Langsung ke konten utama

#day7


#ARTmazing #days #writingchallenge #swc11 #Backtochildhood

#day7

I am #ARTmazing

Ini hari terakhir! Setelah #backtochildhood selama seminggu ini, semangat PICT (positive, inspirative, creative dan transformative) apa yang telah bekerja dalam hidup Anda? Dan bagaimana Anda membiarkan semangat itu tetap bekerja?

***

Apa yang harus kukatakan pada kalian kali ini. Lihatlah diri ini sekali lagi berwajah dan berpenampilan  selayaknya seorang dewasa berusia tiga puluh lima tahun. Berkumis tipis, sorot mata tajam di bawah alis tebal dan hitam. Bibir seakan segan mengumbar senyum. Raut muka keras dengan rahang agak kencang  di tiap sudutnya.

Jika kulangkahkan kaki menuju kantor dengan tegap, orang-orang telah mengenali siapa itu. Ya, Supadmo Wiranata, pekerja keras, tiada kenal waktu dalam berusaha, berani jujur meski mengundang bahaya. Namun, mereka tidak mengenal siapa sebenarnya Padmo ini mereka hanya mengenal sisi luar saja. Perawakan yang tidak terlalu tinggi dan terkesan kurus dibalik bajunya yang sering lusuh.

Mereka tak pernah mengenal Padmo kecil yang kini hidup dan bermain di dalam diri Padmo dewasa. Mereka tidak mau atau tidak mau tahu, pikirku.

Kejujuran memang kadang menjadi bumerang. Ketika kita melemparkannya dengan tangan dan saat itu pula tidak bisa ditangkap dengan tangan pula, maka bersiap-siaplah menerima ganjarannya. Karena bumerang pertama itu telak mendarat di pangkal leherku sendiri.

Pagi itu keadaan kantor seperti apa adanya biasa. Orang-orang yang berlalu lalang tanpa henti. Bunyi keyboard yang diketik tanpa henti. Suara telepon di beberapa sudut ruang. Dan juga surat-surat.

Surat kali ini begitu membuatku tertegun. Isinya sontak membuat jiwa gamang.

"Akhirnya, ia melakukannya juga," ucap bibir pada diri sendiri.

Sebuah surat mutasi ke daerah yang setahuku tempat itu sangat terpencil di peta. Oh. Inikah nama lain dari pemecatan. 'Dimutasikan dengan hormat?' Bukankah dengan begitu aku harus memilih keluar secara sukarela tanpa uang pesangon serupiah pun?

Trik lama tapi selalu ampuh bagi pegawai jujur seperti Padmo. Atasan yang maha kuasa telah memimpin dengan tangan besi. Jika bawahan melawan meski atas dasar kejujuran ia tetap diinjak tiada ampun.

Sebuah kejujuran harus terbayar dengan surat pengunduran diri. Tanpa memandang jasa dan kinerja beberapa tahun lalu. Baiklah inilah saatnya. Anak kecil itu hanya tertawa-tawa kegirangan dan ia yang dewasa merana hampir-hampir kehilangan pegangan.

Karena inilah yang dicari sejak awalnya, maka inilah yang diperoleh. Buat apa bertahan di antara lumpur kolam teratai jika akan mengotori kelopak putih nan suci. Baiklah sebuah surat pengunduran diri kembali masuk ke ruang pimpinan. Dan hari itu Padmo dinyatakan menganggur. Secara otomatis pengangguran kini bertambah seorang lagi.

Apa yang harus dilakukan dengan sebuah kejujuran di hati sementara kehidupan terus berjalan? Sebuah kepasrahan tentunya. Tidak mencoba melawan tapi mengikuti jalannya alur aliran sungai kehidupan. Bukankah manusia dibuat dari tanah yang mudah dibentuk? Bukan dari besi yang beku atau kayu yang mudah rapuh dan patah.

Siang itu Padmo dewasa termenung sementara Padmo kecil masih juga memainkan nasi di piringnya yang mulai dingin.

"Apa sayurnya kurang garam?"

Suara manis itu berasal dari seberang meja. Seperti biasa sang istri menemaninya makan siang. Tapi, yang ditanya hanya menggeleng lemas.

"Ikannya terasa gatal?"

"..."

"Apa ada masalah di kantor?"

"..."

Tetap tak ada Jawaban. Namun, kali ini sorot mata mereka saling berbicara. Saling berkomunikasi dengan bahasa yang hanya mereka yang tahu.

"Sebuah pemecatankah akhirnya?"

"Bukan seperti itu, tapi ya. Papa meminta mengundurkan diri. Tidak bisa lagi Papa berada dalam situasi seperti sekarang. Dengan pikiran idealisme seperti ini. Papa terlalu baik untuk ikut menceburkan diri dalam lumpur itu."

"Lalu apa yang Papa sesalkan? Itu sebuah pilihan dan Papa memilih dengan sukarela kan?"

"Bukan pilihan yang Papa sesalkan tapi, Papa takut tak mampu membahagiakan Mama seperti dahulu."

"Bagi Mama bukan kemiskinan yang ditakutkan, tapi dirimu Pa. Berbahagialah maka Mama akan terus tersenyum di sampingmu."

Akhirnya rasa plong itu terasa begitu menyejukkan. Bagai musim kemarau kemarin dihapus hujan sehari. Semuanya kelegaan menampar daunan hijau di hati.

Siang itu berlalu dengan kelegaan yang luar biasa. Sebuah kejujuran ternyata tidak mesti harus dibayar dengan kesedihan. Sebuah kelegaan dari kata-kata dari seorang yang tercinta merupakan suatu keindahan.

Rasa inilah kini yang sedang bekerja dalam jiwa Padmo kecil. Menyuarakan kemerdekaan pribadi tanpa batas dan aturan baku yang sedang terjadi. Sejak hari itu Padmo menyerahkan kejujuran dan keluguan hidupnya hanya pada anak-anak yang masih berumur lima tahun itu. Tanpa pernah saling membantah lagi dengan Padmo dewasa.

Lihatlah sebuah kejujuran akan bekerja. Lihat ke dalam diri. Apakah anak-anak itu telah mulai melompat-lompat dalam jiwamu? Jika iya, sebaiknya dengarkan apa sebenarnya keinginan pintanya. Karena mungkin ia adalah jalan kebahagiaanmu. Selamat mencoba.

Ibnu Nafisah
Kendari, 31 Juli 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...