Langsung ke konten utama

LELAKI TUA

Dunia yang fana ini ternyata juga sarat makna akan sandiwara. Menampakkan sesuatu tidak sesuai dengan apa yang terlihat. Tidak seindah bayangan akan pepohonan berbunga di pinggir jalan. Bahkan kadang tidak sekelam lautan berpalung dalam.

Apakah kita bisa menebak larinya takdir, ataukah nasib berujung maut atau bahagia? Segalanya bisa saja terjadi dan selalu jadi misteri pada masing-masing pribadi.

Lahir, hidup, dewasa, bekerja, hingga beranak-pinak dan menjadi tua? Tidak mesti selalu begitu. Tapi yah, itu bisa saja terjadi.

Tapi, apakah pernah terpikirkan segalanya ini berasal dari tindakan dari masa lalu? Hingga segalanya berakhir kadang dengan penyesalan tiada akhir?

Di bulan Maret yang bermusim tak menentu seakan menggambarkan kesan tersebut. Langit berawan pada pagi dan siang hari, ketika hendak beranjak menuju senja, daun-daun Mahoni begitu saja basah. Hujan telah mengguyur daerah Tipulu, Kendari Barat. Angin-air bersetubuh di atas aspal, batang-batang pohon, juga cerita di dalamnya.

Di ujung jalan yang masih basah oleh hujan. Mobil-mobil bergegas menembus jarak. Waktu seakan momok yang datang menghantui penghuni jalan besar di Sultan Hasanuddin.

Seperti musim yang aneh, ketika azan pertama jatuh di langit barat, hujan mulai redah. Ketika hujan di azan pertama, langit mulai gelap. Dan ketika di langit barat hujan, azan mulai berkumandang. Dari pinggir jalan nampak seorang tua bergegas menuju ke satu arah. Menekuri titian pedestarian dengan pepohonan lebat di antaranya.

Begitu cakrawala mulai menghitam, lampu-lampu jalan berpendar menguning. Cahaya begitu khas membentuk bayang-bayang pada genangan air yang mulai mengering. Sebuah gerobak martabak yang tak nampak di siang hari kini bagai sulap berdiri dengan tenda birunya. Seperti membaca situasi alam. Bahwa kehidupan selalu dimulai saat lampu-lampu malam bersinar.

Di sanalah lelaki tua berbadan jangkung membelokkan langkahnya. Tepat di depan gerobak dengan penjual yang selalu tersenyum dan melambaikan tangan kepadanya. Dari sana pula suara azan semakin santer terdengar. Mesjid At-Taqwa berdiri  sekitar lima puluh meter dari gerbangnya. Seakan membuka tangan kepada penjual dengan gerobaknya dan lelaki tua dengan kisahnya.

Tak banyak yang tahu bahwa tangisan kadang bukan saja berbentuk air mata. Kadang doa yang panjang dengan sungguh-sungguh akan penyesalan kadang terasa pilu menghantam lorong-lorong jiwa. Begitulah tangis seorang lelaki. Tanpa air mata di pipi dan suara tangisan meraung. Di mesjid itulah sang lelaki tua merebahkan kepalanya yang mulai licin oleh umur.

Tiada sekalipun ia melewatkan waktu salat. Begitu tabah ia menunggu. Berjalan di tepi jalan, hingga sampai ke sana. Di tempat ia pantas untuk menangis.

"Seperti biasa Pak?" tegur penjual martabak dari balik gerobak yang bertuliskan 'Martabak, Terang Bulan, dan Tahu Isi,' dari kaca tembus pandangnya. Ketika itu sang lelaki tua telah selesai dengan kewajibannya di dalam gerbang. Dengan tertatih-tatih berjalan mendekati kursi kayu berwarna cokelat.

Setengah badan gerobak memang telah menutupi gerbang mesjid. Namun itu bukan masalah buat pelanggan dan jamaah, hal itu sudah jadi maklum. Tak ada yang membantah atau melarang hal tersebut. Suasana sepi dengan hanya diramaikan oleh mobil angkutan, membuat daerah itu bagai daerah tertinggal. Tapi, semua orang tahu bahwa kota telah lama bergeser ke arah Mandonga hingga wilayah Wua-Wua. Dan itu terjadi bertahun-tahun kemarin.

Dalam suasana demikianlah pak tua mengatakan, "Yah, seperti biasa," sambil merasakan nyamannya kursi kayu yang berderak.

"Apakah ada sebuah cerita seperti malam kemarin, Pak Tua? Mungkin ini bisa jadi hadiah bagi cucu Anda di rumah," ucap si penjual sambil mengangkat adonan martabak spesial di depan wajahnya.

"Sebuah cerita demi sebungkus martabak? Oh, baiklah jika itu sepadan menurutmu. Ini bukan cerita biasa ini sebuah kisah," pak tua mulai menarik lengan kanannya yang mulai kaku ke pangkuannya. Tanpa bertanya pun si penjual seakan tahu itu sebuah penyakit. Sebuah penyakit yang banyak menyerang orang-orang yang digeluti stres parah, mereka kadang menyebutnya sebagai 'Stroke.' Tapi ini termasuk stroke ringan, pikirnya.

"Kisah ini bermula ketika seorang pemuda sepertimu menyadari bahwa hidup ini tidak adil," ucap pak tua memulai malam dengan kisahnya.

"Jadi, tokoh kita saat ini seorang pemuda?" tanya sang penjual yang sedang mengocok telur bebek di loyang besi, bunyinya seakan menenggelamkan suara mesin mobil di jalanan itu.

"Bisa jadi begitu, tapi kita lanjutkan sejenak cerita ini," sedikit jeda menampakkan senyuman berkerut di kedua ujung mata pak tua.

"Ketika sang ayah yang sangat ia sayangi berkata, 'Kau tidak boleh menikahi wanita itu!,' maka sang pemuda berpikir tentang akhir segalanya. Seakan dunia beserta isinya tidak memihaknya saat itu. Dan gunung es tiba-tiba jatuh di kepalanya yang muda."

"Ada apa dengan wanita itu, hingga sang Ayah begitu saja melarang anaknya?" kata sang penjual sambil menuangkan potongan daun bawang dan cincangan daging ke dalam adonan, si penjual semakin tertarik pada cerita tersebut nampaknya.

"Ceritanya sangat panjang," kata pak tua dengan senyum sepekat langit malam, "Dan akhirnya pemuda yang hilang akal itu pun pergi dengan wanita yang diinginkannya. Tanpa pernah tahu alasan Ayahnya."

"Pemuda yang keras kepala rupanya," seru si penjual dari balik wajan panasnya.

"Apakah kau masih ingat cerita seorang lelaki lain yang sama keras kepalanya dengan itu?" tiba-tiba pak tua balik bertanya sambil mengingat-ingat kisah lama itu.

Lawan bicaranya yang masih sibuk bergulat dengan adonan di wajan hanya tersenyum dan menggeleng penuh.

"Baiklah inilah kisahnya," kata pak tua sambil menerawang ke langit jauh. Matanya sayup menerobos ruang dan waktu. Pikirannya melintasi bintang yang timbul tenggelam di antara awan. Tapi, ia hanya membisu.

***

Kisah pak tua.

"Tidak, kamu tidak boleh menikahi Alisa!"

Katanya pada Praka. Meski tidak menampar dengan telapak tangan, tapi itu cukup memukul keras jiwanya yang mudah terluka.

Apa yang harus ia katakan padanya, anak lelakinya itu. Alasan sudah tersimpan rapat-rapat dan tak mungkin diungkap terang-terangan lagi.

Mengatakan bahwa bapaknya dulu adalah seorang brengsek? Seorang pemuda nakal? Itu tidak mungkin. Meski itu benar, tak ingin gambaran itu terekam di jiwanya yang muda. Ia masih lagi harus kuliah. Setelah itu melanjutkan karya bapaknya yang kini berjalan tanpa nahkoda yang pasti. Setelah itu, barulah mengejar seorang wanita. Tapi bukan Alisa. Lelaki itu tahu pasti alasannya.

Di umurnya enam puluhan seperti sekarang, segala penyakit datang meminta jatah. Rambut sudah memutih. Setengah badan itu kini sudah kaku.

"Pak Praja, Anda terkena stroke ringan. Sebagian tubuh kanan Anda agak terasa kaku dan bahkan mati rasa. Jika dibiarkan bisa-bisa Bapak tidak bisa menggerakkan saraf sensorik, dan itu bisa lumpuh total. Bahkan. Bisa berakibat fatal. Jadi hindari stress berlebihan!"

Begitulah pendapat dokter kala itu. Dan beginilah keadaannya saat ini. Hampir tak bisa lagi menahan amarah karena tragedi itu.

Ketika itu pekerjaannya sebagai seorang kontraktor di perusahaan pribadi memaksanya untuk terus berkeliling daerah mencari rekan bisnis yang bonafit. Tak jarang meninggalkan anak dan istri di rumah.

Segala kehidupan kelam telah ia rasakan. Mulai dari narkoba, meski sebagai ajang coba-coba dan gaya hidup, hingga masalah perempuan. Yah, yang satu ini mungkin hobi terselubung.

Berawal dari sekadar mengisi waktu di sebuah kota yang ramai namun terasa sepi. Kala itu malam di Makassar terasa lain dari biasanya. Berkat dikenalkan oleh seorang temannya, malam terasa begitu panjang dan menyenangkan. Awalnya hal itu hanya sekadar iseng belaka. Tapi kini sudah jadi sebuah kebiasaan. Apakah ini juga disebut cinta? Ia sendiri pun bingung untuk memaknainya.

Mira namanya. Seorang gadis penghibur. Wajahnya biasa saja. Memang bukan itu yang ia jual. Sekali memakai pakaian ketat dan parfum semerbak, sekali itu lelaki berbadan tegap itu pun jatuh dipelukannya. Dan tak bisa terbangun lagi.

Seperti biasa ketika berada di kota benteng Rotterdam, pagi hari ia terbangun dalam keadaan pusing. Ia mencoba merentangkan lengannya di atas ranjang, mencari-cari sebentuk tubuh telanjang lainnya di sana. Namun tidak ada.

"Bang. Bang Praja, sudah bangun?"

Sebuah tanya membuatnya membalikkan tubuh ke arah sumber suara. Mungkin wanita itu telah lama di sana. Dari duduknya yang aneh di kursi, hanya memakai piyama mandi. Sekilas dia begitu mempesona meski hanya menampakkan sebagian celah di dada. Hampir saja sang Don Juan itu kembali mengulang puncak berahi seperti semalam. Namun, sebuah benda berwarna putih di tangan sang wanita membuatnya menahan gejolak itu.

"I-itu? Apa?"

Bisik lelaki berbahu lebar itu hampir tak terdengar. Dan wajah wanitanya kini semakin murung. Memegang sebentuk benda berbentuk polpen pipih.

"Aku hamil, Bang!"

"Dasar jalang!" umpat lelaki dewasa itu "Kaupikir aku terlalu bodoh untuk semua permainan ini? Menurutmu aku lelaki yang bisa kaujebak?"

Dan wanita itu hanya menangis, mungkin saja ia berkata benar. Karena sudah lima bulan ini ia tak lagi menerima pelanggan. Dan lelaki itulah pelanggan tetapnya. Tapi siapa yang bisa percaya wanita semacam itu.

Saat itu juga si lelaki dengan wajah sangar  meninggalkan​ wanitanya dalam kepedihan. Tentu dengan seikat uang Soekarno-Hatta dan sebuah kalimat pendek, "Gugurkan!"

Itu sudah lima belas tahun yang lalu. Dan kini lelaki yang sama terbangun lagi di kamar yang hampir sama dengan kota yang sama, namun kali ini dengan wanita muda yang berbeda. Tubuh belianya akan membuat semua lelaki akan terpanah dibuatnya. Apa ada kata yang lebih seksi dari kata 'seksi'? Jika ada kata itulah yang pantas buat wanitanya kali ini.

Namun pagi itu ia terbangun dalam keadaan tertegun, ketika sebuah foto menatapnya tersenyum manis di atas sebuah lemari. Semalam foto itu belum nampak karena temaram atau mungkin ganasnya berahi di kamar itu, pikirnya.

"Alisa, siapa foto di lemari itu," katanya saat tubuh putih wanita muda itu muncul dengan hanya berbalut handuk keluar dari kamar mandi.

"Oh, itu," sahutnya sambil mengeringkan rambutnya di depan cermin lemari. "Itu ibuku, anak-anak sini memanggilnya 'Mami Mira'," katanya santai.

Seketika dada lelaki itu sesak beberapa saat di sudut ranjang.

***

"Pak, Pak Tua," sang penjual memanggil dengan sebuah bungkusan di tangan, "Pak Tua, bangun!" katanya lagi.

Tampak dari jauh pak tua seakan tertidur. Tidur yang sangat nyenyak di atas kursi kayu. Kursi yang juga sama letihnya dengan pak tua, di tiap malamnya.

"Pak Tua, bangun ceritanya belum lagi dimulai," kata penjual martabak sambil memegang bahu rapuh yang kini semakin menua. Dan seketika jasad tua itu jatuh tersungkur di atas tanah.

"Aah, Pak Tua!" pekik sang penjual martabak. Seketika angin malam begitu menggigil ia rasakan.

Tamat.

IBNU NAFISAH
Kendari, 15 April 2017




Komentar

Postingan populer dari blog ini

#15

Aku mendengar alunan lagu seruling bambu Suaranya merdupilu Ingatan akan kampung halaman serasa nyata Namun tak tergapai Sangat dekat ditelinga namun tak terasa Begitu bergetar didada namun hampa belaka Oo siapakah gerangan Dikau Yang bagai angin surgawi bermain dalam alunan jiwa Yang datang dan pergi menisik alunan indahnya Nadanada merdu itu kini bangkitkan cintaku Kadang resah tak beralasan Jua rindu yang tak terbendung Oo siapakah gerangan Dikau Kurasa Engkau pemilik Cinta dalam merdunya alunan lagu Memanggilku kembali ke rimba CintaNya Namun kita takkan bersama dalam dunia yang berbeda Karena aku hanyalah seruling bambu Yang kan selalu mencari dalam diriku alunan merdu cintaMu Dalam tiaptiap bait sabdaMu (#15, 09 April 2014)

#19

Jika Rumi mengatakan "Kita hanyalah seruling bambu yang bercerai dari rumpunNya" Maka aku berkata" aku hanyalah sebilah bambu yang tak berlubang" Yang tak berbunyi saat angin melaluinya Yang meski mendengar lagu namun tak mampu menari ke khadiratNya, walau itu nyanyian surgawi Tak mampu memainkan melodi indahNya, meski penciptaNya menulisnya dengan tinta emas Namun jika aku sebilah bambu yang ingin kembali ke rumpunNya, yah itulah aku meski kadang menari dan bernyanyi cuman dalam pikiran melalui selentingan gerakan sahaja agar bisa kembali kerumpun amalannNya. (#19, 17 April 2014)

Kebersihan Sebagian Dari Iman?

Hari lebaran telah tiba, semua bersuka cita menyambutnya. Ketika matahari belum benar-benar naik di langit ketika itu umat muslim memadati daerah yang telah ditentukan untuk melaksanakan shalat ied. Jalan-jalan lenggang, hanya dipadati pejalan kaki dan sesekali mobil dan motor pribadi. Saf-Saf dibuat ditempat tertentu, di sekitar mesjid, tanah lapang bahkan Jalan-jalan protokol yang dikhususkan sebagai tempat salat. Saf-Saf tersebut seketika saja merubah wajah jalan atau tanah lapang menjadi garis garis sejajar menghadap mimbar dadakan yang tiba-tiba berdiri secara ajaib sudah ada sejak malam atau subuh hari di hari yang fitri ini. Kaki-kaki penuh kebahagiaan pun berjalan menuju Saf-Saf yang bermimbar ajaib, mengisi deretan panjang yang telah disediakan. Ketika mentari mulai bersinar terang salat pun berlalu di akhiri khotbah dari para pengkhotbah yang entah berapa lembar kertas yang telah disediakan guna mengisi acara sesi terakhir dari salat ied tersebut. Dan matahari yang mula...