Langsung ke konten utama

DRAMA INI HANYA ADA DI INDONESIA

DRAMA INI HANYA ADA DI INDONESIA

   Pagi, 06.45, telah selesai berkemas-kemas hendak ke kantor. Pakaian sudah rapi, tas laptop, sepatu, jaket, helm, semua pada tempat yang semestinya. Apel pagi 07.00, perjalanan memakan waktu sekitar lima belas menit, jadi menurut catatan kasar saya seharusnya tiba tepat waktu.

   Setelah semua sudah siap, jempol kanan sedetik lagi hendak memencet tombol star pada stir motor, alat komunikasi super canggih itupun berdering tak ingin ditunda hingga sampai di tempat tujuan.

   "Hallo Mas, ...."

   "Iya, mau nanya. Pulsa listrik yang kemarin belum sempat saya kirim!" Suara bass dari ujung telpon terdengar akrab, ia teman kantor sekaligus pebisnis pulsa listrik.

   Loh! Mau bertanya, kok beri info. Dasar orang Indonesia, eh oknum orang Indonesia, hehehe.

   "Enda papa Mas, kapan aja boleh," balas saya sehalus mungkin, agar tidak terbaca rasa kecewa di sana.

   "Saya kirim sekarang ya!?" Si mas-mas ini sepertinya pandai juga ambil hati pelanggannya, pikirku.

   "Silahkan Mas, saya tunggu!"

   "Iya, sebentar!" Hape dimatikan, suara si masnya sudah hilang dari alat komunikasi super duper canggih itu, menyisakan saya yang kebingungan.

   Loh! Ini dikirim SEKARANG atau SEBENTAR? Sebuah tanya yang akan hilang dengan hanya menyapu dada.

   Dalam pikiran, otomatis saya pasti terlambat. Perjalanan dari rumah ke kantor yang memakan waktu tempuh lima belas menit di tambah percakapan yang tidak masuk akal sepuluh menit menjadi dua puluh lima menit. Itu teorinya. Jadi seharusnya saya terlambat sekitar sepuluh menit. Tapi kenyataannya tiba di kantor 07.25, wah, ini yang disebut keadaan tak terduga. Jangan disangka macet, di Kendari bebas macet jam segitu. Bahkan di jam-jam sibuk sekalipun.

   Saya pastikan ini terjadi hanya di Indonesia, tepatnya Sulawesi Tenggara. Dan itu saya. Hahaha.

   Untung apel pagi belum dimulai. Loh kok bisa? Masalahnya semua pada mulur diulur seperti karet, apel pagi menjadi 07.30, Indonesia bangat kan?

   Saat apel pagi dipesan agar menghadiri acara di luar kantor setelah isya, tempat dan pakaian sudah jelas. Hal yang belum jelas hanya waktu. Setelah isya?

   Untuk menutupi kesalahan tadi pagi, terlambat lagi, saya berusaha disiplin. Pukul 19.15, sudah berada di acara. Shalat isya yang biasa dilaksanakan di mesjid dekat rumah, kini saya harus mencari mesjid dekat tempat acara digelar. Tepat setelah shalat isya langsung ke Tekape, hehehe, pinjam kata mas Parto.

   Seharusnya acara sudah dimulai tapi belum juga ada orang-orang kantor. Beberapa saat kemudian si masnya datang dengan santai.

   "Mas kok datangnya pada terlambat sih," saya sedikit mengeluh sambil lirik jam tangan yang kini menunjuk jam delapan lebih beberapa menit.

   "Lah, sapa bilang terlambat, ini kan pas," ih, si masnya tidak mau salah, "disampaikan setelah isya, kan?"

   "Iya benar," balas saya lemas

   "Nah, apa ini bukan jam setelah isya?" balas si mas berargumen.

   "...!?$&@2)#:-)9@!?" Kok saya jadi bego sendiri ya?

   Yah, benar juga sih, seharusnya saya datang pukul sembilan atau sepuluh saja, batinku sekali lagi mengeluh.

   "Lalu, pulsa listriknya apa kabarnya?" tanyaku kemudian.

   "Nah, itu dia. Saya lupa ei, ...." Balas si mas dengan senyum tanpa dosa.

   Akhirnya saya hanya bisa mengurut dada untuk yang kesekian kalinya. Memaksa untuk tersenyum, meski kadang pahit di hati.

   Welcome to Indonesia, Bro! Hehehe.

Ibnu Nafisah
Kendari, 15 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

msh yg dl

dan tibalah dpersimpangan antara rindu terkoyak jua mati rasa pdmu bila lampu menghijau pastikan tergilas waktu hilang nyawa djalanmu slamatkan aku dlm arus tak pasti apakah kembalikan waktu atw terhapus dlm sejarah (masih yg dulu, 16 feb 2012)

Kita dan (*)

Kini kita bersantai di bawah biduk bintang Senyummu menunjuk ke langit Sedang aku bersandar di batu beku Anganmu menerawang hingga batas cakrawala Aku masih merabaraba sandaran batu Telunjukmu menarinari di bintang terang Dan aku lagilagi mengeluh sandaran batu ini "Aku ingin terbang ke bintang" katamu saat itu "......" Aku terperanjat segores luka membujur di punggung Akupun heran sampai kini kita masih sj bersantai di bawah biduk bintang Dengan cahaya bintang di matamu serta keluhan malam yang takkan pernah pudar. (Kita dan *, 2 Maret 2014)

Hut brimob

Adakah brimob dhatimu? Saat sgala tugas terhampar-membentang Adakah brimob dhatimu? Saat sgala cacian brurai-bercecer Adakah brimob dhatimu? Dikala darah dan keringat adalah taruhannya Masih adakah brimob dihatimu? Jika nyawa hanyalah hal kecil buat bumi pertiwi Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? Adakah brimob dhatimu? YAA SLALU ADA...!!! (Dzikril Hakiim, HUT BRIMOB KE-67, 14 Nov 2012)