaku pada bayang malam. Tiada jawab, hanya siulan angin bersuara pedih di sela-sela lubang udara. Lalu kepakan burung hantu terbang ke kejauhan.

Di malam lain pun kutanyakan, "katakanlah sekarang siapa dikau dan apa yang kau inginkan pada diriku?"

Kali ini cuma jeritan daunan berkelebat di pepohonan. Selebihnya malam panjang menemani tanpa henti.

Aku menyerah dan kalah padanya. Berkata-kata pada tembok bisu, mengadu-ngadu di lantai beku. Seakan segala-galanya tak dapat kuraih. Ya. Aku kalah dan pasrah. Kita hanya bisa berkata-kata dalam diam. Saling melempar senyum dalam mimpi. Itu saja.

Seakan kami hanya berteman di antara dunia yang berbeda. Ia mengendalikan jiwaku dari dalam. Sementara aku hanya wayang yang nampak di depan layar. Kami berkolaborasi dalam dunia yang aneh.

Yah, inilah yang terjadi. Inilah diriku yang sebenarnya. Seseorang yang tetap hidup dalam dua dunia  yang berbeda. Dua jiwa yang berbeda. Tanpa tahu siapa ia di sana. Telah mengambil peran sebagai anak-anak berumur lima tahun dan mencoba memaksa aku yang dewasa tersingkir dari jasad kasar ini.

Jika Anda membaca ini kilasan ini mungkin mengatakan itu suatu yang muskil. Tapi percayalah itu nyata. Bahkan sampai tulisan ini tercipta merupakan hasil keinginan ia belaka. Rasa ingin dianggap ia ada dan nyata. Namun, ia selalu bersembunyi dalam jiwaku yang remang.

Menuntun langkah dan jentik jemari untuk menuliskan apa yang bukan hasil cipta diriku yang nyata.

Ketahuilah ia sangat pemalu, manja, juga pendiam. Wajah polosnya seakan mengibakan mata yang melihat. Tapi kalian jangan terkecoh. Ia pandai memainkan peran sehingga segala inginnya kau penuhi dengan sukarela (bagian ini kutulis saat ia sedang asyik bermain dengan mobil-mobilannya, ih, dasar anak-anak).

Mungkin kau akan bertanya-tanya seperti aku siapa gerangan anak ini. Itulah yang jadi misteri. Tak ada fakta yang mengatakan ia ada. Bahkan teknologi yang tercanggih pun belum mampu merekam gambar dalam mimpi serta khayalku.

Mungkin lain waktu ia mau kuajak keluar dari dunianya, masuk ke dalam dunia nyata kita, nah, saat itulah bisa dibuktikan keberadaannya.

Tapi jangan putus asa. Baru-baru ini saya menemukan sebuah video yang mirip, persis, seperti anak yang kuceritakan itu. Tapi sayang ia anak perempuan yang lincah dan menggemaskan. Namun, secara keseluruhan mereka mirip satu sama lain. Semoga mereka dua orang yang berbeda. Pintaku.

Ibnu Nafisah
Kendari, 30 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...