Langsung ke konten utama

Sesuatu Yang Berhubungan Dengan Uang

Sudah jadi hal yang biasa jika pekerjaan kita selesai tepat waktu. Dan sdh hal yang biasa kalo di setiap kerjaan ada uang pelicin. Yaaa, mirip-mirip oli, biar mesin lancar jalannya.

Yang tidak biasa hal ini kini menjadi semacam keharusan. Sudah jadi budaya yang tak terbantahkan. Hukum adat suatu kantor. Jika tidak diberi pelicin jangan harap pekerjaan selesai, atau selesai tidak tepat waktu.

Sekarang dibagian mana yang salah dari sistem ini. Apakah pemberi atau penerima. Kita runut dari awal. Pertama; si calon pemberi karena telah dibantu sebagai tanda terima kasih, maka ia memberi salam tempel. Jelas ini sudah salah dari awal, kita garis bawahi membiasakan hal yang dianggap benar tapi salah (itu gratifikasi). Kedua, si calon penerima, karena sudah membantu merasa punya hak, maka ia terima dengan senang hati. Dan ini juga salah, karena tugasnya memang demikian, menciptakan harapan di sana. Sampai di sini kita lihat, sdh ada dua kesalahan.

Namun, kasus di atas layaknya hubungan di luar nikah. Meski salah tapi dilakukan "suka sama suka". Dan dari situ mereka selalu melakukannya. Menjadi hal biasa yang tak terikat norma etika maupun agama.

Gambaran yang lain. Si calon pemberi tidak ada niat buat gratifikasi, ini ciri2 pegawai ideal. Meski susah di jalani toh, tetap dilakoni. Si calon penerima tidak terima perlakuan tersebut. Alhasil terjadi pemaksaan. Baik secara verbal maupun fisik (paling jauh yaaa, paling juga ditumpuk jadi sampah). Nah, kalo kasus kedua ini seperti korban pemerkosaan, "suka tidak suka, mau tidak mau, enak tidak enak", dijabani pula.

Nah, sekarang kita berada di posisi paling tidak enak. Ketika terjadi kasus itu, kita tidak bisa melaporkannya atau melaporkan hanya menabrak tembok. Darah kita hanya menjadi uap di sana. Layaknya, korban pemerkosaan meminta tolong namun kita hanya seorang anak kecil yang tak punya daya buat menolong. Bisa-bisa jadi korban selanjutnya.

Dan mengapa saya harus membahas masalah ini, karena anak kecil di atas sudah besar sekarang. Sudah tahu salah dan benar. Halal atau haram. Ada aturannya atau tidak. Namun, tetap saja masih berada dalam lingkaran setan. Menjadi pihak pemberi atau penerima, jadi korban atau pelaku. Baik karena tuntutan pekerjaan maupun tuntutan atasan. Dan sekarang saya hanya bisa berkata "Tollllloooooooonnnnngggg...."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...