Langsung ke konten utama

KISAH GADIS BELIA PENJAJA KENIKMATAN DARI KALIJODO

KISAH GADIS BELIA PENJAJA KENIKMATAN DARI KALIJODO

   Inilah sekelumit kisah yang sangat mengharukan dari seorang gadis kecil di Kalijodo. Bocah yang harus menyambung nyawa di antara kejamnya kenyataan hidup dan nikmatnya surga dunia. Surga yang sebentar lagi akan menjadi neraka karena kabarnya kegiatan prostitusi di daerah itu akan segera direlokasi oleh pemerintah daerah setempat. Setidaknya itu yang terbaca dipikiran masyarakat tertentu di tempat itu.

   Di usia yang masih sangat muda, gadis ini harus menghidupi seorang ibu yang sakit-sakitan dan seorang adik yang masih balita. Sebut saja 'R', anak berusia dua belas tahun ini harus berjuang seorang diri. Tanpa bantuan dari siapa-siapa.

   Seperti hari-hari kemarin, hari ini setelah pulang sekolah R menjalani rutinitas yang tak biasa selayak anak seusianya. Baju merah tak berlengan tampak ketat di tubuhnya yang sudah nampak dewasa. Membuat buah dadanya nampak berisi dan kencang. Celana pendek itu pun semakin menggemaskan mata lelaki yang melihatnya. Terkesan montok bagai durian rontok, kenyal seperti pepaya mengkal.

   Bibir merah, ranum mencuat begitu polosnya. Tanpa pemerah buatan yang biasa dipakai oleh pekerja seks komersial di gang tempat tinggalnya. Rambutnya ikal menawan selalu menjuntai di sisi pipinya yang kemerah-merahan. Layaknya bunga hendak mekar di pagi hari.

   Dengan tubuh yang tinggi semampai serta cara jalan yang gemulai bak peragawati di catwalk, tak ada yang menyangka R hanyalah seorang bocah. Ditinggal mati sang bapak tanpa warisan sesen pun di kamar kontrakan seluas 3x7 meter, membuat R harus berjuang sekuat tenaga.

   Ditambah kondisi ibunya yang sering sakit sejak ditinggal sang suami tercinta.

   "Ibu saya sudah sering sakit dan hanya bisa beraktivitas di dalam kamar, membuat keripik pisang," aku R saat ditanya kondisi ibunya.

   Dan tentu seorang adik yang harus meminum susu kalengan, karena keringnya asi sang ibu. Tak ada pilihan hidup selain menjadi tulang punggung keluarga.

   Sore itu udara cerah, senja remang melukiskan warna-warni di langit Kalijodo. Ia memulai rutinitas yang mau tidak mau harus dilakukannya. Tak ada kata malu bahkan hina dibenaknya. Inilah jalan hidup yang harus dilaluinya. Meski perih hingga membuatnya dicap sebagai gadis jalang karena harus berkeliling di seputaran lokalisasi prostitusi yang menjadi buah bibir para lelaki kesepian. Tempat 'ngetem-nya' (baca: jasa cinta sesaat di Kalijodo) para lelaki hidung belang serta wanita penghibur bergaya kelas atas namun harga kelas bawah.

   Sepanjang jalan mulai dari gang tempat tinggalnya hingga ke ujung jalan lebar, kafe-kafe nampak menjamur. Wanita dewasa hingga gadis muda berpakaian seksi hilir mudik di depan bangunan-bangunan bercat terang. R dengan pembawaan bak gadis primadona memulai pekerjaannya. Kaki yang mulus putihnya menjejak di tanah penuh dosa dan onak. Senyum tipis penuh misteri terpasang di sana membuat kaum adam semakin terpesona dibuatnya.

   Sekali dua kali ia mulai berucap, "kripik pisang asin manis, penuh kenikmatan, ...!"

   Begitulah R menjajakan jualannya sore itu. Sebungkus kripik pisang hasil olahan ibunda tercinta. Baik para hidung belang maupun para pemuas nafsu adalah pelanggan tetapnya.

   Sebungkus kripik pisang dibandrol seharga Rp. 5.000,-, tentu harga itu sesuai dengan kenikmatan yang disuguhkan dalam tiap bungkusnya.

   "R, kok hari ini terlambat sih, dari tadi ditungguin loh," tanya seorang wanita yang berdandan menor, dengan parfum menyengat yang tiba-tiba berdiri di jendela kafenya.

   "Iya, kak, tadi sibuk bantu ibu mengurus adek, mau yang asin atau manis?" kata R sambil membuka jualannya.

   "Yang asin aja, neh kembaliannya ambil aja, simpan di meja tamu ya, soalnya sebentar lagi tamu kakak akan datang," si wanita itu kemudian kembali masuk ke bangunan bejat itu sembari menarik tali b*ha-nya yang mulai keluar di sudut lipatan pangkal tangannya.

   "Terima kasih kak," dengan cekatan R pun mengeluarkan beberapa bungkus sesuai pesanan dan kembali berkeliling kampung Kalijodo hingga petang tiba.

   Demikianlah kisah penjaja kenikmatan di Kalijodo. Semoga sore itu R bisa menjual habis dagangannya sehingga bisa mencukupi kebutuhan keluarganya.#Tmt.

Ibnu Nafisah
Kendari, 17 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...