Langsung ke konten utama

ISTRI YANG TAK MAU DIMADU

"Ma, coba tebak. Gimana cara mengetahui madu itu asli atau palsu?" tanya pak Kus, suatu hari pada istrinya.

   "Hahaha...," sekejap saja tawa istrinya bergema.

   Pak Kus yang kini heran sendiri, terus bertanya-tanya dalam pikirannya. Apakah istrinya sudah sinting atau memang pertanyaannya yang salah?
 
   "Loh, kok Mama tertawa ?"

   "Kamu tu Pa, pertanyaan ini sudah pernah Mama dengar," si mama kembali tertawa, "hahaha...," lalu ia lanjutkan kalimatnya di sela tawa yang tak ingin terhenti, "kalo mau membuktikan asli atau palsu bawa aja kemari," jawab mama.

   "Mama tau membedakannya?"

   "Itu mah, keciiil," sambil menjentikan jari kelingking dan jempolnya di ujung hidung suaminya.

   "Jawabnya gampang, kalo Papa bawa kemari dan Mama marah-marah, itu berarti asli. Tapi, kalo Mama cuma diam-diam saja itu palsu, hahaha...," kata istri pak Kus lalu menyambung tertawanya yang sempat tertunda.

   Pak Kus hanya geleng-geleng kepala dan senyum saja mendengar penjelasan istrinya yang 'ngaco'.

   "Wah, Ma, tu' kan madu yang lain, hahaha," komentar si papa, menepuk jidatnya seraya keheranan sekaligus merasa lucu.

   Ternyata Bu Kus pernah membaca lelucon ini di media Bbm yang dibroadcast di handphonenya.

                            ***
   Di hari yang sama seorang perempuan super bahenol mengetuk pintu rumah. Dengan keheranan Istri Pak Kus membukakan pintu.

   Pakaian super seksi wanita itu memang menjadi perhatian tersendiri bagi kaum hawa yang melihatnya, apalagi kaum adam.

   Ketika itu sang kepala keluarga itu melihat dan langsung menyambut kedatangan tamunya dengan riang gembira.

   "Ma, ini loh madu Papa yang mau diceritakan itu," kata papa tanpa basa-basi.

   "Ini? Madu Papa?," si mama bertanya dengan mata berkaca-kaca.

   "Iya," kata suaminya tegas, "perkenalkan namanya Maris!"

   Wanita yang datang itu langsung menyodorkan tangannya ke arah mama. Tapi mama hanya diam seribu bahasa. Seakan kilat menyambar di siang hari saat itu juga.

   Dan detik berikutnya si mama langsung teriak, histeris, "Paaaa, ceraikan Mama sekarang juga, Mama tidak sudi dimadu," mama seketika berlari ke kamar dengan air mata yang tak habisnya mengurai.

   Wanita itu heran. Pak Kus jadi bingung. Mereka saling pandang penuh tanya. Sementara itu mama sudah keluar lagi dengan koper penuh pakaian.

   "Pa, Mama sudah putuskan untuk pergi. Sekarang terserah Papa, mau pilih saya atau Si Maris bahenol itu," kata istri pak Kus sambil menunjuk wanita tersebut.

   "Hahahahaha," kali ini Pak Kus yang tertawa jungkir balik di lantai. Akhirnya si suami sadar apa yang barusan saja terjadi pada istrinya.

   Dan mama terpaku heran, "Jadi Mama kiranya Si Maris itu wanita ini ya? Dia ini karyawati Papa di kantor, bagian marketing. Dia ini memang harus berpenampilan begini, biar pelanggan tertarik. Itu trik pemasaran. Yang namanya Maris, ya, ini," sambil memberi mama sebuah bungkusan plastik yang dibawa wanita itu.

   Mama membukanya dan sebuah botol berpita merah menyeruak. 'MARIS (Madu Asli Rasa Manis).'

   "Hahahahaha," mama tergelak gila-gilaan, begitu pula wanita bahenol tersebut.

   "Berarti ini madu asli, benar-benar asli, seratus persen asli. Karena Mama sudah marahnya minta ampun," goda Pak Kus pada si mama.

   Yang digoda pun hanya malu sendiri, mengingat kejadian yang baru terjadi.

Ibnu Nafisah
Kendari, 20 September 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#21

Dalam lelap tidurku, Engkau seharusnya mampu menidurkanku sepanjang hidupku, tapi itu tak Kau lakukan Dalam jalan ku berkendara, Kau mampu saja mencabut nyawaku, tapi itupun tak Kau lakukan Atau sebilah pisau tibatiba melayang menghujam jantungku Ataw bahkan sebuah peluru bersarang tepat di kepala yang selama ini mencariMu, namun semuanya tak Kau lakukan Mungkin belum waktunya, lalu kau beri aku k esempatan hidup buat menemukanMu di suatu tempat di labirin jiwaku Hingga suatu saat nanti, jika aku terpanggil kembali di sisiMu Aku kembali di rumpun bambuMu dengan lagu seruling indah yang biasa ku dengar entah dimana atau kapan aku tak tahu Mungkin saja saat kita masih bersama sebelum Kau tiupkan aku dalam seruling bambu yang tak berlubang ini. Inipun kutulis dalam lagu yang tak biasa Saat aku ingin menemukanMu Namun aku dipenuhi sayap keraguan tentang mereka yang meragukanMu Dalam keraguan itu kucoba menghentakkan dinding di antara kita agar mereka tak buta sertiku namun jug...