Langsung ke konten utama

11 DESEMBER

11 Desember

Loteng, 13 Desember 2009

Hujan gerimis terus berjejer di ujung atap. Tirai itu masih tertutup, sama seperti hari-hari yang lalu. Inilah tempat tinggalku yang sekarang Loteng Remang berjendela dan bertirai rapat. Deretan buku yang ingin kubaca serta koran-koran lusuh bertumpuk di atas meja belajar bercat kuning.

Kedua saudara serta orang tuaku yang cenderung sedih, tidak pernah lagi menengok aku di sini, mungkin sesekali saat menjemur pakaian dan terkadang melirik ke arahku, tapi hanya sebatas menyebut nama lalu berlalu dengan sedih.

Aku pun cukup nyaman di sini, menghindari kesedihan serta kebisingan yang aneh di bawah sana. Tak ada yang aneh pada diriku, tp mereka terkesan aneh pada diriku. Siang hari mereka tampak berbisik-bisik, tanpa ada orang yang nyata dan saat malam tiba mereka kembali ramai, dengan penampakan yang jelas. Namun, mereka tak pernah menggubris aku di sini ataupun sekedar mengajak makan bersama. Tapi itu bukan hal yang penting lagi buatku, semua terasa nyaman di sini, jauh lebih nyaman.

Hujan semakin lama semakin deras, namun dinginnya tak terasa, hanya suara gaduh di atas atap, menderu-membahana-mengucur. Perlahan dan sangat perlahan kujejaki lantai kayu hingga deritnya pun tak terdengar, melintasi ruang kamar berukuran 6x4 m itu cukup mudah, semua bergerak sesuai keinginanku. Kaki, tangan serta seluruh tubuh berfungsi dengan baik tak ada yang perlu dirisaukan. Badan ini tetap sehat walafiat, tak ada tanda-tanda aku memiliki penyakit yang harus dirisaukan serta dihindari.

Kalender dengan gambar rumah kayu masih menempel di salah satu sudut dinding, 11 Desember 2008 dengan lingkaran merah. Seribu Tanya menghujam kepalaku ada apa dengan 11 Desember 2008? Sesuatu yang kecil tapi membuatku terus bertanya. 10 Desember, ujian final, 22 Desember, hari Ibu, 25 Desember, Natal, tp tgl 11 Desember?

Kubuka catatan di atas meja, hanya ada puisi serta gambar-gambar yang tak jelas. Beberapa buku tebal yang mungkin tak pernah lagi kubaca, debu mengepul dari tiap helainya. Koran-koran yang telah tergunting di beberapa halaman.

Tanggal berapa sekarang? Ini aneh? Mengingat semua ini membuat pusing, pusing yang aneh seakan obat bius menjalari seluruh tubuh dan perasaan ringan, tubuh terasa ringan, hingga bagai melayang menyentuh langit-langit kamar, dan semua gelap.

***

Loteng, 12 Desember 2009

Sebuah weker berbunyi di meja kuning, dan itu sangat mengganggu. Satu gerakan cepat dan seketika weker bundar itu terdiam membisu, tak ada jarum jam yang bergerak lagi. Hariku puas karenanya.

Tapi dengan begitu telah mengusir ngantuk dari tidur yang panjang. Seperti biasa untuk pagi ini aku malas turun ke bawah, rasa lapar telah hilang dari hidupku. Suara mereka pun tak terdengar lagi. Hanya sekali bantingan pintu dari bawah dan semua membisu.

Dengan perlahan melintasi lantai kayu dan berhenti di mulut tangga. Tak ada yang aneh. Semua diam dan membisu. Mereka telah pergi pikirku. Ini saat yang tepat untuk menjelajahi isi rumah.

Keadaan di bawah sangat silau, hingga mata tak dapat menyesuaikan dengan sinarnya. Dengan tangan menutup sebagian wajah kujejaki pula tangga kayu hitam itu, dengan penuh kewaspadaan. Rasa takut merasuki sekujur tubuh, keringat dingin menetes dari dahi. Tiba-tiba rasa takut yang aneh datang bergelombang, kembali kutarik kaki dari anak tangga dan berlari secepat aku bisa ke dalam kamar loteng yang kini menelan tubuhku ke dalam keremangan abadi.

***

Loteng, 10 Desember 2009

Suara malam seakan membangunkan aku dari tidur yang lelap sekali. Dentingan piring dan gelas terdengar jelas, itu pertanda makan malam telah usai. Mungkin beberapa menit lagi mereka akan berkumpul di ruang TV dan tentu saja ruang makan adalah tempat yang tergelap di rumahku saat itu. Hatiku puas, mungkin dengan demikian aku akan berkeliaran untuk mencuri dengar perbincangan mereka, dan tentu saja makan malam dalam kegelapan.

Dengan menghitung dalam bisu kupastikan semua telah sesuai rencana, mengendap dan menuruni tangga satu per satu. Dugaanku memang benar, mereka telah meninggalkan ruang makan, hanya lampu remang dari ruang di sebelah yang masih menyala, percayalah situasi malam ini mirip adegan dlm film horor, dgn lampu tiba- tiba mati, lalu menyalah dan kemudian mati lagi. Mereka semua ada di ruang keluarga, suara TV dengan komentar-komentar tak jelas itu saat-saat yg membuatku merasa rindu akan sesuatu.

Tak kusangka malam hari dengan udara meremang begini mempermudah segalanya, tubuhku dengan mudah menyesuaikan, melewati meja makan, kursi-kursi, kamar mandi, dan tempat cuci piring, serta tentu saja lemari makan. Namun itu semua menghilangkan selera makanku, tak ada yang dapat dimakan.Sial.

Malam merambat begitu cepat, suara-suara makin lama makin redup dan hilang. Sinar pun meremang tak ada cahaya, hanya keremangan dalam kegelapan. Dengan mantap kujelajahi isi rumah, di kamar tampak adik-kakakku tertidur pulas sementara di kamar lain kedua orang tuaku masih berbisik-bisik lirih tidak jelas. Meja-kursi di ruang keluarga menjadi tempat yang kurindukan, saat menonton acara kesukaanku. Tiba-tiba perasaan rindu timbul tenggelam tak jelas. Ini rumahku dan aku masih di sini kemana saja aku selama ini, pertanyaan yang aneh untuk situasi yg aneh.

Foto keluarga terpampang apik tepat di atas TV di ruang keluarga, semua masih ada dan jelas. Aku berdiri di sana, tersenyum.

Ikan lohan itu, telah berganti warna atau berganti ikan, wah aquarium itupun tak jelas warna airnya. Rumah ini tak banyak berubah, atau tidak ada perubahan, atau suasana yang berubah. Penyakit ini sepertinya membuat aku tak sadar akan realita dan keseharian nyata. Semua berjalan maju tanpa aku sadari, dan semua terus bergerak meninggalkan aku tanpa kabar dan ingatan sedikit pun.

Tak ada masa lalu yang dapat kuingat, selain perasaan mengenal mereka, orang tua dan adik-kakakku. Dunia tiba-tiba mengecil menyisahkan aku dgn pikiran sendiri, merasakan kehadiran mereka, dan merasa mengenal tempat ini. Malam terus berlompat, jarum jam berputar cepat, seiring waktu yang bergolak maju. Dalam sekejab udara sesak menerobos saluran pernapasan, tak ada nafas. Kegelapan total berputar di bola mata dan akhirnya hilang entah kemana.

***

Loteng, 9 Desember 2009

Perasaan aneh terus-menerus muncul, siang yang tak pernah lagi kurasakan dan malam yang terasa panjang dan lama.mereka yang aku kenal kini terasa jauh, begitu jauh hingga ketakutan yang tidak beralasan muncul entah dari mana. Namun tak ada rasa sepi semua begitu damai dan tenang. Tenang dan sangat tenang dalam kesendirian.

Hari terus berlari, begitu pula malam yang kini sangat akrab denganku. Dunia kini terbalik. Siang adalah waktu untuk menghilang dan malam merupakan saat bertindak mencari sesuatu yang aku sendiri tak tahu. Di sini ada yang tidak beres. Tapi apa? Tidak ada jawaban semua kembali ngelap dan menghilang.

***

Taxi, 11 Desember 2008

Seperti sebuah mimpi, tiba-tiba saja aku berada dalam sebuah taxi, duduk dengan rasa gelisah, sedangkan supir taxi nampak serius di belakang stir.

“Jalan Anawai Pak, Lepo-Lepo!” kataku, tampak ragu.

“………………………”,ia hanya melirik pada kaca spion di atas kepalanya. Detik berikutnya ia menatapku dari sana.

“Tapi…, pelan-pelan saja Pak soalnya hujan, jalanan licin!”

“………………………”, seraut senyum aneh menghiasi bibirnya.

***

Kampus, 10 Desember 2008

Kudaki pula anak tangga ke lantai dua Fakultas Ekonomi. Beberapa anak bergerombol di sekitar tangga dan seseorang tiba-tiba menegur.

“Wuiiii….kayaknya besok ada yang ultah niiii….!”

“Oooo..Haiiii.., Mat, kirain sapa. Ultah? Siapa?

“Kura-kura loo…!”

“Kura-kuraa..?”

“Iya. Lo lagi mihara kura-kura, kan? Hahhaaa..hahhaa…!”

“Haaa..hahaaa…!?%^&”, anak-anak pada tertawa. Sial aku dikerjain.

“Iya, Kura-kura. Kura-kura dalam perahu, pura-pura tidak taw.”

“Oh, ituu…, emang besok tanggal berapa?”

“Ingat..11 Desember…, kita semua minta ditraktir,…hahhahaa…..”

“Itu bisa diatur tapi, hari ini ujian dulu sob…!”

“Yo aaiii…slamat ya…!”, kata yang lain

Slamatnya besok aja, sekalian , hahaha…hahhaa…, ditraktir!”, seru Mamat n’ The Gang, ceria.

***

Pelataran Fakultas Ekonomi, Unhalu, 11 Desember 2008

Sebuah taxi menepi. Lampu menyala di atas, pertanda taxi kosong. No. 011, wah pas betul. Tanggal 11, no. 011. semenit berikutnya aku menghilang di dalamnya. Sebentuk asap mengepul bersama cipratan air di belakang taxi itu.

Supir taxi melirik pada kaca spion di atas kepalanya.

“Jalan Anawai Pak, Lepo-Lepo!”, kataku, ada senyum aneh di bibirnya, sangat aneh. Percayalah aku bisa membaca mimik wajah aneh ini.

“Tapi, pelan-pelan saja Pak, soalnya hujan, jalanan licin.”

***

Ruang Keluarga, 9 Desember 2008

Dengan gaya andalan di depan TV, kepala nyandar (setengah tidur), di kursi, sedangkan kaki selonjoran di atas meja kayu. Pas Bangat. Kata anak-anak T.O.P.B.G.T. filmnya pun seru, ‘The Incredible Hulk’.

Sementara adik–kakakku sedari tadi sibuk di kamar sepertinya melakukan persengkongkolan terlarang. Mereka selalu saja berbuat yang aneh-aneh padaku. Dan tiba-tiba pintu kamar terbuka, mereka berdua secara perlahan-lahan duduk dan ikut nonton bersamaku.

“Kok nonton tidak manggil-manggil sih?”, tegur si bungsu

“iya nih, dari tadi ya?”, si sulung nimbrung

“Mmmm…jangan ribut, duduk dan nonton!” si tengah menggeser ke tengah.

“Emmhh…, lusa ada kuliah, tidak?”, tiba-tiba si sulung nanya, disertai lirikan jail si bungsu. Mereka memang tim yang kompak untuk hal-hal yang kotor.

“Ada. Napa?”

“Bis kuliah mo kemana?”

“ Mmm..belum taw..!”

“Langsung balik ya….!?”

“Ada apa sih?”

“Hahaha…, mau taw aja…!”, kembali tawa mereka meledak di udara, membuatku bertambah curiga. SANGAT CURIGA.

***

Taxi, 11 Desember 2008

Taxi dengan No. 011 melaju kencang di jalan sempit, begitu pun ketika memasuki perempatan lampu merah. Sebelum warna menjadi hijau, taxi itu sudah melesat jauh ke depan melewati pos polisi. Tepat ketika melewati sebuah mikrolet (mobil angkutan umum), seorang penyebrang jalan berdiri tepat di depan mobil taxi. Dengan cekatan sopir taxi memutar stir ke arah kanan, dan naas sebuah truk dari arah depan melaju kencang ke arah mobil taxi. Sehingga tabrakan maut tak dapat di elakkan lagi. Mobil taxi tak bergerak, begitu pula supir taxi sialan itu. Dengan susah payah kugerakkan sekujur tubuh agar bisa bernapas, tp semua gelap. Sesak. Dan detik berikutnya taxi itu mengeluarkan bunyi ledakan dahsyat. Sangat keras sehingga telinga tak dapat lagi mendengar keramaian yang terjadi tiba-tiba di bawah guyuran hujan siang kelabu itu.

***

Loteng, 10 Desember 2008

Meja kuning itu begitu berantakan, penuh dengan guntingan koran, buku-buku kuliah yang tebalnya minta ampun. Masa ujian kini datang lebih cepat, meski malas belajar, tapi ujian seperti ini mau tidak mau harus mau untuk belajar. Semua dah beres. Ujian hari pertama pagi tadi sudah di mulai. Mungkin hingga minggu depan persiapan perlu lebih baik lagi.

Sebuah tanggal di dinding kutandai : 10 11 12 13 14 15……

Kucoreti tanggal sepuluh, pertanda ujian pertama telah berlalu dan tanggal 11 untuk hari ulang tahunku.

***

11 Desember 2008, 10.30 Wita.

Senyum it terus menghantui aku.

Detik berikutnya hujan deras turun, pandangan di depan mata tampak kabur. Sekilas tampak lampu merah menyala. Supir aneh ini tak sempat memperhatikan lampu tersebut. Taxi terus meluncur, memercikan air ketepi jalan. Keramain mobil pun dilalui dengan mulus. Hanya sepersekian detik berikutnya sebuah mikrolet nampak di depan mata menghangi pandangan, dengan gesit supir taxi melambung dan kemudian berbelok ke arah kanan demi menghindari penyebrang jalan yang berdiri tiba-tiba di sana. Selanjutnya tabrakan maha dahsyat terjadi di bawah guyuran hujan, tepat di depan mobil truck yang sedang melaju kencang.

Pelataran Fakultas Ekonomi, Unhalu, 11 Desember 10.00 Wita.

Musim hujan seperti saat sekarang mikrolet penuh dengan mahasiswa. Menunggu? Ini tidak mungkin “mereka menungguku untuk hari special ini, pasti itu”, aku membatin dalam hati. Dan lagi tak ada mikrolet yang berhenti untuk menurunkan penumpang di sini. Tiba-tiba taxi dengan No. 011 menepi, tanpa pikir panjang langsung saja aku menghilang di dalamnya.

“Jalan Anawai, Lepo-lepo Pak!”

“……………………………….”, tatapan aneh itu.

“Pelan-pelan saja Pak, soalnya hujan, jalanan licin!”

“………………………………..”, senyum aneh itu begitu kukenal. Sepertinya wajah itu sudah tak asing lagi bagiku.

Taxi melaju di atas aspal yang telah berlubang, memercikan air pada tepi jalan. Perempatan lampu merah begitu rame, namun hujan sangat lebat bagai badai kabut di siang hari. Dengan kecepatan tinggi taxi no.011 melintasi lampu merah, meninggalkan keramaian di belakangnya, melewati mikrolet dan satu gerakan gesit berbelok ke kanan menghindari pejalan kaki, dan satu lagi belokan ke kiri demi menghindari sebuah truck.

Rasa lega tiba-tiba merayapi sekujur tubuh. Dari balik kaca belakang nampak truck tersebut terbalik ke tepi jalan. Hari naas buat pengendara truck.

Jalan Anawai tampak di depan mata, namun bendera putih menggnggu pikiranku. Setelah memasuki jalan beraspal itu semua tampak aneh. Sekali lagi ini tampak aneh. A.N.E.H. Dan taxi berhenti tanpa diperintah lagi.

Tanpa sadar aku keluar tidak melalui pintu lagi. Menerobos kerumunan orang yang kini berkumpul di depan rumah. Dengan rasa gelisah, tiba-tiba aku sudah berada di dalam rumah.

Kesedihan terpantul di wajah kedua orang tua dan adik-kakakku.

Dan seraut wajah pucat, tertidur pulas di sana.

***

Loteng, 11 Desember 2009

Malam ini begitu panjang. Sama malam yang kemarin. Aku berjalan gelisah di seluruh rumah. Tapi, tetap saja tanggal 11 Desember 2008 menjadi sebuah pertanyaan besar buatku di malam gelap dan panjang ini. Sementara lingkaran itu begitu jelas di kalender kamar tidurku,………………

***

KamarKoe, 18 Desember 2009

The End

Komentar