Langsung ke konten utama

MEMUASKAN NAFSU DENGAN CARA YANG HALAL

MEMUASKAN NAFSU DENGAN CARA YANG HALAL

   Terkadang hidup sendiri membuat kita selalu berpikiran yang tidak-tidak. Apalagi semakin kita mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa, godaan setan semakin menggiurkan. Namun kali ini saya akan membagi tips dan trik yang mujarab. Mengatasi nafsu setan yang selama ini menjelajahi otak kaum adam atau bahkan kaum hawa sekalipun. Tak perlu takut akan dosa karena ini tidak melanggar suatu aturan tertentu. Norma moral atau agama yang kini mulai dirongrong oleh perilaku menyimpang.

   Cara ini sudah lama saya terapkan dalam kehidupan saya, hingga kejadian yang memgenaskan menimpa rumah tangga kami. Saya ayah dari lima orang anak yang masih kecil-kecil, berumur dua puluh delapan tahun. Yah, umur yang masih sangat mudah untuk ditinggal istri, karena alasan nafsu saya yang besar. Alasan yang tak masuk akal bukan? Tapi menurut istri saya hal ini luar biasa. Bisa dikatakan maniak. Ia tidak tahan menghadapi kenyataan pahit itu dan memutuskan untuk angkat kaki dari rumah kami.

   Berwajah lebar, bermata bulat, hidung agak pesek, berambut cepak dengan perut yang menonjol keluar, tinggi 165 cm kotor, itu jika memakai sepatu dan berat 189 kg, membuat saya gampang dikenali.

   Dan mereka biasa memanggil "Ndut", meski nama saya adalah Tono Suhartono B., untuk yang satu ini guru sekolah saya dulu selalu tertawa jika mengabsen di kelas. Meski ia sudah mengenal serta tahu kepanjangan nama saya beliau sering bertanya dan kembali bertanya.

   "Tatang Manansang, Tini Suhartini, Tono Suhartono B., Tono Suhartono B?" kata beliau saat mengabsen di depan kelas.

   "Iya hadir, Bu!" kata saya polos

   "Tono, 'B' itu apa?" Selalu mereka bertanya seperti itu.

   "Buntono, bu!" Kataku singkat, namun senyum panjang beliau selalu terlukis di sana. Tak tahu apa yang aneh dari nama yang menurut saya itu sungguh puitis. Rimanya indah dan menawan, itu menurut saya.

   Tapi tidak untuk istri saya yang telah pergi itu. Nama saya sungguh menjijikkan. Dan tak pantas menjadi contoh bagi anak-anak kecil kami. Oleh karena itu, semua harta kekayaan saya berupa anak yang manis-manis itu, ia ambil alih dengan dalih agar penyakit saya ini tidak menular kepada mereka.

   Jadi, di sinilah saya sekarang. Berada di dalam tembok kamar sepi sendiri. Jika nafsu muda saya bergelora tidak terkendali tanpa ampun, maka inilah trik yang saya gunakan.

   Cara pertama yang saya lakukan adalah segera mencari kamar mandi yang memiliki pintu, bukan kain. Ingat pintu kayu atau penghalang yang bisa dikunci dari dalam. Karena jika pintu kain dan sebagainya yang gampang dikoyak oleh tangan jahil, tentu anda akan malu jika terlihat.

   Setelah itu basahi sekujur tubuh dengan air. Jangan lupa membuka baju dan celana karena anda tak ingin mengotori pakaian anda bukan? Kemudian ambil sabun, nah, inilah kuncinya, gunakan sabun itu dengan lembut pada tempat yang anda kehendaki. Usahakan dengan selembut mungkin. Lakukan semua itu berulang-ulang hingga anda puas.  Hingga kotoran  pada kulit anda hilang. Minimal lakukan ini 3x sehari. Pagi, sore, dan malam jika tubuh terasa perlu melakukannya.

   "Loh, itu 'kan cara mandi, semua orang melakukannya sehari-hari!" Kalimat itu akan keluar dari otak anda sekarang. Tapi ingat ini baru tahap proses belum sampai cara pemuas nafsu yang sebenarnya. Karena dengan mandi dan berpakaian rapi, mereka yang nantinya kita dekati tidak akan mengeluh bau, hingga menghilangkan nafsu yang sudah kita pupuk dari rumah.

   Di beberapa paragraf terakhir inilah akan dibahas trik jitu tersebut. Tapi, saya mohon jangan dilakukan ini di bulan Puasa, apa lagi di depan mata anak-anak anda. Saya sangat mohon dengan sangat, demi perkembangan jiwa anak-anak manis itu. Anda tidak ingin jadi contoh yang buruk bagi masa depan mereka bukan?

   Lakukanlah di tempat biasa orang memuaskan nafsu. Seperti kalimat "Buanglah sampah pada tempatnya", lakukanlah ini pula pada tempatnya. Semacam "jajan di luar," di tempat yang telah disediakan. Jika harus melakukan di bulan Puasa pastikan tempat itu tertutup dan aman dari pak Polisi Pamong Praja.

   Setelah semua telah siap. Inilah saatnya memuaskan nafsu bejat yang telah lama ditahan-tahan itu.

   Ingat, caranya cukup mudah, anda hanya cukup berkata, "Mas, bakso tenes lima mangkok, setelah itu pangsit lima mangkok lagi, dan dua bakso biasa dibungkus!"

   Begitulah cara saya memuaskan nafsu, terutama nafsu makan saya yang cukup membuat dompet terkena kanker (baca: Kantong Kering) sehingga istri saya tak tahan dengan ini semua pun lari entah kemana.#Tmt.

Ibnu Nafisah
Kendari, 20 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...