PENGAKUAN KORBAN MALPRAKTEK
Siang itu si Astra, seorang pegawai kantoran di salah satu instansi pemerintah merasa paling sibuk dan sakit sedunia. Pagi-pagi buta ia telah meninggalkan rumah. Melepaskan diri dari belai hangat selimut hidupnya, istri tercintanya. Demi mengendarai tunggangan liarnya, istri keduanya. Si H*nda butut warisan satu-satu dari bapaknya. Tak penting menyebut umur pakai benda itu. Mendengar pengakuan orang tua Astra kita sudah bisa tebak berapa lama kendaraan itu ada.
"Tra, bapa tidak bisa memberi apa-apa buat kamu. Hanya inilah yang bapa punya," kata bapak sambil menunjuk dengan dagu pada seonggok besi tua.
Astra cuma bisa tersenyum saat itu, "terima kasih Pak. Tapi berapa sih, umur motor ini?" tanyanya kemudian.
"Lebih tua darimu, dia itu kakak kamu!"
Si anak cuma tertawa menelan lelucon lelaki tua itu.
Setelah lelah berkeliling di beberapa instansi demi sebuah urusan pekerjaan. Kini saatnya mengobati yang salah di dalam hidupnya. Yah, ia butuh diperiksa. Merasa sakit tapi tidak ada penjelasan. Merasa tidak beres namun tak tahu di bagian mana. Inilah dilema yang dirasakannya. Seperti sakit yang tidak pernah terdeteksi oleh medis, tapi ditangan dan penerawangan seorang cenayang akan nampak kasat, nyata, di sana.
Seperti ada barang yang menggunting dalam lipatan atau jarum jatuh di dalam jerami, sakit menusuk tapi tak nyata. Bahkan berasa tong kosong berbunyi kosong tapi nyaring. Bersuara tidak jelas.
Ingin meraung tapi takut ada yang menegur. Mau diam saja, tapi ada yang mengganjal. Ini rasanya seperti mau buang hajat tapi belum tiba di tempatnya. Gemas, panas dingin, suasananya tidak menyenangkan. Panik tingkat dewalah judulnya.
Sudah berusaha ia obati tapi malah makin parah. Tempat ia berobat saat itu memang terkesan agak liar, tidak bonafid. Mungkin juga tidak ada izin beroperasi. Jadi Astra menduga ada kesalahan di sini. Apakah ini malpraktek? Sebuah tanda tanya besar di kepalanya.
Hingga tibalah ia di sebuah tempat yang agak lain. Lebih besar, bersih, nyaman, ya kalo bisa di bilang klinik-lah bagi sesuatu yang salah tapi tidak jelas di bagian apanya.
Bangunan itu begitu luas. Bercat putih, terkesan higienis di bagian depannya. Seorang penerima tamu duduk manis di sana dan beberapa orang sedang menunggu.
"Selamat siang! Ada yang sakit Mas?" tanya si resepsionis itu.
"Sakit?" Sedikit mengerutkan dahi awalnya, kemudian ia melanjutkan, "iya, sepertinya saya telah terjebak malpraktek," Astra membalas argumen yang agak aneh dari sang wanita berhijab putih itu.
"Wah, itu gawat, bagian mana, Mas?" Masih dengan memasang wajah lugu, sang resepsionis mulai mengorek info dari pelanggan barunya.
"Auh ah," balas sekenanya, "mending check up aja kali Mba?"
"Check up lengkap atau sebagian?"
"Lengkap!"
"Tidak lapor polisi, itu kan pelanggaran?" Mba itu sedikit senyum manis.
"Ah, tidak perlulah, masih bisa jalan gini, meski kadang bunyi tidak jelas di dalam ini, sungguh mengganggu."
"Lapor aja, masukin di media, biar tau rasa tu dianya," wajah serius itu pun bertambah manis, "kemarin aja, sama, korban malpraktek kayak gini juga, tapi sayang langsung mati di tempat!"
"Mati?"
"Iya mati, berhenti, end, tamat. Untung Mas cepat kemari, kalo tidak mungkin nasib bisa jadi sama," kata si resepsionis.
"Wui, horor, tapi bisa dihidupkan lagi kan?"
"Ya, bisalah, namanya juga mesin. Pokoknya motor Mas masuk sakit, dijamin keluar sehat!" kata si mbanya sedikit promosi.
"Oh, kirain," sambil urut dada Astra merasa lega akan nasib si kekasih liarnya itu.
"Nih, nomor antriannya, harap nunggu yang sabar ya," sambil kedipkan mata satu 'ting', hehehe, tidaklah mbanya cuma tersenyum doang.
"Sip," balas Astra singkat, memberi kunci kontak lalu menunggu di ruang tunggu.#Tmt.
Ibnu Nafisah
Kendari, 21 Februari 2016
Komentar
Posting Komentar