Langsung ke konten utama

REVOLUSI MENTAL?

Bagian mana yang perlu diubah dan bagian mana yang telah diubah? Apakah sistem atau tabiat orang perorangnya?

Orang Indonesia sangat pandai mengupgrade satu kata menjadi kata baru yang bisa diterima, tapi rasanya tetap sama. Seperti jika hari lebaran tiba, toples bermacam rupa dengan kue beragam bentuk dan warna, namun semuanya berjudul kue kering yang terbuat dari tepung dan mentega.

Di kantor-kantor banyak dielu-elukan isu revolusi mental. Dan tetap banyak pula penyimpangan yang terlihat. Meski tak mau disebut korupsi, namun tetap saja mengambil sesuatu yang bukan haknya atas nama ini dan itu.

Berurusan dengan birokrasi hari gini jangan kaget. Jika tak punya jaringan dan kantong yang tebal jangan harap urusan bisa beres tepat waktu. Cuma jadi bola tenis mantul dari meja ke meja dan akhirnya nambrak tembok.

Sepertinya kemajuan zaman telah berhasil mendidik orang-orang malas menjadi lebih pandai dan hidup nyaman. Jika malas masuk kantor atau terlambat karena antar anak-istri, cukup sms atau menelpon. Jika tidak menyukai sesuatu tinggal mengupload di media sosial hingga jadi berita utama.

Jika tiba di kantor dan malas kerja laptop kantor jadi alasan. Memasang wajah serius di depannya seperti sedang bekerja, nyatanya main game house atau facebookan dan chattingan. Pegawai online, serasa kerja benaran.

Lihat saja pendidikan kita diawal tahun ajaran. Nama "Ospek" tiap tahunnya berevolusi. Namanya berganti dari tahun ke tahun tapi tetap saja berasa sama. Ada korban baru seiring nama baru.

Para pengemis pun berevolusi dari pinggir jalan dan lampu merah kini sudah sudah mulai melebarkan sayap ke kantor dan rumah-rumah warga dengan menjual nama agama dengan pakaian lebih muslimah.

Hingga penjual pisang pun kini tak mau ketinggalan. Pisang goreng yang dulunya seribu atau dua ribu rupiah mendulang sukses dengan nama baru "Pisang Keju" dengan harga fantastis dua puluh lima ribu rupiah.

Apalagi kopi susu menjadi "Coffee Milk", teh menjadi "Hot Tea" atau bahkan nasi goreng menjadi "Fried Rice" dan sebagai dan sebagainya jika sudah berevolusi menjadi nama dengan berembel-embel berbahasa inggris pokoknya harus berhati-hati. Rasa sama tapi harga belum tentu.

Bahkan almamater sendiri pun berubah dari UNHALU menjadi UHO, semoga saja standarisasinya berubah menjadi lebih baik.

Dan yang paling miris ketika pencurian di lorong berevolusi. Kini tak ada lagi pencurian ayam (curyam), pencurian pakaian (curkai), pencurian panci (curpan) dan lain-lain. Pencuri sekarang gengsi buat nyuri hal-hal di atas. Mereka merasa lebih keren jika mencuri handphone (curphone), tablet (curtab), laptop (curtop), power bank (curbank), dan sebangsanya. Mungkin mereka pandai melihat pasar di jaman yang serba canggih.

Dan apa inti sebenarnya dari revolusi mental ini? Yang dapat saya tarik benang merahnya mungkin adalah perubahan. Ya, perubahan nama sesuatu tapi isinya tetap yang kemarin. Misalnya saja d4nosaurus menjadi Ibnu Nafisah, nama berubah tapi orang dan kelakuan tetap sama. Sama-sama suka menulis dan bicara tidak jelas!

Hehehe..

Ibnu Nafisah
Kendari, 23 Agustus 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...