SEORANG BAYI
"Bayiiiii, bayiiiii,..!!!"
Teriak Banu di tengah malam buta. Malam yang hening tiba-tiba ramai oleh suaranya yang kacau. Dalam posisi setengah duduk Banu bersikeras menunjuk ke lantai. Membangunkan Enya dari tidurnya yang pulas. Dalam suasana panik dan remang itu Enya berusaha menguasai situasi.
Di ruang kamar 3x5 meter rumah BTN itu Enya berjibaku seorang diri melawan kepanikan suami yang telah dinikahinya dua bulan lalu. Perkawinan mereka pun tanpa proses pacaran, putus, nyambung seperti drama Korea yang penuh haru biru atau penuh trik dan intrik layaknya sinetron Indonesia. Mereka nikah atas dasar agama, ta'aruf. Yah, mereka dipertemukan, oleh Allah melalui kakak Enya yang saling kenal-mengenal dengan si Banu yang ternyata duda beranak satu.
Enya sebelumnya tidak tahu menahu perihal lelaki yang kini histeris di sampingnya, hingga ditanggal 15 Juli hampir dua bulan yang lalu mereka resmi jadi suami-istri. Tapi tetap saja lelaki yang ia kenal belum genap delapan pekan masih sangat asing baginya apa lagi mengenal sifat dan pribadinya secara pasti. Ia hanya tahu bahwa BTN tempat mereka tinggali saat ini masih kredit dan belum lunas sekitar enam atau tujuh tahun lagi, selebihnya Ia hanya dapat menebak-nebak apa yang terjadi sekarang ini.
Menurut Enya, Banu merupakan lelaki pertama dan akan jadi terakhir dalam hidupnya yang akan mengisi sisa hidupnya jika beruntung sampai aki-aki dan nini-nini.
Keputusan nikah untuk sebagian wanita di jaman sekarang ini menurut Enya masih menjadi urutan kesekian dari perioritas hidup mereka. Enya berpikir, wanita jaman sekarang terlalu mementingkan karir sehingga masalah berumah tangga bahkan memiliki seorang anak menjadi tabu buat mereka. Di usianya yang ke- 24 tahun ini Enya sudah berani memutuskan untuk menikah dengan seorang lelaki yang berusia lebih tua 12 tahun di atasnya. Ditambah memiliki seorang buah hati, meski anak itu telah bersama ibunya sejak lahir.
Semuanya diserahkan kepada Allah melalui salat istikharah beberapa kali di beberapa malam yang berbeda sebelum memutuskan pilihannya. Yah, Enya hanya wanita lemah tak mampu menentukan pilihan yang paling penting dalam hidupnya sekalipun, jadi ia menyerahkan segalanya kepada yang maha kuasa. Lalu malam ini akhirnya datang tanpa ia duga sama sekali.
Banu berteriak histeris antara sadar dan tak sadarnya mengancungkan telunjuknya ke satu arah. Lantai kamar.
Di lantai berwarna putih itu hanya ada hape hitam milik Banu yang seingatnya telah di charge sebelum Banu naik ke atas tempat tidur. Kini hape itu menjadi sasaran puncak histeria Banu.
Ada apa sebenarnya dengan Banu, apakah Enya telah menikah dengan seorang lelaki hingga saking anehnya ditinggal oleh anak dan istrinya? Atau Banu memiliki penyakit tertentu hingga istri pertama yang ia nikahi tidak tahan padanya. Atau apakah saat ini ia kangen pada anaknya yang semata wayang itu? Banyak pertanyaan di kepala Enya namun tak satupun dapat ia jawab saat itu juga.
"Abi, Abiiii, itu bukan bayi," kata Enya setengah teriak di dekat suaminya yang masih kebingungan di atas ranjang berseperai biru tua itu.
"Ituuu .., bayi, bayiiiii!!!"
Banu masih saja histeris ketakutan entah apa yang ada dibenaknya. Seakan-akan bayi itu ada di hadapannya dan membuatnya tampak seperti anak lima tahun yang takut akan kecoak. Membuat Enya sang istri semakin ketakutan.
"Abiiii, sadar, tidak ada bayi di rumah ini!"
Akhirnya Enya ikut teriak seraya menyadarkan Banu, tapi Banu masih keukeh pada pendiriannya dan menunjuk lantai keramik putih dengan sebutan bayi.
"Ayo digendong, itu bayiiiii..,!" Tunjuk Banu penuh histeria.
"Tidak ada apa-apa di sana!" Balas Enya hampir sama histerianya.
Malam telah lama larut, tapi subuh belum lagi tiba. Mungkin beberapa orang penghuni kompleks BTN saat itu ada yang juga ikut terbangun namun rasa segan untuk ikut nimbrung dalam acara malam buta seperti itu. Salah satu alasannya mereka hanya memberi privasi kepada kedua pengantin baru itu. Selama belum ada yang berusaha teriak minta tolong mereka pikir hal lain adalah perkara yang wajar. Semua pernah muda dan mereka sangat maklum itu. Apalagi di kompleks BTN yang hanya berjarak beberapa meter segala hal dapat didengar dan dirasakan oleh tetangga terdekat.
Untuk menyakinkan Banu bahwa tak ada bayi di lantai kamar Enya dengan cekatan langsung berdiri dan turun dari ranjang mencari-cari saklar di dinding dekat pintu kamar. Lalu semua nampak jelas saat lampu menyala. Tak ada bayi sesuai perkiraannya yang ada hanya hape hitam yang sedang di charge.
"Liat, tak ada bayi'kan," balas Enya antusias sambil menunjuk ke arah lantai dan hape yang terus menatapnya beku sedingin kenyataan pahit bahwa ia harus meyakinkan seseorang dan itu adalah suaminya sendiri untuk sadar bahwa ia hanya berkhayal tentang bayi.
"Tapi itu bayi sayaaang, ayo diangkaaat!" Masih saja Banu pada pendapatnya tentang bayi atau khayalan tentang bayi meski lampu telah terang benderang seperti siang hari di musim kemarau.
"Sadar Abi, itu hanya hape yang berbunyi, itu nada dering, ingat'kan kemarin sudah mengganti nada deringnya. Suara itu suara bayi yang sedang tertawa, coba liat lagi hapenya," kali ini Enya sadar mungkin suaminya kaget ada suara bayi jadi tiba-tiba berkhayal ada bayi yang sedang terbaring di lantai.
"Coba Abi liat ini," tambah Enya pada suaminya sambil memberi hape yang masih berdering dan tiba-tiba seketika itu pula nada deringnya berhenti di tangannya.
Saat mata Enya beralih dari hape ke suaminya yang berada di atas ranjang seketika itu pula sang suami tertidur di sana, bagai bayi ia mendengkur ringan tanpa beban. Ia tak tahu harus kesal atau mau tertawa karena kejadian tersebut. Hingga ia memutuskan tidur kembali meski sudah susah untuk kembali tertidur seperti suaminya yang dengan gampangnya terlelap.
***
Hingga keesokan paginya, Enya dengan santai bertanya tentang apa yang terjadi semalam tapi dibalas dengan wajah tanda tanya pada wajah suaminya.
"Bayi apaan? Umi ngingau ya semalam," kata Banu bingung balik bertanya pada sang istri.
"Abi itu yang ngingau tentang bayi, hahahaha," Enya tak ingin kalah
"Emang sudah ingin punya ya, cie-cie, yang pingin punya bayi, hahahaha..!" Dibalas tertawa pula sama sang suami
Akhirnya pagi itu dilewati dengan saling nyindir yang tak saling ketemu. Seorang yang menyindir karena istrinya sudah kepingin punya bayi dan seorang lain menertawakan suaminya yang tidak tahu apa-apa setelah kejadian semalam, semuanya pada senang dan saling menertawakan. Cie-cie. Hahahaha.
***
23 November 2018
D_
Komentar
Posting Komentar