Langsung ke konten utama

LELAKI MISTERIUS DI SALON SARINA

LELAKI MISTERIUS DI SALON SARINA

  Sore itu mendung menggantung seperti ribuan kelelawar keluar dari sarangnya. Berputar, bergulung, namun tak jua hendak menjatuhkan segenap air dari kelamnya.

   Sepeda motor tua yang setiap hari menemani untuk menjelajahi sudut kota hingga pelosok desa, kali ini gentar. Meski pengendaranya tampak berani menantang badai bahkan penjahat atau teroris sekalipun. Tapi tidak dengan roda dua itu. Bunyinya sudah kacau, batuk menahun yang tak kunjung sembuh, mungkin karena mesin tua di dalamnya sudah rapuh dan ringkih menjalani hidupnya. Sedikit genangan air di ujung jalan pasti mogok, sedikit asam urat dan kolesterol ala kendaraan peot.

   Kutepikan sang kuda besi itu tepat di depan salon Sarina. Bukannya mau cukur rambut, namun jika melihat badai awan dan angin yang gelisah di atas sana, sedikit merapikan brewok tipis ini sepertinya tidak masalah.

   Tanpa menunggu lama tubuh ini pun kuselipkan ke dalam salon melalui pintu kaca transparan.

   Suasana sepi. Kaca-kaca berjejer di depan meja kursi yang kosong dan sesosok lelaki misterius duduk gelisah di sana.

   Instingku mengatakan ini sungguh mencurigakan. Pengalaman sebagai mata-mata di Badan Intelejen Negara selama tujuh tahun tak pernah salah dalam menilai. Sekali liat, sekali itu pula tak akan meleset.  Sesuatu yang jahat telah terjadi di benak orang itu.

   Tak ingin membuat gerakan yang mencurigakan, hanya diam-diam melirik. Mempelajari tingkah laku pria berbaju gelap dengan tas hitam yang ia sandangkan di bahunya.

   Aku terus saja memandang wajah yang berada di depanku. Tak ada rasa takut di hati, ini sudah sering kulakukan. Ingat, tujuh tahun bergelut dengan terorisme membuat aku paham gelagat mereka. Semakin menunjukkan ketertarikan perhatian pada hal tertentu, mereka semakin menjauh secara perlahan.

   Tak sempat memotret atau bertindak yang macam-macam, tindakan pertama yang harus dilakukan adalah mengamati tersangka.

   Alis tebal, jenggot dan kumis tipis, mungkin tiga atau empat hari belum dicukur. Rambutnya gondrong dan ujung tepinya sudah mulai tak beraturan. Kalau tidak salah perkiraan mungkin saja baru dipangkas tiga atau empat bulanan yang lalu.

   Meski wajahnya berkulit putih namun beberapa tanda hitam nampak seperti mendung di dahinya. Apakah ia seorang alim? Muslim yang selalu menjaga salatnya? Berarti ia bukan teroris, karena seorang muslim yang benar tak akan menyakiti makhluk sekecil apapun di dunia ini. Itu teorinya. Setelah memperhatikan  dengan seksama aku yakin ia menyimpan sesuatu di benaknya, itu terkesan dari kerutan kuat yang terukir di sana.

   Mata tajam seperti elang. Warna cokelat tua hampir kelam, menyiratkan tatapan dalam dan gelap. Menghipnotis.

   Bibir yang merah segar, menyiratkan keremajaan yang terjaga. Layaknya kembang di pagi berembun. Mungkin saja ia tidak pernah menyentuh puntung rokok. Karena sebuah bibir yang sehat pasti terbebas dari bau dan warna gelap nikotin. Dan saat ia membuka mulut nampak gigi-gerigi yang amat putih cemerlang. Tak ada bekas karang gigi di sana.

   Untuk kesimpulan sementara ia berumur tiga puluh atau hampir mendekati tiga puluh empat tahun. Umur yang matang dengan kejahatan jalang, sangkaanku.

   Lama kelamaan ia pun memperhatikan. Matanya itu balik menyelidik, seperti mencium ketidakberesan di otak ini.

   Waduh gawat, si tersangka sepertinya curiga. Dari gelagatnya sebentar lagi ia akan melarikan diri. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus bertindak, bertindak, batinku terus memaki.

   Secara spontan, ketika berdiri ia pun ikut berdiri. Benar saja dia salah satu dari mereka yang selama ini kukejar, tidak salah lagi. Dia orangnya, tidak bisa lolos kali ini, pikiranku terus berkecamuk.

   Sesaat sebelum berhasil berlari menerjang tubuh lelaki itu, tiba-tiba, sebuah suara menghentikan gerakanku.

   "Mmm, ..., maaf Pak, apa tidak jadi cukur?" kata seorang wanita yang ternyata pemilik salon.

   "Cukur?" balasku agak kaku, sambil memegang rambut yang mulai tak beraturan.

   "Oh iya, Mba, tolong rambut panjang ini dipangkas cepak, sepertinya mulai mengganggu," kataku pada wanita itu, tanpa sedetik pun melihat padanya tapi pada lelaki itu.

   "Saya sudah pastikan dari tadi, sejak Anda bercermin di kursi itu. Pasti rambut panjang itu sudah tidak nyaman," sambil tersenyum wanita itu mengarahkan aku ke kursi dengan cermin di depannya. Dan sekali lagi, lelaki misterius itu balas menatapku, di sana, di dalam cermin.#Tmt.

Ibnu Nafisah
Kendari, 15 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...