Banyak kata yang berterbangan seiring hari kemerdekaan RI ke-70, terdengar ironis-miris. Terkadang menyayat, mengiris sembilu, hingga tak kuasa menahan desak-sesak.
Kata-kata itu bagai anak panah, kecil tapi runcing-gemerincing di rasa. Mengusik nestapa jauh dari asa masa depan.
Namun kemerdekaan bagaimanakah sebenarnya tercoreng di kepalamu yang besarnya hanya beberapa centimeter itu.
Apakah kemerdekaan menurut suami yang sering dijajah oleh istri mudahnya. Apakah sama kemerdekaan yang dituntut oleh anak-anaknya yang diberlakukan jam malam.
Kemerdekaan apa pula yang telah dirancang oleh para pemimpin kita. Hingga sebagian besar harta kekayaan negara dijajah oleh mereka yang lebih cerdik.
Yaa, kalian benar kita baru merdeka sepersekian persen yang ditandai dengan proklamasi. Dan selebihnya kita hidup dalam jajahan Orang-orang tertentu di negara ini.
Anak-anak terlantar di pinggir jalan, segala jenis gepeng, janda-janda tua, kaum papa dan sebagainya yang sampai kini masih saja di jajah oleh negaranya sendiri. Terlebih jika diketahui bahwa sebagian pejabat negara memakai uang negara bukan buat mereka, tapi demi gundik, mobil serta rumah mewah pribadi.
Sebagian pembangunan berjalan tidak seimbang. Sabang sampai merauke masih saja berjejer pulau-pulau tak jelas arah pembangunan. Ganti kepala pemerintahan maka ganti pula rencana pembangunan. Mereka berlomba mencatat nama peninggalan di setiap akhir masa jabatan dan kita sebagai rakyat ditinggal dengan puing-puing keegoisan mereka.
Lalu sampai kapan kita harus terus terjajah dan tidak berbuat sesuatu untuk diri sendiri dan lingkungan? Sampai kapan kita harus bersedih seperti gadis kecil ditinggal pacar yang tak bertanggung jawab? Apakah sampai datangnya seorang superhero dari salah satu tokoh X-Man, atau apakah kita hanya menunggu dalam decak gerutuan yang tak berarti? Hingga suatu saat Choky Sitohang datang menghampiri, lalu berkata "Ladies tentukan pilihanmu", dan kau pun hanya tersenyum manyun, lalu bergaya bah Syahrini,"Maju-mundur cantik, cantik..."
Kita memang merdeka rekan-rekan, sekaligus terjajah. Kita merdeka, karena kita negara berdaulat dan kita terjajah karena kita masih belum mandiri, masih tergantung. Namun, bukan itu masalahnya. Masalah adalah seberapa luas pemahaman kemerdekaan di otak kita yang kecil.
Seorang tahanan politik akan terus merasa merdeka, meski bibir dan raganya terpenjara. Terkurung dari zaman yang berkembang. Jauh dari sanak saudara. Melarat secara badaniah tapi tidak secara akali. Pikirannya tetap hidup selama nyawa masih bersamanya.
Jangan pernah katakan kita belum merdeka. Kita sudah cukup merdeka, sekarang saatnya kita menunjukkan aksi dan reaksi. Beri respon positif pada rekan kerja, beri semangat bagi mereka yang menganggur, dorong semangat anak-anak kita yang baru mengenal dunia, semangati istri kita saat masa susah. Beri masukan pada tetangga yang merasa lelah pada hidup. Beri bantuan seperlunya bagi yang kesusahan. Kumpulkan energi positif sebanyak-banyaknya, agar hidup lebih bahagia.
Kita memang butuh kritik dan menyanggah mereka yang di atas sana agar tidak keluar jalur. Tapi ingat, KITA BUKAN PROVOKATOR, kita adalah harta sesungguhnya dari negara ini. Penggerak sekaligus penyampai lidah kemerdekaan ke anak cucu kita nantinya.
Dan sekarang apakah ada goresan kemerdekaan di kepalamu yang besarnya hanya beberapa sentimeter itu. Jika belum bisa tercatat di sana, mungkin kau salah satu dari mereka yang menunggu superhero dan Choky Sitohang.
Merdeka!
Komentar
Posting Komentar