#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood
#day2
Active Learning
Pembelajaran seperti apakah yang Anda butuhkan untuk mencapai ide yang sudah Anda rencanakan kemarin?
***
Anak berumur lima tahun di dalam diriku kini mulai mengucek-ngucek kedua belah matanya. Menarik-narik badannya yang kurus penuh tulang.
Setelah mandi dan sisiran ia langkahkan pula kaki-kaki kecilnya menuju meja makan. Sarapan telah siap. Sebuah telur dadar dan dua helai roti bakar mengapitnya. Segelas susu langsung meminta diri dihabiskan lebih dulu. Namun, roti bakar mencegahnya.
"Habiskan kami dulu," kata roti bakar, "tidak lihatkah pengorbanan tubuh kami setelah dibakar dan digoreng pagi ini, kami berkorban demi kamu!"
"Apa saya kurang berkorban demi kamu?" Kali ini susu tak mau kalah, "sepagi ini aku sudah disiram dengan air panas dan itu pun demi kau!"
"Pergi!"
Kataku pada mereka, pada khayalan yang tiba-tiba datang menerpa pikiran. Apa mimpi semalam telah jadi nyata?
Semalam sempat bermimpi. Saya yang berumur tiga puluh lima tahun, telah beranak dan beristri kini menjelma menjadi seorang anak berumur lima tahun. Ini tidak mungkin. Tidak akan pernah jadi mungkin. Sekejap kedua kaki ini berlari dalam ketakutan. Menyusuri kamar merapatkan wajah ke depan cermin. Tentu saja tampak seorang bapak berkumis tipis dengan rambut cepak di sana, masih berdiri menyapu dada.
"Hehehehe.., dia masih sama yang kemarin," tunjukku ke cermin.
Ya. Mimpi yang aneh juga pagi yang aneh sekaligus.
"Pa? Sudah sarapan?"
Tanya sang istri yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk terlilit di kepalanya.
"Iya Ma, sebentar lagi!" Kujawab pula ia masih dengan senyum-senyum sendiri.
Setelah berpuas diri dengan diri sendiri, kini saatnya menghabiskan mereka di atas meja makan. Habis. Tak tersisa secubit pun di piring.
"Kalian memang penuh pengorbanan kali ini," batin itu berujar.
"Gimana Pa? Enakkan?"
Wanita itu masih juga memamerkan senyum termanis seperti pagi-pagi yang lain. Namun aku diam saja merapikan kemeja kantor yang agak berlipat.
"Pa, gimana?"
Tegurnya kali ini butuh sanjungan yang seperti biasa ia inginkan. Tapi rasa-rasanya sanjungan itu tak jua keluar dari bibirku yang beku. Seakan rasa enggan bertahta di sana. Hatiku bergolak, tidak setuju sebenarnya. Susu yang kemanisan dan telur tampak kecokelatan hampir gosong. Tidak becus. Jiwaku tak tega berkata jujur. Namun, diam? Ini pula tak benar.
Selama lima tahun perkawinan ini, beginilah setiap paginya. Sarapan yang sama. Rasa yang sama. Kalimat yang sama.
"Sangat enak, sayang!"
Jawabku selalu begitu. Tapi pagi ini kata itu tak pula kunjung keluar menyapu telinganya yang lembab oleh titik-titik air dingin di sana. Tak ingin berkata bohong lagi meski itu membuatnya bertambah manis karena senyuman itu.
Bukannya ingin merusak pagi yang indah ini. Tapi sebuah kejujuran harus pula disuarakan meski buatnya sedih. Tapi hati ini pun butuh didengar, menyiarkan kebenaran itu sendiri. Kali ini. Pagi ini. Ia harus tahu yang sesungguhnya.
"Ma, sarapan pagi ini sangat enak, tapi lain kali jangan seperti ini ya, telur dadarnya agak gosong. Susunya jangan kemanisan. Mama tidak inginkan Papa sakit gula?"
Kalimat itu kini meluncur lancar tanpa beban. Aku hanya anak kecil di matanya saat itu. Bibirnya yang ranum membuka seirama matanya bak bintang pagi itu semakin terperangah.
"Pa? Papa sakit?"
Kata yang keluar mulutnya yang masih tak percaya atas pendengarannya.
"Tidak Ma, Papa hanya ingin belajar jujur mulai saat ini," jawabku padanya.
Setelah mengecup dahinya yang basah, kutinggalkan ia dalam diam seorang diri.
Mungkin bukan buat dicontoh, namun inilah salah satu dilema kejujuran yang harus diterima oleh mereka yang mendukung rasa itu.
"Selamatkan dirimu dari rasa membohongi diri sendiri."
Itulah salah satu langkah awal, memulai jujur dari diri sendiri dan orang terdekat meski rasanya sulit. Demi kejujuran yang kau perjuangkan.
Ibnu Nafisah
Kendari, 26 Juli 2016
Komentar
Posting Komentar