Langsung ke konten utama

TRAGEDI BAMBANG

Suara handphone yang berdering beberapa detik membuyarkan konsentrasi pada layar monitor. Kulirik sejenak alat komunikasi di sana, nama "Sujoko" tertera di layar minta segera di angkat.
"Ya, hallo, waalaikum salam, iya napa Ko", sapaku pada teman selorong di ujung sana.
"Sudah dengar belum bro, Bambang masuk rumah sakit semalam", kata Joko
"Oh ya? Sakit apa emangnya, kemarin masih ada keliaran di lorong!"
"Iya, baru semalam masuk"
"Rs mana Ko, biar ntar saya jenguk"
"Coba cek Puskesmas Anawai, ruang perawatan"
"Sip, makasih infonya", balasku
".......", sambungan terputus.

                             ###

Istirahat makan siang kusempatkan datang di Puskesmas yang terdekat dari Kantor. Puskesmas Lepo-Lepo menyambutku di halamannya yang luas. Keadaan di sana sepi nan lenggang. Jika kita menatap langit hanya ada beberapa burung di sana dan bunyi daun kering yang jatuh. Senyap tiba-tiba mencekik. Apa karena hari ini adalah hari libur dan semua mau bebas dari rasa sakit. Merdeka dari sakit?. Entahlah.

Kaki ini menjejakkan dirinya pada lantai kusam. Kepala ini juga melongo kanan kiri, hanya kesuraman yang syarat hening. Badan ini juga menyusuri selasar panjang dan penuh bayang di tiap cekung dindingnya.

Kuhampiri perawat yang sedang bertugas di loket. Wajahnya tenang sedang mengawasi catatan kecil di meja rawat.

"Maaf mba pasien bernama Bambang, di kamar berapa ya?", tanyaku agak ragu
"Mmmm... Tuan Bambang...,", sambil melirik catatan dibundelnya, "Sudah keluar mas, tadi pagi"
"Loh! Sudah keluar?"
"Iya, Korban kecelakaan itukan?", tanya perawat dengan mata yang mengingatkan aku pada Cleopatra
"Kecelakaan?"
"Iya, ia di rujuk ke Rs Bahteramas, karena Tuan Bambang patah tulang, bagian kaki kirinya", jelas perawat itu, kini cetakan mata itu kian mengganggu saja.

Sekejap ruang kusam yang berbayang sepi itu berubah menjadi ruang hampa. Sesak. Aku butuh udara. Tanpa sadar, kaki-kaki cepat menggema di sepanjang selasar. Memburu matahari terik di luar gedung.

                       ###

Bahteramas. Gedung Rumah sakit itu berjarak sekitar satu kilometer dari Puskesmas awal.

Kumasuki gedung berlantai keramik putih itu bagai setan kelaparan. Menengok, clingak-clinguk, layaknya maling dadakan. Dalam kepala bergema kata "Perawat", cari perawat.

Sesampainya di loket, si perawat sedang santai.
"Maaf Mba, pasien atas nama Bambang, kamar berapa yaa..?"
"Korban kecelakaan yang masuk tadi pagi, Mas?", balas si perawat kalem.
"Iya, Mba"
"Sudah diambil oleh pihak keluarganya"
"Loh, kok sudah diambil apa tidak bisa dirawat di sini?", aku agak bingung penjelasan perawat yang kalem ini.
"Maaf Mas..., Beliau sudah meninggal....!"
"Meninggal? Maksudnya? Ah, jangan bercanda, ini Bambang yang kecelakaan itu kan?, yang hanya patah kaki doangkan?", tanyaku tak percaya.
"Iya betul...", wajah kalem itupun buatku jengkel, muak..

Bagai berenang di ruang angkasa. Kali ini nafasku benar-benar surut. Kaki dan lutut kompak gemetaran. Serasa mual tak jelas.

Tak ingin berlama-lama dengan perawat yang sok kalem itu, serta perasaan yang berjuta rasanya. Kali ini hatiku sungguh hancur, hari yang ganas. Panas.

Sepanjang perjalanan teringat segala kebersamaan bersamanya. Sungguh tragis hidupmu sobat, tak ada dendam ataupun benci padanya kini, meski, setiap saat bertemu selalu saja berantam. Tapi kali ini, hatiku bagai teriris silet. Dan air mata tak hentinya berlinang.

                         ###

Sesampainya di rumah Bambang, situasinya terasa sepi. Tak ada orang ramai atau tenda dan bendera putih yang menggantung di depan rumah.

Tanpa mengetok pintu badan ini langsung menghambur ke dalam. Di ruang tv terdengar suara orang sedang bermain game.

"Loh, Joko sedang apa kamu di sini? Mana Bambang, Bambang...betul sudah meninggal? Kemana semua orang?", banyak pertanyaan yang kulontarkan hanya membuat Joko terpaku menatap diriku yang datang tiba-tiba.

"Meninggal? Bambang? Hussst, Bambang masih hidup keles, baru juga mencret-mencret, kok sudah mau mati, edan!", penjelasan Joko membuatku tambah bingung.

"Trus, yang masuk ke Puskesmas sapa?"
"Bambang!", jawab Joko lantang
"Yang kecelakaan?
"Tauuuu....!", balas Joko cuek
"Tadi yang kamu telpon?"
"Saya-nelpon-kamu-buat-jenguk-Bambang-di-Puskesmas-Anawai!", Joko secara pelan mendiktekan kata-katanya padaku
"Puskesmas Anawai? Anawai? A-n-a-w-a-i?", tanyaku seperti kaset rusak.
"Iya emang, trus kamu kemana aja Bro?"
Sambil garuk-garuk kepala dengan sedikit senyum masam dijawab pula, "Puskesmas Lepo-Lepo!!"
"Hahaha"

Dan secara ringkas dan padat kuceritakan pengalaman pahit itu kepada Joko, dan kita pun tertawa terbahak, atas kekonyolanku.

Sejenak hilang sudah sedih di dada yang ada hanya kelegaan. Dan dalam benakku merenung, ini tragedi yang menggemaskan sekaligus melegakan. Dasar Bambang, selalunya bikin orang gusar. Huh!

Ibnu Nafisah
19 agt 2015

Komentar