Langsung ke konten utama

GARA-GARA LGBT RUMAH TANGGAKU HANCUR

GARA-GARA LGBT RUMAH TANGGAKU HANCUR

   Aku seorang ibu rumah tangga yang tersakiti. Ditinggal oleh seorang suami, kekasih hati yang baik hati, awalnya. Ia pergi tanpa sempat berucap selamat tinggal meski itu melalui kerlingan matanya.

   Inilah kisahku, penuh duri tak ada yang peduli. Sebut saja namaku Melati, usia 30 tahun. Akan merintih di ujung matamu beberapa menit ke depan layaknya burung yang terluka, agar kau tahu betapa perihnya hati ini dicampakkan.

   Kisah ini berawal pada suatu malam panas di sudut sebuah kota yang telah lama ditinggal oleh peradaban negeri. Tempat itu terkesan kumuh dan tak terawat. Namun, masih jua berderet belasan kafe pinggir jalan. Di salah satunyalah kami bersua.

   Aku bekerja sebagai penari malam. Tema malam itu adalah broadway. Sejumlah penari bergoyang menampakkan bulu burung warna-warni di kepalanya. Serta puluhan permata tiruan berjejer di leher hingga ke dada, celana minim hanya menutup ala kadarnya. Dan kau pasti menerka akulah primadona malam itu.

   Musik dan kemeriahan ditambah alkohol serta obat-obatan terlarang sudah menjadi suatu hal yang halal. Seks? Itulah daya tariknya. Semua bermuara ke sana.

   "Melati, ya?" sapa seorang pengunjung ketika tarian heboh itu telah berakhir.

   Mataku menerpa sosok jantan nan gagah di antara lampu kelap-kelip. Meski temaram namun mataku telah terbiasa dengan suasana di sana. Dari sebuah meja bundar ia mengangkat botol b*r dan menyodorkan segelas buatku.
 
   "Iya, benar. Apa kita pernah kenalan?" kataku berpura-pura lugu, seraya menerima gelas undangannya, karena seingatku tiap malam ia duduk di meja yang sama dan selalu menatap dengan senyum yang memikat.

   Basa basi ala pergaulan malam pun terjadi. Awalnya hubungan itu hanya sekadar tamu nakal dengan seorang penari binal. Lama kelamaan bercinta. Jika itu disebut cinta. Rasa suka yang tidak ingin satu sama lain terpisahkan, setidaknya itu yang kurasa.

   Hingga suatu malam penuh nafsu, di ruang remang  bersemburat cahaya yang berhasil masuk hingga ke ranjang morat-marit, iya mulai membual, pikirku, awalnya.

   "Sayang, maukah kau menikah denganku?"

   "...," aku terdiam, menerka-nerka apakah obat-obatan itu telah bereaksi hingga ia mabuk berat.

   "Aku serius, aku tak ingin berbagi cinta dengan yang lain, dengan pelangganmu yang lain ...."

   "Hahaha, ..., jangan konyol kau, aku hanyalah kenikmatan sesaatmu, setelah teriakan beberapa kali di ranjang ini, kita sudah saling melupakan. Jika kau butuh bisa datang lagi di kamar berlampu merah berjendela kaktus."

   "Tidak. Besok akan kunikahi kau, ...."

   "Kita akan dihujat oleh keluargaku, keluargamu. Pekerjaan ini saja sudah membuat aku dicerca hingga hampir dikuliti."

   "Tidak. Akan kunikahi kau apapun resikonya," tegasnya.

   "Dengan segala kekurangan ini?"
   "Iya. Segalanya."

   Wah, rasa mabuk memang membuat orang lupa kesadaran, batinku.

   Keesokan harinya aku resmi menjadi istrinya dan ia suamiku. Meski itu hanya kami yang tahu. Orang lain mungkin berkata kami hanyalah pasangan "kumpul kebo laknat".

   Sudah sebulan itu terjadi dan sejak itu pula aku telah keluar dari kehidupan malam. Pekerjaan rumah adalah tanggung jawab seorang istri sedangkan ia bekerja diluaran.

   Awalnya tak ada curiga dan prasangka akan kepergiannya. Tentang anak yang tak bisa kuberikan itu lain hal. Tapi sebuah perselingkuhan yang bejat telah terjadi.

   Insting seorang istri tak bisa dibantah. Sebuah noda di kemeja, bau keringat bercampur parfum liar. Belaian yang tak lagi diberi. Itu saja sudah mengindikasikan sesuatu.

   Sudah beberapa malam ini ia tidak pulang. Walaupun pulang tapi sudah pagi. Kali ini ia tak pulang sama sekali.

   Di malam yang dingin bergerimis sedikit mengemis pada langit agar diberi kekuatan menerobos sesak ini. Kulangkahkan kaki di jalan becek, melewati kafe-kafe surga dunia. Seperti dulu, tapi kini aku tak lagi jadi primadona di sana. Tak ada make up tebal di wajah ataupun tawa genit terukir. Bahkan obat-obatan dan pergaulan kelamnya.

  Kali ini misi pribadi. Mencari sang suami tercinta di lembah dosa. Beberapa kafe telah terlewati dan akhirnya tibalah di tempat yang tak terduga.

   "Primooo, ...," teriakku dan orang yang berjalan keluar kafe itu berbalik dengan kesal.

   "Ah, kau rupanya, aku tak pulang malam ini!" kata suamiku sederhana namun menarik tangan seorang wanita bajingan, wanita jadi-jadian lainnya.

   "Jadi, kini kau bersama waria laknat itu!?" darah ini kini membuncah histeris.

   "Hahaha, "waria laknat" katamu? Kupikir kalian sama saja. Sama-sama laknat. Bercerminlah, jangan berpura-pura lagi."

   "Tapi kita sudah nikah, dan kau suamiku!"

   "Hahaha, ...," tawanya panjang dan tak terbendung, mungkin ia lagi mabuk.

   "Mana ada agama yang merestui pernikahan sejenis, sinting!!! Ingat aku hanya butuh pil-pil itu, kini kau tak bisa lagi memberinya. Dan sekarang, ada Mawar, ...." lanjutnya sambil memandang manis pada waria itu dan pergi begitu saja bersamanya. #Tmt.

Ibnu Nafisah
Kendari, 13 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...